My Arrogant Boss

My Arrogant Boss
Tidak Bisa Bohong



Sila sedang duduk santai sambil menonton tv.


dita sedang kuliah.


bi tiya sedang ke pasar.


sila sangat bosan.


dia pun memilih untuk bersih bersih rumah.


dia mencoba mengubah tata letak perabot ruang tamu.


2 jam kemudian, dia selesai.


namun setelah itu dia merasakan kram di perutnya.


"ah sakit banget" sila memegangi perutnya


"bertahan ya sayang" sila mengelus perutnya.


"aduh bagaimana ini, perutku sakit sekali" sila terus meringis


dia melihat hp bi tiya diatas meja lalu mengambilnya dan membuka kontak lalu mencari nama rama.


...tutt....tu....


nomor yang anda tuju sedang sibuk, silahkan tinggalkan pesan


sila memencet tombol pesan lalu dia berbicara.


"maaaas tolong aku, perutku sakit aku udah nggak kuaaaaat. nggak ada orang dirumah. bi tiya sedang belanja. ku mohon selamatkan anak kita mas" ucap sila


telepon dimatikan. sila masih memegangi perutnya.


akhirnya pandangannya menjadi gelap dan dia pun pingsan.


sila membuka mata. dilihatnya langit langit ruangan itu.


"dimana ini?" sila memegangi perutnya yang sudah tidak sakit.


"ibu sila sudah bangun, bagaimana perasaannya?" tanya seorang dokter yang teenyata adalah dokter heri.


"baik, ini dimana dok?" tanya sila


"ini di klinik saya" kata dokter heri


"dokter kalau sila bangun jangan bilang kalau saya....." belum siap rama menyelesaikan kalimatnya dia dibuat terkejut melihat sila saat masuk keruang rawat itu


"saya tinggal dulu ya, ibu sila jangan banyak pikiran ya, tetap rileks aja" kata dokter heri berlalu pergi meninggalkan mereka berdua


"mas, kamu denger pesan suaraku ya" kata sila


rama mengangguk.


"kamu jangan menganggap ini berlebihan, aku hanya tidak ingin anakku kenapa kenapa" kata rama


"sampai kapan kamu akan membohongi dirimu sendiri mas?" tanya sila


"aku tidak berbohong" kata rama


"kamu ingin anakmu selamat tapi kamu terus menyakiti hati ibunya" kata sila


rama terdiam.


"aku akan pulang kerumah ibu, aku berjanji nggak akan bilang sama siapapun kalau aku istri mas rama. aku cukup tau diri. aku tidak akan menghancurkan karirmu" kata sila


"tidak, kamu tidak boleh kesana" kata rama


"apa kamu pikir dengan mengirimku bersama bi tiya akan menyembuhkan luka dihatiku? apa mas tau bagaimana sedihnya aku setiap malam ingin tidur memeluk suamiku? apa kamu tau aku ingin sekali disuapi makan oleh suamiku? apa kamu tau bagaimana kesepiannya aku, meski aku punya teman dirumah itu? kamu menyiksaku karena aku terlalu mencintaimu mas" sila menangis


rama masih terdiam.


"pergilah mas, aku akan tetap pulang kerumah ibu, jika kamu tidak membiarkan aku pergi aku akan menelpon oma agar dia mengirimku kerumah ibuku. orang macam apa yang memisahkan anak dari ibunya" sila mencoba mengambil ponsel rama hendak menelpon oma


rama menarik ponsel tersebut lalu memeluk sila sambil menangis juga. kini keduanya tengah berpelukan sambil menangis.


"kamu jangan lakukan itu, aku tidak bisa hidup tanpamu" kata rama


"aku tau kamu masih mencintaiku kan mas" kata sila


"aku tidak pernah berhenti mencintai istriku" kata rama


kini keduanya melepas pelukan.


"aku akan mencoba meluluhkan hati oma dan aku akan mengunjungimu setiap pulang bekerja" kata rama


"jangan setiap hari, itu akan menimbulkan kecurigaan" kata sila


"baiklah, hubungi aku kapanpun kamu ingin ditemani, maaf harus membuatmu seperti ini" kata rama tertunduk sedih


"ini bukan salah kamu mas, kita hanya sedang di uji sama Allah, aku yakin kita bisa melewatinya" kata sila


rama kembali memeluk sila. akhirnya setelah sekian lama, dia bisa memeluk tubuh hangat yang selalu dirindukannya itu.