My Arrogant Boss

My Arrogant Boss
Kelahiran



Seminggu kemudian saat Sila sedang duduk, dia merasa perutnya sakit. dia berteriak minta tolong.


"toloooooong" Sila memegangi perutnya.


Lalu beberapa orang membuka pintu dan memapahnya.


"bos dia mau lahiran gimana ini" kata salah seorang anak buahnya pada Meira


"Bawa dia ke ruangan belakang" perintah Meira. anak buahnya membawa sila yang masih merintih keruangan belakang.


disana sudah ada seorang dokter pribadi Meira yang akan membantu persalinannya.


"kita harus melakukan operasi bu" kata Dokter kiana


"lakukan aja" kata Meira


"tapi peralatan tidak memadai untuk melakukan operasi" kata dokter Kiana


"aku nggak peduli. mau dia mati sekalipun aku nggak peduli. lakukan!!!!" bentak Meira


segera dokter menyuruh mereka keluar dan melakukan operasi.


4 jam dia melakukannya karena dia hanya seorang diri. akhirnya bayi itu lahir.


terdengar suara tangisan bayi dari luar.


Meira segera masuk.


"bagaimana?" tanya Meira


"anaknya laki laki dan sehat. ibunya koma karena kehilangan banyak darah" kata Dokter kiana


"apa dia masih berkesempatan hidup?" tanya Meira


"kemungkinan hidup cuma 10%, kita hanya menunggu sampai ajal menjemputnya" kata dokter kiana


"bagus, dan apa kamu sudah melihat tulang belulang digudang bawah tanah?" tanya Meira


"iya sudah saya periksa ternyata itu benar mayat mereka yang cepat mengurai karena banyak serangga dan hewan liar digudang itu" kata Dokter kiana


"bagus, aku hanya perlu membereskan bayi itu" kata Meira.


"bu, biarkan saya yang membawa bayi itu ke sindikat penjual bayi. untuk apa ibu membawanya ke panti asuhan. dia bisa saja berkesempatan bertemu dengan ayahnya. kalau kepada sindikat penjual bayi tentu anak ini akan pergi menjauh bahkan dia bisa kehilangan nyawa" kata dokter kiana


mereka mengangguk.


Dokter kiana membawa bayi itu kekamarnya dan memberikan susu kepadanya.


"minum lah yang banyak mungkin ini susu yang terakhir kau minum" kata dokter kiana


Sila dipasangi selang oksigen. wajahnya sangat pucat. tidak ada alat medis yang lain. hingga saat dia menghembuskan nafas terakhir tidak akan butuh waktu lama.


Meira menelpon seseorang.


"sudah oma, meira sudah melenyapkan semuanya. oma harus menepati janji ya" kata Meira menutup teleponnya.


"akhirnya aku berhasil sebentar lagi Rama akan menikahiku dengan mahar yang sudah dijanjikan oma. setengah dari seluruh harta Rama. ah aku nggak sabar" meira tersenyum girang.


***


Rama sedang duduk dibalkon kamarnya. dia mememandangi langit.


"aku tidak akan mengampuni mu"


Oma mengetuk pintu kamar Rama. setelah dipersilakan masuk, oma berbicara dengan Rama.


"menikahlah dengan Meira 1 bulan lagi. aku akan mengurus semuanya" kata Oma


"aku bahkan belum bercerai dari sila" kata Rama


"aku akan mengurus itu, yang penting tanda tangani ini" kata Oma


"ini apa?" tanya Rama


"ini mahar yang akan kamu berikan saat menikah dengannya" kata oma


"apa? ini semua terlalu banyak oma? ini setengah dari harta kita" kata Rama


"kenapa? dia akan menjadi istrimu. sangat sulit membujuknya setelah penolakanmu beberapa kali. apa kamu tidak kasihan sam dia?" tanya oma


"baiklah oma, terserah oma" Rama menandatangani surat surat itu.


oma pun keluar dengan wajah yang senang. meninggalkan Rama yang terlihat sangat gelisah entah apa yang dipikirakannya saat ini hanya dialah yang tahu