
dirumah sila
"duh anak dan menantu ibu sudah datang? pasti kalian capek ya" kata ibu sila menggoda
mereka berdua tampak gugup
"ibu sama dimas pamit ya sayang, kamu baik baik disini ya" kata ibu sambil memeluk sila
"iya ibu, sila pasti bakal rindu banget sama ibu" kata sila
"rama, tolong jaga sila ya," pinta ibu
rama mengangguk
lalu ibu melambaikan tangan saat supir pribadi dirumah rama menjemputnya
sila melambaikan tangan
wajahnya tampak sedih
lalu mereka masuk kedalam rumah
rama segera pergi taman belakang untuk bersantai
masih ada satu hari lagi sebelum dia dan sila kembali bekerja
"kue mas" sila menghampiri rama yang tengah duduk membawakan kue dan jus
"mulai minggu depan kita pindah rumah" kata rama
"kerumah oma kan mas" tanya sila
"tidak, aku sudah mempersiapkan rumah jauh jauh hari. kita akan tinggal disana berdua saja tanpa oma" kata rama
"tapi kenapa mas?" sila tampak kecewa
"apa kamu mau kabar pernikahan ini tersebar?"
sila menggelengkan kepalanya
benar juga kalau kami tinggal dirumah oma atau disini pasti tetangga akan curiga
belum lagi kalau teman teman mas rama dateng
gumam sila
"apa oma setuju mas?" tanya sila
"awalnya tidak, tapi setelah ku beri pengertian akhirnya oma setuju" kata rama
"tapi kita akan sering sering berkunjung ke rumah oma kan mas?" tanya sila
"kamu ini cerewet sekali ya kalau mengenai oma" kata rama
"aku hanya khawatir mas kalau oma sendirian disana" kata sila
sebenernya gue juga khawatir tinggal berdua aja ama lo
rama menikmati kue
"enak, beli dimana?" tanya rama
"oh itu bikinan ibu mas, ibu dulu pernah punya toko kue" kata sila
"oh ya? kenapa tidak lanjut sampai sekarang. ini enak lo" kata rama masih menikmati kue itu
"sudah dijual mas" kata sila tersenyum
rama menatap sila lalu melanjutkan makanannya
"biasa aja mas" kata sila
rama menatapnya lalu
"apa maksud kamu biasa saja" tanya rama lagi
"ya biasa aja mas, gimana ngejelasinnya" kata sila
"wah kamu mancing aku supaya marah ya" rama menyeringai senyum nakalnya terpancar membuat sila ngeri
"mas, apaan sih. dikit dikit marah. terus kalo marah sasarannya aksi mesum mas. gak capek?" sila melipat tangannya didada
rama terpelongo dengan tindakan sila
"kamu mulai berani ya" rama sedikit melotot
"ke...kenapa aku harus takut. mas itu kan sudah jadi suamiku. harusnya sikapnya lembut dong jangan dikit dikit marah" wajah sila tampak kesal
"apa begini caramu memperlakukan suamimu" kata rama mulai mendekatkan bangku nya ke silaa
"mas mau apa?" sila kaget
"kenapa apa kamu takut?" tanya rama
"aku akan laporkan hal ini sama oma ya. aku aduin kalo mas suka marah marah sama aku. biar kena jewer" ancam sila
rama terbelalak mendengar ucapan sila
"kamu seperti anak kecil ya suka mengadu"
"biarain, aku mau telpon oma sekarang" kata sila langsung berjalan cepat masuk kerumah
rama mengejarnya dan sila pun berlari sambil berteriak
"mas kamu ngapain ngejer aku" napasnya tersengal sengal saat rama mengejarnya
mau tidak mau sila terpaksa mengitari sofa agar tidak tertangkap rama
"mas, udah dong" kata sila mulai capek
"sini kamu, berani kamu mengadu ya" rama masih mengejarnya
mereka seperti anak kecil yang yang sedang kejar kejaran
sila yang sudah tidak sanggup pun menyerah saat rama menangkapnya
brukkkkk....
tubuh mereka terjatuh diatas sofa berpelukan karena rama masih memegangnya
"hhh...hhhhh... ampun mas, aku nyerah" kata sila
rama cekikikan
"hahahahhah, kah...muh mana bisa meh...nang meh...lawan akuh hhh...hhhh" nafas rama tidak beraturan
ternyata dia kelelahan juga
mereka kemudian tertawa bersama mengingat sifat kekanak kanakan mereka
lalu keduanya tertidur di sofa yang lebar itu sangking lelahnya
hai gaess
jangan lupa mampir di novel pertamaku yang berjudul "tak pernah berhenti mencintaimu" 🙏🙏😊