My Arrogant Boss

My Arrogant Boss
Terbiasa



Hari berganti menjadi minggu. Minggu berganti menjadi bulan. Kini tidak terasa sudah satu bulan Sila bekerja menjadi asisten pribadi Rama.


Suka duka dia lewati dengan penuh kekesalan dan kesengsaraan batin. Namun kini dia sudah terbiasa. Apalagi hari ini dia melihat ada sms banking yang memperlihatkan angka yang tak pernah bisa dia dapatkan dalam 1 bulan.


"Ya Allah ini banyak banget, ini sih bisa bayar uang kuliah Dimas 1 semester" Sila tersenyum bersyukur atas apa yang sudah dibahasnya.


Segera dia mengirim uang kepada ibunya lalu menelponnya.


ibu : Halo sayang, apa kabar?


Sila: Alhamdulillah sehat bu. Ibu sama Dimas apa kabar?


ibu : Kami baik baik saja, bagaimana dengan pekerjaan kamu nak? Apakah kamu betah?


Sila: Iya sila betah kok bu (betah apanya punya bos tiap hari kerjaannya ngomel melulu).


ibu : Syukur lah kalau begitu


Sila : bu tadi Sila udah transfer uang ke rekening ibu. dicek ya bu


ibu: Oh ya? Kamu sudah gajian nak? Sebentar ibu cek


Sila : Iya bu


ibu: Ya Allah nak, banyak sekali yang kamu kirim? Ibu kan juga ada gaji bulanan dari perusahaan alm Ayah.


Sila: Nggak apa-apa bu, gaji disini memang gede bu. Gaji alm ayah ibu simpen aja.


ibu : Sebaiknya kamu pakai juga untuk keperluanmu nak.


Sila: Sila udah nyisihin buat keperluan Sila kok bu, uang itu ibu pakai buat kuliah Dimas dan keperluan ibu disana ya.


ibu: Alhamdulillah terima kasih nak.


sila: Iya bu, udah dulu ya bu Sila mau lanjut kerja dulu, ibu dan Dimas jaga kesehatan ya. salam buat Dimas assalamualaikum.


ibu: Iya sayang, waalaikumsalam


Sila tersenyum senang. Tapi senyum itu lenyap seketika saat Rama meneriakinya dari dalam ruangannya. Sila langsung bergegas kesana.


"Permisi pak ada yang bisa saya bantu?" kata Sila


Sila tidak heran dengan permintaan Rama


karena masih banyak hal yang tidak masuk akal yang sering Rama perintahkan.


"Bagaimana kalau kita main tebak tebakan pak" kata Sila.


"Apa??? Kamu bercanda???" tanya Rama.


"Tidak pak, ayolah siapa tau kesalnya bisa hilang" kata Sila.


"Baik, karena saya tidak ada jadwal. Ayo mulai" kata Rama


"Sekarang jawab gimana cara masukin gajah ke dalem kulkas?" tanya Sila.


"Apa kamu bodoh?? Atau tidak pernah sekolah?? Atau tidak pernah ke kebun binatang?? Atau kamu tidak punya kulkas??" Rama mulai mengomel.


"Ya.....Tunggu? Apa? Kok saya yang dikatain pak? Udah Bapak jawab aja" kata Sila sambil mengutuk Rama dalam hati.


"Hmmmm kamu harus membuat kulkas yang sangat besar agar gajah bisa masuk" jawab Rama.


"Salah pak ayo coba lagi" kata Sila.


"Berani sekali kamu bilang saya salah, kamu mau saya potong gajimu?" ancam Rama.


"Tapi kan memang salah Pak" kata Sila mulai memperkecil volume suaranya.


"Apa jawabannya?" tanya Rama.


"Caranya bapak harus memfoto gajah kemudian di fotonya dimasukin didalem kulkas" kata Sila.


"Jawaban macam apa itu? Kamu sama sekali tidak membantu. keluar sana" bentak Rama.


"Iya pak permisi" kata Sila tersenyum walau hatiya masih sangat kesal.


Sila keluar meninggalkan Rama. Rama tersenyum.


Sila Sila kamu sangat menghiburku. Bukan tebakanmu tapi tanggapanmu kepadaku membuatku merasa terhibur. Apalagi dengan ekspresimu yang lucu. Aku tidak akan melepaskan kamu. Aku sudah nyaman denganmu sebagai asistenku. Aku sudah terbiasa denganmu.