
Sepulang dari jalan jalan, mereka langsung istirahat.
Sepertinya Rama masih kesal dengan kejadian tadi sehingga dia terus marah marah kepada semua orang.
"Bagaimana sih kamu, masa bikin makanan saja tidak ada enaknya begini" Bentak Rama yang tengah makan kue di meja.
Pembantunya tampak diam saja
Sila datang.
"Mas" Sapa Sila
"Apaaaa!!!!" Bentak Rama
Air muka Sila berubah bahkan dia hampir menangis, sejak menjadi istri Rama baru kali ini dia di bentak Rama lagi.
"Oh maaf sayang, aku tidak tau kalau itu kamu" Kata Rama
"Ya sudah" Kata Sila mencoba meredam tangisnya
"Kamu kenapa sih Mas kok marah marah aja sejak kejadian tadi siang.
"Aku masih kesal dengan si Bandi itu" Kata Rama
"Udah lah sayang, lupain aja" Kata Sila
"Kamu sih terlalu baik sama orang" Gerutu Rama
"Bukan gitu mas udah ah jangan marah melulu" Kata Sila
"Ryan mana sayang?" Tanya Rama
"Udah tidur mas" Kata Sila
"Yaudah kita tidur juga yuk" Ajak Rama
"Kok buru buru banget sih mas kan ini masih jam 9 malem" Kata Sila
"Biar besok tidak kesiangan" Rama menarik tangan Sila menuju kamar
Sesampainya dikamar, Rama menutup pintu dan menguncinya.
"Yaudah ayo tidur Mas" Ajak Sila yang kini sudah tergeletak di atas ranjang.
Rama naik ke atas ranjang dan mendekatinya.
"Kamu mau ngapain Mas?" Tanya Sila
"Kalo habis marah bawaannya kok mau terus ya sayang" Rama terseyum nakal
"Ih kamu apaan sih Mas, kan tadi pagi udah" Jawab Sila
"Aku mau lagi, entah kenapa habis kamu melahirkan kok kamu semakin cantik dan menggoda" Rama merangkak ke atas tubuh Sila
"Mesum sama istri sendiri apa salahnya?" Rama mencium pipi Sila.
Dia menatap Sila lekat lalu perlahan mencium bibir istrinya itu.
Semakin lama semakin panas dan penuh gairah.
Nafas yang memburu terdengar dari keduanya.
Malam yang panjang penuh cinta pun terjadi.
Keesokan paginya,
"Mas, bangun mas" Sila membangunkan Rama
"Mmmmmhhh aku masih mengantuk sayang" Kata Rama
"Kamu jangan gitu dong, nggak malu di liatin Ryan nih. Liat tuh Ryan Papa kamu masih ileran. ih jorok banget ya ilernya kemana mana, sampe bantalnya banyak pulaunya tuh" Sila berbicara kepada Ryan yang berada dalam gendongannya.
Ryan hanya tertawa sambil mencoba mencakar wajah Sila
"Kamu kenapa sih kok suka banger nyakar orang, perasaan waktu hamil Mama nggak makan ceker ayam deh" Kata Sila menatap Ryan gemas
Rama yang mendengarnya langsung tertawa dan segera bangkit dari tidurnya.
"Ryan sini sama Papa" Rama mencoba mengambil Ryan tapi Sila menghindar
"Nggak boleh, kamu harus mandi dulu mas iler kamu banyak banget. Plis deh kalo ileran jangan nular nularin gitu. Mandi sana" Sila mendorong tubuh Rama sampai kamar mandi.
Rama menutup pintu dan segera mandi.
Sila membawa Ryan kebawah dan menyuapinya sarapan.
Tak lama kemudian Rama turun ke bawah dan ikut makan bersama mereka.
"Sayang, nanti aku pulang telat ya soalnya mau meeting" Kata Rama
"Meeting sama siapa Mas?" Tanya Sila sambil menyendokkan nasi dan lauk pauk ke piring Rama
"Sama Jeni" Kata Rama
"Hah? Jeni yang ganjen, centil dan selalu godain kamu itu mas?" Tanya Sila
"Ha? Ya gitu deh" Kata Rama
"Yaudah, tapi sepanjang meeting aku mau kamu sambil teleponan sama aku biar aku tau kamu sama si ganjen itu ngomong apa aja" Kata Sila
"Ha? Ya yaudah sayang, aku akan telepon kamu sepanjang aku meeting sama dia" Kata Rama. Dia lebih baik mengalah daripada masalahnya jadi panjang
"Bagus" Sila tersenyum puas