My Arrogant Boss

My Arrogant Boss
Berubah



Waktu terus berlalu. Kini sudah 3 bulan sejak Sila bekerja menjadi asisten Rama. Setiap hari selalu saja ada pertengkaran kecil diantara keduanya. Sebabnya hanya 1


yaitu Rama. Rama selalu saja membuat Sila kesal.


Seperti pagi ini.


"Sila, pergi ke pentry dan buatkan saya nasi goreng" perintah Rama.


"Apa? Kenapa saya pak?" kata Sila.


"Karena saya menyuruhmu" jawab Rama.


"Tapi saya kan sudah rapi begini kenapa harus memasak, nanti badan saya bau bawang pak" Sila mencoba menolak.


"Baiklah, saya akan pergi dan memasak disana" kata Rama.


"Eh apa? Tunggu pak. Bapak tidak bisa melakukan itu. Biarkan OB aja yang masakin" rayu Sila.


"Baiklah, saya akan pergi kesana sekarang" Rama melangkah lalu Sila menarik tangannya.


Sejenak pandangan mereka beradu.


"Saya yang akan memasak. Bapak tunggu disini" kata Sila pasrah. Dia melangkah menuju dapur.


Dasar bos arogan, ngerjain gue hari ini lo


awas aja lo.


Sementara Rama tersenyum puas.


****


Didapur. Para OB melihat Sila. Mereka heran melihat Sila memasak. Sila diam saja dalam hatinya terasa sangat kesal sekali.


Setelah selesai dia menuju ruangan Rama dan menyerahkan hasil masakannya.


"Ini pak silahkan dimakan" kata Sila dengan wajah sedikit ditekuk.


"Apa kamu marah karena saya suruh memasak" tanya Rama.


"Tidak pak, saya hanya tidak suka badan saya jadi bau asem" kata Sila.


"Pulang, lalu ganti bajumu dan kembali kesini 1 jam lagi" kata Rama.


"Apa? Saya tidak mau pak, jarak rumah saya membutuhkan waktu setengah jam belum lagi nanti macet" kata Sila.


"Jadi apa kamu tetap mempermasalahkan bau badanmu?" tanya Rama.


"Tidak pak" Sila kalah telak dia hanya diam.


"Sekarang pergilah, kamu hanya membuang waktu saya" kata Rama.


Sila mengumpat didalam hati.


ribuan sumpah serapah sudah memenuhi isi kepalanya. Dia keluar dengan wajah semakin ditekuk.


"Hai sila" kata Toni menyapa.


"Halo pak, selamat pagi" sapa Sila lagi.


"Kamu kenapa kok cemberut?" tanya Toni.


"Ah tidak apa apa pak, saya masuk dulu" kata Sila yang berlalu meninggalkan Toni.


30 menit kemudian rama masuk keruangan Sila.


Sila terkejut dan langsung berdiri.


"Ayo ikut saya" kata Rama.


"Kemana pak, jadwal meeting kan masih ada 1jam setengah lagi" kata Sila.


"Ikut atau saya harus menggendong kamu" ancam Rama.


Sila langsung menghampiri Rama lalu mereka pergi dengan mobil Rama. Kali ini Rama yang menyetir dengan alasan takut mobilnya mogok kalau Sila yang menyetir.


"Kita mau kemana pak?" tanya Sila lagi.


"Akan lebih bagus kalau kamu diam" kata Rama masih fokus pada jalan.


Sila pasrah. Mobil yang mereka kendarai berhenti disebuah salon yang cukup besar.


"Turun" kata Rama.


Sila turun tanpa bertanya apapun. Rama menarik tangannya agar ikut masuk kedalam.


Didalam.


Sila terpana melihat kemegahan salon itu, bahkan dia melihat beberapa artis sedang melakukan perawatan.


Seseorang menghampiri mereka.


"Ada yang bisa saya bantu pak Rama?" kata salah satu pekerja.


"Buat gadis ini pantas disebut sebagai wanita. Berikan baju yang cocok untuknya dan dandani dia. Saya akan kembali dalam 1 jam dan semua harus beres" kata Rama membuat Sila kesal.


Pekerja salon itu pun membawa Sila dan mencoba satu persatu dres yang ada disana


akhirnya Sila memilih memakai dres yang tertutup berwarna gold. Sangat cocok untuk kulitnya yang putih.


Lalu pekerja itu membawanya untuk perawatan wajah dan rambut. Cukup lama akhirnya selesai dalam waktu satu jam kurang


Rama pun tiba. Pekerja tadi membawa Sila ke hadapan Rama


"Bagaimana pak?" kata pekerja itu.


Rama terdiam. Dia menatap Sila yang terlihat sangat cantik dengan balutan dres selutut berwarna gold. Rambutnya terurai panjang dengan gaya masa kekinian. Make up nya masih tipis tapi sangat cantik untuknya.


"Maaf ya pak, Mbak Sila tidak mau pakai make up tebal. Ini bill nya pak" kata pekerja itu.


"Iya tidak apa apa. Ini biaya perawatannya dan ini tip untuk kamu" kata Rama menyerahkan uang kepada pekerja itu. Pekerja itu sangat senang


Rama dan sila pergi


Di dalam mobil saat perjalanan menuju tempat meeting.


"Kenapa kamu tidak menggunakan softlense?" tanya Rama.


"Untuk apa pak? Mata saya baik baik saja. Ini hanya kacamata biasa" kata Sila.


"Buka" kata Rama.


"Tapi saya sudah terbiasa memakainya pak" kata Sila.


"Buka atau saya yang akan membukanya" ancam Rama.


Sila membuka kacamatanya. Terlihat lah kecantikannya yang sangat alami itu. Rama sesekali melirik dan tersenyum.


"Mulai besok jangan pernah pakai kacamata kecuali saat kamu berada didepan monitor. Kalau kamu tetap memakainya akan saya patahkan dan akan saya beli seluruh toko kacamata di negara ini dan saya tidak akan menjualnya kepadamu" kata Rama.


"Iya pak" sila pasrah.


Dasar bos nyebeliiiiiiiiiin.