
Malam hari saat bi tiya ingin memberikan obat. dia terkejut melihat sila menggigil.
"non, non kenapa. ditaaaaa" teriak bi tiya
dita segera datang.
"bu kenapa kak sila?" dita panik
"dia menggigil tapi badannya panas" kata bi tiya
"gimana ini bu, diluar ujan kita nggak ada mobil" dita bingung
"kamu tunggu sebentar, jaga non sila" kata bi tiya pergi ke kamarnya
dita menjaga sila yang masih menggigil namun matanya masih terpejam.
****
kediaman rama
"**halo"
"halo den, non sila menggigil, badannya panas. kita nggak punya mobil buat bawa ke dokter dan disini hujan bagaimana ini den bibi khawatir"
"apa???? bibi jaga dia ya saya segera kesana**"
rama bergegas mengambil mobil dan pergi. beruntung oma sedang pergi.
***
dikontrakan
rama berlari menuju kamar sila. dilihatnya sila masih menggigil.
"bi tiya, dita tolong keluar dulu ya" kata rama
mereka segera keluar. rama melihat sila yang masih terpejam dan badannya masih menggigil. dia berbaring disampingnya lalu mendekap tubuh istrinya seraya mengelus kepala istrinya. perlahan gerakan sila berhenti. dia sudah tidak menggigil lagi. lalu rama mengompres kening sila. dan masih terus memeluknya.
akhirnya nafas sila teratur dan dia kembali tidur. rama hendak bangkit namun tangannya ditahan sila.
"mas rama aku memcintai kamu, jangan tinggalkan aku mas, aku nggak bisa hidup tanpamu"
rama menoleh dan sila masih terpejam. ternyata dia mengigau.
"bagaimana keadaannya den?" tanya bi tiya khawatir.
"menggigilnya sudah hilang, udah saya kompres. nanti kalau sudah bangun tolong bibi kasih obat yang saya letakkan didalam kamarnya" kata rama
"alhamdulillah, baik den" bi tiya dan dita tersenyum lega
"saya pamit pulang ya bi, jangan katakan padanya kalau tadi saya kemari" kata rama
lalu di bergegas pergi mengendarai mobilnya.
diperjalanan rama terus menangis mengingat keadaan sila tadi.
"bagaimana bisa aku meninggalkanmu, aku juga tidak bisa hidup tanpamu" kata rama berbicara sendiri
"aku berharap jika aku tidak akan pernah tau siapa dirimu. aku tidak bisa membencimu. aku sangat mencintaimu. kamu tidak melakukan kesalahan, kamu hanya terlahir dari wanita yang telah menghancurkan ibuku" rama terus menangis. ingin rasanya dia putar balik dan memeluk istrinya sepanjang malam. tapi itu mustahil karena oma akan melakukan apapun jika dia tau rama menyembunyikan sila.
ya, menyembunyikan sila adalah rencana rama. karena jika dia tetap dirumah itu, oma akan menyiksa batinnya dan itu tidak baik untuk mental ibu hamil. begitu pikir rama
****
dikontrakan
sila terbangun dari tidurnya. saat itu sudah pagi. dia memegangi kepalanya yang terdapat handuk kompres. pasti bi tiya yang kompres gumam sila
"non sudah bangun, bagaimana keadaannya?" tanya bi tiya yang masuk membawakan segelas susu dan bubur untuk sila
"sudah baikan bi" kata sila
"bi tiya yang kompres aku ya? makasih ya bi" kata sila tersenyum
"i..iya non" bi tiya jadi gugup karena berbohong.
"bibi mohon non, kalo hujan lagi, meskipun bibi lagi jemur ikan sekalipun non jangan keluar ya" kata bi tiya memohon
"iya bi maafin aku ya" kata sila
",sudah lah non, ayo makan dulu baru minum obat" kata bi tiya
sila memperhatikan plastik putih yang membungkus obat tersebut lalu tersenyum