My Arrogant Boss

My Arrogant Boss
Terpaksa



Ditaman belakang rumah Rama.


"Pak, bagaimana ini kenapa jadi begini?" kata Sila kesal.


"Hei kamu juga ikut andil dalam keputusan oma" Rama tak mau kalah.


"Bagaimana ini, pantas saja ibuku selalu mendesak supaya aku menikah, ah dasar bodoh kenapa aku tidak sadar" Sila mengusap wajahnya.


"Sudah lah, mengutuki kenyataan yang ada padamu tidak akan menyelesaikan masalah." kata Rama yang langsung mendapat tatapan kesal dari Sila.


"Kenapa? Kamu yang bilang kalau dirimu bodoh. Aku hanya memperjelas saja" kata Rama santai.


Sila menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan.


"Ya sudah, kita turuti saja kata Oma" kata Rama. Sila menatap Rama tajam.


"Kenapa? Apa kamu punya solusi lain?" tanya Rama.


"Oke, tapi ada syaratnya pak" kata Sila.


"Sepertinya sekarang kamu jadi orang yang suka memanfaatkan keadaan" kata Rama sinis.


"Bapak mau atau tidak" kata Sila.


"Aku juga punya syarat" kata Rama.


"Baiklah, masing masing punya 2 syarat" kata Sila.


Rama mengangguk.


"Pertama, saya mau setelah menikah, Bapak jangan menyentuh saya. Yang kedua jangan sesuka hati menyuruh saya saat berada dikantor" kata Sila.


"Hei, kamu bukan seleraku" kata Rama.


"Lalu apa syarat dari Bapak" tanya Sila.


"Pertama, jangan gunakan bahasa formal diluar kantor termasuk panggilan. Kamu harus memanggilku Mas. Kedua jangan buat aku marah" kata Rama.


Sila menatap Rama.


"Kenapa? Apa kamu mau syarat yang lain" kata Sila.


"Tidak pak, maksud Saya Mas. Eh maksduku Mas" kata Sila gugup.


Mereka pun kembali ke dalam.


"Oma, Sila pamit pulang ya Oma cepat sembuh" Sila memeluk oma.


"Hati-hati ya sayang, soal Ibumu nanti Oma saja yang bilang dan mengatur kedatangannya nanti" kata Oma.


Sila mengangguk.


"Antarkan calon cucu menantuku ini dengan selamat" kata oma.


****


Diperjalanan.


"Kenapa kamu diam saja?" tanya Rama.


"Ini seperti mimpi Mas, aku tidak menyangka akan menikah dengan orang galak" kata Sila


namun seketika dia mendelik setelah sadar apa yang baru saja dikatakannya.


"Maaf Mas Aku..."


"Oh jadi kamu beranggapan aku galak?" kata Rama. Nada suaranya pelan namun penuh tekanan membuat Sila merinding.


"Aku hanya bicara fakta Mas, Mas memang galak dan suka mengaturku seenaknya" kata Sila cepla ceplos.


Mati deh gue. Ini mulut ember banget sih. Sila memukul mulutnya sendiri perlahan berulang- ulang.


"Apa kamu sudah bosan hidup? Kamu orang pertama yang mengatakan hal seperti itu kepadaku" kata Rama datar.


"Kalau begitu Mas juga orang pertama yang aku katai seperti itu"


Aduh gue jadi makin gilak


"Kamu benar benar orang yang tidak bisa membalikkan keadaan. Kamu malah menyiram bensin di atas bara api" Rama menghentikan mobilnya.


"mMs kok berenti" kata Sila.


"Kenapa? Apa kamu takut aku berbuat hal aneh padamu?" tanya Rama.


Muncul niatnya untuk menakut nakuti Sila.


"Lihat lah ini jalan sepi. Hanya ada kamu dan aku. Menurutmu apa yang bisa aku lakukan padamu sekarang" Rama menatap Sila dengan tatapan menggoda.


"M....Mas ayo pulang" kata Sila mulai takut.


Rama menarik tangan Sila hingga wajah Sila kini hanya berada 5 cm dari wajahnya. Sila mulai pucat.


Mati gue dia mau ngapain? Nafas gue bau gak ya? Aaaaa gue belum siap.


Rama mencengkram dagu Sila.


"Sekali lagi Kamu bilang Saya galak, Kamu akan Saya hukum lebih dari ini" kata Rama.


"Tapi mas sudah berjanji" kata Sila.


"Aku sudah bilang jangan membuat aku marah. Jika kamu melanggar 1 syaratku maka Aku berhak melanggar 1 syaratmu" kata Rama lalu melepaskan dagu Sila.


Sila menghela nafas panjang. Tanpa berkata lagi rama melajukan mobilnya menuju rumah Sila. Sila hanya diam. Dia tidak mau membuat Rama marah lagi.