
Seminggu telah berlalu.
tubuh sila sangat kurus karena kurangnya asupan makanan.
"mas aku udah bisa bekerja mulai besok kan?" tanya sila
"tidak, kamu tidak akan bekerja lagi" kata rama
"tapi kenapa mas?" tanya sila
"saya tidak mau sampai rekan kerja saya tau kalau kamu istriku dan aku malah menyuruhmu bekerja berat" kata rama
"apa bedanya disini mas, aku menjadi pembantumu kan" kata sila menangis
"kamu akan tinggal di sebuah rumah kontarakan ditempat yang tidak gampang dijangkau orang dan aku akan memenuhi kebutuhanmu sampai dia lahir" kata rama
"apa yang akan ku lakukan disana selama itu mas?"
"terserah kamu yang pasti jangan keluar. aku hanya tidak ingin orang orang tau siapa dirimu sebelum perceraian kita. satu lagi, jangan beritahu ibumu atau aku tidak akan membiayai kebutuhanmu lagi" kata rama datar
"tapi aku butuh pekejaan untuk kuliah dimas mas" kata rama
"aku tidak sudih memberi uang sedikitpun untuk anak haram itu!!!!" bentak rama
sila tertunduk tersenyum getir
"sini hp kamu. pakai ini" rama merampas hp sila dsn menukarnya dengan hp yang lain dengan sim card baru yang ada didalamnya.
"aku tidak ingin kamu menghubungi siapapun" kata rama
sila tertunduk lagi
"kemasi barang barangmu" kata rama
sila mengemasi barang barangnya lalu pergi diantar rama ke sebuah rumah kontrakan yang sederhana namun cukup nyaman.
"disini sudah ada pembantu yang akan menamanimu dan melayanimu" kata rama
"aku pergi, aku akan bilang pada oma bahwa aku telah mengusirmu" kata rama
rama bergegas pergi dan meninggalkan sila yang berlinangan air mata.
"kenapa nasibku jadi begini ya Allah" tangisan sila semakin deras. hatinya teriris melihat perlakuan rama.
dia pun segera masuk dan membereskan isi kopernya ke sebuah kamar yang cukup nyaman.
"setidaknya kamu masih punya hati mas" kata sila sambil mengelus perutnya
tokk...tok...tok...
"iya bi" sahut sila
dimeja makan sudah tersaji makanan yang lezat dan bergizi. sepertinya bi tiya sudah pengalamna mengurus orang hamil. ah tentu saja dia pasti dulu pernah hamil
"bi, temeni sila makan yuk. sila nggak mau makan sendiri" kata sila
bi tiya memandang sila dengan tatapan iba. dia sudah tau ceritanya dari rama. rama memberitahunya agar hal ini menjadi rahasia
"iya non" kata bi tiya langsung duduk
mereka pun menyantap makanan itu. sila merasa sedikit senang karena ternyata bi tiya enak diajak mengobrol persis seperti ibunya
"oh ya anak bi tiya ada berapa?" tanya sila
"ada 1 non, perempuan masih umur 22 tahun" kata bi tiya
"oh, dia tinggal dimana bi?" tanya sila
"saya dirumah sedirian non saya selagi saya bekerja disini" kata bi tiya
"ayahnya kemana bi?" tanya sila
"ayahnya sudah lama meninggal non" kata bi tiya
"maaf ya bi" kata sila
"tidak apa non" kata sila
"dia kerja apa sekarang bi" tanya sila
"belum kerja non, masih kuliah semester akhir lagi ngurusin skripsi" kata bi tiya
"oh masih kuliah, jurusan apa bi?" tanya sila
"manajemen non" kata bi tiya
"oh ya? aku juga lulusan manajemen loh bu, ajak tinggal disini aja bi, biar skripsinya aku bantu" kata sila
"tidak ah non nanti bikin repot" kata bi tiya
"nggak apa apa bi, kasian dia dirumah sendiri apalagi anak gadis. biar aku juga ada kegiatan bi" kata sila
"iya non, nanti saya bilang sama dia ya" kata bi tiya.
sila mengangguk senang.