
Sore itu Sila sedang asyik menonton acara tv
lalu tiba tiba rama menelpon.
"Halo pak, ada yang bisa saya bantu" Kata Sila.
"Ke rumah saya sekarang" Kata Rama lalu mematikan teleponnya.
Tanpa menunggu lagi Sila langsung ganti baju dan melaju dengan mobilnya kerumah Rama.
Dia beberapa kali mengantar Rama kerumahnya namun tidak pernah masuk kedalam.
Ah ada apa lagi ini.
Sesampainya dirumah Rama, Sila langsung memencet bel lalu seorang pelayan membukakan pintu.
"Silakan masuk mbak, Tuan sudah menunggu" Kata pelayan itu penuh hormat.
Sila tersenyum kemudian masuk.
Di ruang tamu terlihat Rama sedang duduk sambil memainkan hp nya.
Rama terlihat sangat tampan meski memakai pakaian rumahan.
"Duduk" Kata Rama tanpa menoleh kearah Sila.
Sila duduk lalu diam menunggu Rama bicara.
Rama masih memainkan ponselnya.
Ini orang gak jelas banget sih manggil gue tapi gue malah dikacangin begini.
10 menit rama tidak bicara
Sila memberanikan diri.
"Pak ada ap......" Belum sempat Sila menyelesaikan kata katanya, Rama mengangkat jari telunjuknya mengisyaratkan agar Sila diam.
Ini bos bikin kesel banget sih
Tiba tiba seorang wanita tua menghampiri mereka.
"Ya ampun cantik sekali, nama kamu siapa sayang?" tanya seorang wanita paruhbaya.
Dia adalah nenek Rama. Panggilannya Oma Melinda.
"Saya Sila o..ma" Kata Sila ragu.
"Jadi kamu asisten Rama ya. Perkenalkan saya Melinda nenek Rama" Kata Oma.
"Iya oma salam kenal" Sapa Sila tersenyum.
"Sudah berapa lama kamu kenal sama Rama?" Tanya oma
"2 bulan oma" Kata Sila.
"Baru saja ternyata, tapi tidak apa apa kalian akan terbiasa nanti" Kata oma.
Sila menatap heran.
Sebenarnya ada apa ini?
"Rama, ayo ajak Sila berkeliling dulu. Oma akan menyiapkan makan malam" Kata oma.
Rama langsung menurut dan mengajak Sila ke taman belakang.
"Ya saya suka pak, oma sangat ramah sekali" Kata sila.
"Jadi kamu suka orang yang ramah?"
"Ya pak" Jawab Sila singkat
"Sila apa kamu sudah punya pacar?" Tanya rama membuat Sila kaget.
"Be..belum pak" jawab Sila kaget.
"Di usia berapa kamu berencana menikah?" Tanya rama lagi. Sontak Sila menjadi gugup.
"Begitu Allah memberikan saya jodoh, saya akan menikah" Kata Sila.
"Bagaimana kalau ada pria yang melamarmu? apa kamu akan menerimanya?"
Pertanyaan macam apa itu
"Saya tidak tau pak, saya tidak kepikiran sampai kesitu" Kata Sila.
"Kalau saya melamarmu, apakah kamu mau?" Tanya Rama lagi.
Langkah Sila terhenti. Jantungnya terasa mau loncat.
Ini bos kesurupan apa gimana sih.
"Pak jangan becanda dong" Kata Sila agak gugup.
"Saya serius" Kata Rama lagi.
Apa??? Dia serius?? Mati gue. Abis gue. Tamat gue.
"Saya bingung pak" Kata Sila.
"Oma meminta saya memperkenalkan calon istri kepadanya, tapi saya tidak punya. Lalu oma meminta saya membawa wanita yang paling dekat dengan saya. Dan itu kamu. Saya tidak menyangka oma langsung menyukai kamu. Saya bingung" Kata Rama.
"Saya juga bingung pak, sebenarnya apa yang terjadi pak?" tanya Sila memberanikan diri.
"Oma menderita sakit jantung, karenanya saya tidak bisa membuatnya merasa sedih. karena dia satu satunya orang yang saya punya setelah orang tua saya meninggal" kata Rama.
Disini sila melihat sisi lemah Rama. Dia kasihan namun tidak tau harus berbuat apa.
"Sila, maukah kamu bersandiwara demi kebaikan oma?" tanya Rama.
Sila terdiam lalu mengangguk.
"Dengan satu syarat pak" kata Sila.
"Apa itu?"
"Biarkan saya membantah bapak saat menurut saya yang bapak lakukan itu salah dimata saya" kata Sila.
Rama terdiam, dia menatap tajam kearah Sila.
"Apa kamu sebegitu inginnya membantah saya" tanya Rama.
"Segala sesuatu terkadang membutuhkan timbal balik pak" kata Sila singkat.
"Baiklah, kamu menang" kata Rama.
Mereka pun masuk kedalam rumah Rama untuk melihat-lihat yang lainnya.