
Dengan lompatan kecil Sofia membuat tanah yang dipijaknya membentuk lubang berdiameter 10 meter, para penjahat ini berjumlah 30 orang dengan senjata di tangan mereka, beberapa orang juga menembakan berbagai sihir yang mereka kuasai meski begitu, itu sama sekali tidak bisa menembus pertahanan dari Sofia seolah ada di dinding yang menjaganya.
Seorang berlari ke arah Sofia selagi mengayunkan pedangnya dari samping, itu mampu memecahkan dindingnya walaupun tangan Sofia lebih dulu menembus jantungnya.
Dia menariknya hingga tubuh musuhnya tumbang, dengan erotis Sofia menjilat darah di tangannya.
"Mustahil, jangan bilang.."
Orang yang mengetahui tentang Sofia mulai berlarian meski begitu mereka semua mati saat menerima peluru darah menembus kepala mereka.
Aku baru menyadarinya ternyata Sofia sangat menakutkan. Dia melompat menghancurkan tubuh mereka seperti bukan sesuatu hal sulit, saat aku sadari kecuali satu orang semuanya sudah tewas.
Lena berbisik ke arahku dengan wajah suram.
"Leona tolong ingatkan aku untuk tidak menyentuhnya lagi."
Dia mengalami trauma, syukurlah sampai sekarang Sofia tidak keberatan dilecehkan oleh Lena jika ia mulai marah bukan tidak aneh Lena akan mati seperti orang-orang di depan kami.
Aku juga melompat lalu menepuk kepala Sofia.
"Itu sudah cukup," kataku ringan.
"Baik Leona."
Matanya kembali sedia kala.
Aku berlutut di dekat orang yang sudah tak berdaya itu.
"Jadi siapa yang menyuruh kalian?'
"Pe-perdana menteri, kami menerima surat yang diberikannya lewat burung elang untuk menyerang kalian."
Aku menepuk wajahku frustasi.
"Sudah kuduga, jadi apa rencana yang sedang dibuatnya?"
"Dia ingin mengambil alih kerajaan, tolong jangan bunuh aku."
"Aku tidak akan membunuhmu, asal kau mengubur mereka nanti."
"Baik."
Aku mendesah pelan lalu meminta Lena dan Snow White untuk menunggu di penginapan, sementara aku membawa Sofia di lenganku.
Lalu berlari cepat ke arah istana berada.
"Uwaaahh, lebih cepat lagi Leona."
"Baiklah."
Aku menambahkan mana berlimpah di kakiku dan dalam sekejap itu menaikan pasir ke udara seiring kecepatanku yang bertambah. Alasan aku membawa Sofia bersamaku hanya untuk menemaniku saja, aku tidak berfikir akan menyuruhnya bertarung lagi setelah ia membantai orang-orang tadi.
Aku juga ingin menjadikannya sebagai saksi atas pernyataan pria itu.
Dengan cepat kami berdua tiba di aula singgasana.
"Leona kenapa kau kembali?" tanya Ratu Cleopatra.
"Apakah itu?"
Aku menunjuk ke arah perdana menteri itu dan ia mengerenyitkan alisnya tidak senang.
"Dia telah menyuruh anak buahnya untuk menyerang kami demi mengambil uang yang telah ratu berikan."
"Jangan bercanda, ini fitnah."
Orang jahat sering sekali mengatakan itu.
"Tak hanya menyerang kami, dia juga merencanakan pemberontakan terhadap kerajaan ini."
"Kau jangan sembarangan, aku tidak mungkin melakukannya."
"Hoh, aku membawa bukti.. ini dia."
Aku menunjukan Sofia.
"Sofia gadis lugu dan manis ini tidak akan berani berbohong," kataku sedikit keras agar semuanya bisa mendengar suaraku.
"Aku gadis lugu dan manis itu."
"Nah Sofia, orang itu mengatakan orang inilah yang menyuruhnya bukan begitu."
"Benar."
"Jangan percaya ratu, mana mungkin gadis itu seorang yang lugu, dia sudah membunuh banyak orang."
Aku menyipitkan mata.
"Darimana kau tahu bahwa Sofia yang membunuh anak buahmu?"
Glek.
Perdana menteri itu menelan ludahnya sendiri, alasan kenapa dia tahu karena akulah yang meminta pria itu untuk mengirim surat padanya.
Ratu menatapnya dengan tatapan jijik.
"Aku tidak mungkin melakukannya."
Perdana menteri itu hendak pergi dan aku menembakan sihir angin hingga ia tumbang.
"Tangkap dia dan cari tahu apa saja rencananya?"
"Baik."
Dengan ini semuanya telah selesai.
Aku sempat akan dihadiahi karena prestasiku tapi aku menolaknya lalu memutuskan untuk kembali ke kota dimana Lena dan Snow White berada.
"Ini sangat cepat Leona.. hore."
"Akan kutambahkan lagi kecepatannya, pegang erat-erat."
"Baik."