My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 33 : Sihir Dari Lukisan



Tanpa diketahui Leona dan teman-temannya seorang pria berdiri di atap bangunan dengan kuas dan kanvas di depannya, diiringi senandung yang dikeluarkan dari mulutnya dia membuat beberapa burung kecil di atas kanvas itu yang mana dia buat dengan warna merah biru dan berbagai warna lainnya.


"Segini sudah cukup," bersamaan perkataannya burung-burung yang dilukisnya mulai keluar satu persatu dengan jumlah sama persis atau lebih tepatnya mereka menjadi hidup.


"Sekarang terbanglah ke setiap sudut kota dan ledakan semuanya," burung-burung tersebut melakukan tugas seperti yang dikatakan pria itu hingga beberapa bangunan berubah menjadi puing-puing reruntuhan.


"Pertunjukan yang sebenarnya akan segera dimulai, akan kutunjukan apa itu sebuah seni pada orang-orang tak berguna ini."


Pria itu mulai melukis sosok yang lebih besar dari sebelumnya dia buat, setelah selesai dia menggelengkan kepalanya dan membiarkan kepala naga keluar dari kanvas miliknya.


Naga itu terbang ke atas langit dengan seluruh tubuhnya yang mirip sebuah ular, ukuran makhluk yang dibuat di kanvas akan mengikuti imajinasi si pembuatnya.


"Sekarang majulah."


"Raugghh."


***


Setelah berhasil menghancurkan lukisanku kami memutuskan untuk kembali ke penginapan, sebelum hendak berjalan tiba-tiba saja sebuah ledakan terjadi di depan mataku.


Kulihat seorang anak kecil hendak tertimpa bangunan tinggi, aku segera menyelamatkannya dengan satu tangan menahan bangunan tersebut.


Lena mengambil anak tersebut lalu memberikannya pada ibunya yang tampak terkejut.


"Cepat pergi dari sini," kata Lena.


"Terima kasih."


Sofia melompat ke udara lalu menangkap seekor burung dengan tangannya sementara aku menghancurkan bangunan di tanganku dengan mudah sebelum akhirnya mendekat ke arah mereka.


"Ada apa Sofia?" tanyaku.


"Lihat ini Leona? Burung yang aneh."


"Itu terbuat dari cat, coba lemparkan," atas permintaanku Sofia melemparkannya ke samping dan itu meledak di tempat tidak ada orangnya.


"Jadi penyebabnya itu," tambah Lena.


"Ada seekor naga."


Aku segera memastikannya dan itu memang benar, naga itu juga dibuat dari cat warna.


"Sebaiknya kita membantu para penduduk ke tempat aman dulu, untuk naganya kita biarkan saja," bersamaan perkataanku naga itu tiba-tiba saja menyemburkan cairan dari mulutnya.


Aku sempat menghindar bersama Lifa namun sayangnya yang lainnya tidak terselamatkan. Efek dari semburan itu melenyapkan seluruh pakaian yang mereka kenakan.


"Pakaianku lenyap."


"Aku juga."


Aku tidak tahu harus bersyukur atau tidak, di sisi lain mereka tidak terluka namun di sisi lain mereka dalam situasi memalukan dengan tubuh telanjang terekspos begitu saja, tak hanya mereka berdua semua orang juga mengalami hal sama.


"Ada apa Leona?"


"Cepat tutupi tubuhmu."


"Aku tidak masalah, lihat ini."


Lena memainkan bagian menonjol dari dadanya.


Dimanakah sinar laser saat dibutuhkan dalam situasi seperti ini.


"Ini memalukan, aku tidak ingin berakhir telanjang juga."


"Jangan khawatir Lifa, kau juga nanti akan terbiasa."


"Jangan dengarkan orang sesat ini," kataku demikian.


Untuk sekarang aku meminta Lifa membawa kedua orang ini untuk pergi ke toko jahit sementara aku akan mencari dalam dari ini semua.


Aku melompat ke udara sejauh yang bisa kulakukan, semua bangunan yang disembur oleh naga tersebut berubah menjadi putih yang mana melenyapkan seluruh lukisan yang susah payah dibuat oleh penduduk kota ini.


Aku jatuh ke bawah untuk memperhatikan semua orang yang berteriak karena malu, jika dibiarkan korban akan bertambah banyak.