My Arrogant Boss

My Arrogant Boss
Secuil Harapan



Sebulan telah berlalu.


semakin hari sila semakin ceria saja.


entah apa yang membuatnya menjadi semangat setelah sakit hari itu.


"bi tiya kita masak mi rebus yuk, aku lagi pengen" rengek sila kepada bi tiya yang sedang duduk disofa


bi tiya tersenyum melihat sila yang manja.


"iya non cantik, bibi belanja dulu ya" kata bi tiya


bi tiya bergegas pergi ke warung untuk membeli perlengkapan membuat mi rebus


saat itu hpnya berdering


"**halo den"


"bi gimana keadaan sila?"


"alhamdulillah den dia sekarang jauh lebih sehat dan ceria, itu bagus untuk kehamilannya. ini saya lagi mau beli bahan untuk buat mi rebus soalnya dia lagi pengen"


"syukurlah bi, makasih ya bi udah jagain istri saya. gaji bibi udah saya transfer ya"


"alhamdulillah sama sama den**"


bi tiya menutup teleponnya.


"den rama pasti sangat mencintai non sila" bi tiya tersenyum


sesampainya dirumah, bi tiya langsung mengeksekusi makanan yang di minta sila.


1 jam kemudian makanan telah siap.


sila segera menyantap makanan itu


"bi, ini enak banget, persis seperti buatan ibu sila" kata sila


"ah non bisa aja, ayo non ditambah lagi biar si dedek bayi sehat" kata bi tiya


"emmm bi, kalau ngidam emang harus dituruti ya?" tanya sila tiba tiba


"kata orang tua jaman dulu, kalo ngidamnya nggak keturutan anaknya bakalan suka ngences pas lahir" kata bi tiya


"ngences itu apa bi?" tanya sila


"jadi aku mesti gimana dong bi" kata sila sedih


"kenapa non?" tanya bi tiya heran


"aku ingin mas rama mengelus perutku lalu menciumnya, kayak di sinetron bi" kata sila sedih


"sabar ya non, itu kan masih katanya. belom tentu bener" kata bi tiya


"apa anak ini akan lahir tanpa kasih sayang ayah ya bi" tanya sila sedih


"non gak boleh ngomong gitu. kasian anak non nanti ikut sedih juga" kata bi tiya


"iya bi" sila menyeka air matanya lalu tersenyum sambil terus menyantap makanannya


saat malam


sila sudah tidur, bi tiya lalu menelpon seseorang.


30 menit kemudian, seseorang datang kerumah itu. dia adalah rama. dia sudah mendengar perihal permintaan sila dari bi tiya.


dia pun masuk ke kamar, dan melihat sila sedang tidur dengan bekas airmata yang kering dipipinya.


dia duduk disamping sila lalu mengelus dan mencium perutnya


"sayang maafin papa ya, papa tidak bisa berada disisi mama kamu" bisik rama


"kamu yang kuat ya sayang, segera setelah kemarahan oma reda, aku akan membawamu kembali. aku tidak akan pernah meninggalkanmu" rama mencium kening sila. dibelainya kepala yang terbungkus rambut halus dan harum


"jaga dirimu ya sayang, aku mencintaimu"


rama melangkah keluar.


"bi terus buat dia tersenyum ya, jangan biarkan dia bersedih" kata rama dengan wajah sedih


"dia wanita yang kuat, aden tenang aja bibi sangat menyayanginya. pasti apapun bibi lakukan asal dia bahagia" kata bi tiya


"terima kasih ya bi, saya pamit dulu" rama keluar rumah dan segera melajukan mobilnya ke rumahnya.


"sepertinya aku harus mencari tau cerita sebenarnya" kata rama


"aku tidak ingin lama lama berpisah dengan sila, aku sangat mencintainya"


rama terus melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah