My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 64 : Perjalanan Kembali (End)



"Seperti yang dikatakan nona ini, semuanya adalah rencana kami...raja ini telah menyalah gunakan wewenangnya dan hukuman mati adalah hal yang pantas dia dapatkan."


Lifa maju dengan sebuah pernyataan.


"Jika raja ini mati maka kota ini juga tidak akan bisa bertahan lagi."


"Itu lebih baik dibanding orang-orang di sini menjadi korbannya, orang-orang dari istana tidak mengetahui penderitaan kami yang dipaksa untuk melayaninya."


Aku menghela nafas panjang lalu berkata.


"Aku tidak bisa membenarkan tindakan kalian atau menyalahkan kalian, yang bisa kukatakan hanyalah saat raja jatuh maka kerajaan ini juga jatuh, aku hanya berharap semua orang segera meninggalkan kota ini sebelum para monster yang lain mulai berdatangan."


"Kami akan mempertahankan negara ini dengan kekuatan kami sendiri dan memulainya dari awal," balas nona pelayan.


Tanpa mengatakan apapun lagi, aku maupun anggota partyku segera bergegas dan langsung meninggalkan kerajaan.


Aku sekali lagi melirik ke arah negara yang kami tinggalkan. Entah apa yang terjadi di masa depan semua itu tidak ada hubungannya dengan kami.


Kami hanya seorang petualang yang menjelajahi berbagai tempat untuk kami singgahi dan setelah kami selesai kami akan pergi.


Lifa duduk dipinggir sungai selagi membaca beberapa tulisan dari jurnalku, Sofia dan Lena sedang memancing sementara aku sedang menyiapkan sup untuk kami makan, aku hanya membuat sup kentang daging yang mudah dibuat.


"Apa ada sesuatu yang membuatmu tertarik Lifa?"


"Aku sedikit penasaran dengan kerajaan itu, sudah tiga bulan kita meninggalkannya."


"Maksudmu kerajaan para monster?"


"Um... bagaimana keadaannya sekarang."


"Fufu jadi itu yang ingin kau ketahui, kebetulan aku membawa beritanya."


Aku berjalan ke kereta barang, setelah mengambil lembar koran aku memberikannya pada Lifa.


"Ini?"


Aku mengangguk menegaskan dan Lifa membaca judulnya.


"Sebuah kerajaan yang dipimpin oleh para pelayan menjadi kerajaan paling kaya dengan sistem menjual material monster ke berbagai negara lainnya."


"Benar, di sini ada pernyataan pelayan waktu itu."


"Hmm... pertama kami kehilangan banyak ratusan petualang tapi sekarang kami bisa menimalisirnya dan membuat sebuah akademi untuk melatih mereka agar semakin kuat."


"Begitukah, bukannya itu merepotkan bagi sebagian orang."


"Kurasa tidak juga terkadang beberapa orang suka saat mereka terus bertarung," kataku demikian.


Aku tidak mengada-ada tapi itulah kenyataannya.


Lagipula hanya orang seperti itu yang bisa hidup di negara itu.


Lifa mengembalikan jurnal petualangku dan aku meminta semua orang untuk berkumpul untuk menikmati makanan yang telah kubuat.


Lena terkulai lemas sementara Sofia tersenyum bangga dengan ikan dibawanya.


"Leona tolong masak ini juga?"


"Aku akan memasaknya nanti setelah kita menghabiskan supnya."


"Baik," jawab Sofia semangat.


Aku memberikan mereka masing-masing mangkuk yang telah terisi sup.


"Selamat makan, uwaah... seperti biasa masakan Leona sangat enak, Leona memang istri yang bisa diandalkan."


"Aku tidak menikah denganmu."


"Eh."


Seolah obrolan itu sangat biasa, Lifa dan Sofia tidak terganggu dengan hal demikian.


"Tujuan kita belum diketahui meski begitu kalian harus makan yang banyak, kita tidak tahu seberapa lama kita akan menemukan kota ataupun negara lainnya," kataku.


"Kami mengerti, selagi bersama aku rasa bisa pergi kemanapun yang kita inginkan walaupun ke tempat yang sangat berbahaya."


"Aku juga berfikiran demikian," tambah Sofia yang mendapatkan anggukan Lifa.


Aku bisa sampai di sini berkat mereka, berkat mereka juga aku tidak pernah kesepian dan mendapatkan petualangan yang menyenangkan.


Yang jelas petualangan kami masih berlanjut.


Aku sedikit penasaran negara seperti apa yang akan kami kunjungi berikutnya. Hal itu masih menjadi misteri.