
Hari ini adalah hari pernikahan Rama dan Meira. semua tamu undangam sudah datang demi menyaksikan pernikahan mereka termasuk rekan bisnis dan para karyawan di perusahaan utamanya.
Rama terlihat tampan dengan belutan jas berwarna putih dan Meira terlihat cantik dengan balutan kebaya buatannya sendiri.
Penghulu memulai prosesi ijab qobul.
"saudara Rama Adrian, saya nikahkan engkau dengan Meira Keyla binti alm bramantio dengan mas kawin Setengah dari aset keluarga dibayar tunai"
"saya terima nikah Meira keyla binti alm bramantio dengan mas kawin 1000 rupiah tunai" kata Rama lantang
semua terkejut dengan ucapan Rama.
"Rama kamu apa apaan, itu salah yang benar setengah dari aset keluargamu" kata Meira
"aku mengatakan dengan benar kok" kata Rama
"Rama ada apa denganmu" oma melotot ke arahnya
"Kenapa oma, aku hanya memberikan apa yang pantas dia dapatkan" kata Rama
"apa maksudmu?" Meira berteriak
semua para undangan bingung melihat kejadian itu.
"Rama" plakkkk....sebuah tamparan mendarat di pipinya. Meira menamparnya. semua undangan terkejut.
Rama berdiri dari bangkunya.
dilihatnya semua para undangan keheranan.
"aku tidak bisa menikah denganmu karena aku masih memiliki istri dan anak" kata Rama
"Rama dia meninggalkanmu demi pria lain" kata Meira
"oha ya benarkah itu sayang?" Rama berteriak pelan
"enggak dong sayang" seorang wanita membawa seorang bayi dalam gendongannya. dia adalah SILAAA
Semua karyawan Rama terkejut ternyata Sila adalah istri Rama selama ini.
"apa? bagaimana kamu masih hidup kamu kan sudah mati" Meira terkejut setengah mati
"ya benar aku udah mati, tapi aku mati dalam mimpimu" kata Sila tersenyum
"apa kamu pikir suamiku akan tinggal diam melihatku menghilang tiba tiba? apa kamu lupa siapa Rama?" kata Sila tersenyum sinis
"apa maksudmu" kata Meira
"maksudnya adalah kamu terlalu bodoh dalam hal membunuh orang" kata Dokter kiana yang muncul dibelakang Sila.
"apa jadi kalian sekongkol?" teriak Meira
"kamu sangat bodoh sampai kamu nggak memeriksa seberapa setia orang orangmu. dan kamu tidak memeriksa latar belakangku. aku adalah Sahabat sila sejak kecil" kata Kiana
Flashback on
"Sila bagaimana kamu ada disini" kata kiana saat sila hendak melahirkan
"aku diculik ki, aku mau dibunuh aku mohon selamatkan aku" kata Sila
"sila kita akan melakukan operasi, untung saja aku membawa peralatan operasi secara diam diam karena ku dengar dari anak buahnya dia akan membunuh wanita hamil" kata kiana
"jadi apa yang harus aku lakukan ki" kata sila masih menahan sakit.
"kita ikuti rencana dia, kita akan mengoperasi anakmu dan kamu berpura pura koma" kata kiana
***
setelah Meira melihat sila mati.
"Sila pergilah lewat jalan belakang, kami akan mengubur peti ini" kata Kiana. lalu dia dan dua anak buah Meira yang merupakan suruhan Rama mengubur peti itu
saat mengantar bayinya ke sindikat penjual bayi, Kiana memberikan bayi itu kepada orang bayaran Rama karena pada saat itu kiana diantar anak buah asli Meira.
Flashback off
Meira menutup mulutnya tidak percaya.
"Rama maafkan aku, aku disuruh oma" kata Meira
"bohong, berani sekali kamu menuduhku tanpa bukti" kata Oma Rama
oma tersenyum.
"iya kan Oma Melani" kata Rama menatap oma dengan tatapan ingin membunuh.
"apa maksudmu? aku adalah oma Melinda, siapa Melani?" kata Oma gugup
"Oh ya sepertinya oma lupa ya kalau punya kembaran" kata Rama menatap lebih tajam
"apa maksudmu aku tidak mengerti"
"apa harus aku yang membongkar semuanya nyonya Melani" suara ibu sila terdengar. ternyata ibu sila dan dimas masih hidup.
"kenapa? heran melihat kami masih hidup?" kata Ibu sila
oma bergetar melihat sosok yang seharusnya sudah mati.
"kami berterima kasih, karena Meira mengurung kami diruang bawah tanah, kami pun menemukan buku diary nyonya Melinda dan beberapa foto kalian. anda membunuh nyonya Melinda dan mengaku sebagai nyonya Melinda demi mendapatkan harta nyonya Melinda. beruntung kami bisa keluar atas bantuan kiana dan meletakkan kerangka palsu yang dengan bodohnya dipercaya Meira itu adalah kami" kata Ibu Sila
"apa?? tidak itu tidak benar akulah Melinda" kata Oma
"kenapa tidak? kami sudah menemukan jenazah nyonya Melinda yang anda kubur di dalam gudang bawah tanah tempat anda menyekap kami, hasil otopsi sudah keluar dan benar saja. itu adalah jenazah nyonya Melinda. Anda membunuhnya tepat setelah kematian Ratih" kata ibu Sila
"Rama percaya padaku aku adalah oma Melinda" Melani masih saja menyangkal
"Oma ku tidak berhati busuk sepetimu, dan aku sudah mendengar bahwa kau lah penyebab kematian Papa Yanda dari supir pribadimu, aku mengancamnya hingga aku tau kebenarannya. kau datang kepadanya dan berkata bahwa aku meninggal sehingga Papa terkena serangan jantung" kata Rama berteriak
"Ya aku akui aku sudah membunuhnya. aku merancang penculikan Sila dan keluarganya. aku membunuh saudara kembarku karena Melinda mendapatkan suami kaya sedangkan aku mendapatkan suami yang buruk. aku dendam pada Melinda hingga aku ingin semua orang yang berhubungan dengannya menderita!!!" semua orang yang mendengarnya terkejut. polisi pun datang setelah tadi dihubungi Sila. mereka menangkap Melani dan Meira. karena persenkongkolan dan percobaan pembunuhan.
Rama memeluk Sila dan juga anaknya.
"para undangan sekalian maaf atas ketidaknyamanan ini, sebenarnya acara hari ini kami buat untuk memberi nama putra kami dan sekaligus menggelar resepsi pernikahan kami" kata Rama
semua undangan mengangguk dan bertepuk tangan.
para pendekor segera memasang ayunan bayi yang bertuliskan "Ryanda Ramadian"
Dia menamai dengan nama papanya karena dia ingin papanya hidup dalam kenangan mereka selamanya.
Acara demi acara dilaksanakan. Resepsi pernikahan mewah juga digelar.
Mereka hidup bahagia.
ibu dan dimas pindah kerumah Rama.
Dimas juga pindah kuliah diJakarta.
Rama menginvestasikan Saham yang cukup besar ke mini market seno sehingga mini market itu menjadi sangat besar dan berkembang pesat berkat kerja keras Seno.
Wibowo dan Ferdi berada diambang kehancuran kala Rama menepati Janjinya.
Melani dan Meira mendekam dipenjara untuk waktu yang lama
kini Rama menjadi sosok yang lebih dewasa. dia sudah jarang marah marah dan lebih banyak tersenyum kepada semua orang.
Sila sedang memandangi putranya yang tertidur.
Rama memeluk dari belakang.
"dia tampan ya seperti aku" kata Rama.
Sila tersenyum
"semoga dia nggak segalak kamu ya mas" kata Sila
"berani kamu ngatai aku ya" Rama membemkan wajahnya di leher istrinya.
"aku nggak akan berani ngatai Bos ku yang Galak ini" Sila terkekeh
"sini kamu aku kasih pelajaran" Rama menggendong Sila menuju kamar mereka dan menutup pintu lalu memberi hukuman kasih sayang pada istrinya.
Begitulah Cinta mereka. walaupun penuh cobaan yang menyakitkan, mereka tetap bertahan pada cinta mereka.
Karena mereka percaya pada kekuatan cinta
\ **TAMAT** \