
Walau diusir, aku memutuskan untuk mengawasi dari atas bangunan tinggi, jumlah petualang yang berjaga semakin bertambah, jika sebanyak ini apa yang sebenarnya mereka lawan.
Aku mengalihkan pandangan ke arah istana yang berdiri megah, sebelum aku tahu apa yang terjadi ledakan telah terjadi di sana, di susul di tengah kota selanjutnya di arah para petualang berada.
"Benar-benar sulit menjalani kehidupan damai di dunia fantasi."
Aku mencoba mencari tahu siapa saja yang terlibat sampai kutemukan empat orang yang mana salah satunya adalah pria yang pernah kutemui, dia adalah Vesta.
Sofia yang terlihat sedang mencariku menurunkan kakinya tepat di sampingku.
"Leona?"
"Mereka datang untuk menghancurkan negara ini, aku akan mengatasi orang yang menyerang istana. Bisakah kau mengurus orang di sana itu."
Vesta memiliki kemampuan membuat apapun yang digambar olehnya menjadi kenyataan, dialah yang paling berbahaya.
Aku menunjuk ke arah pria yang sedang melukis jauh dari kami.
"Itu mudah, lalu bagaimana sisanya?"
"Biar petualang yang mengatasinya tapi kalau dalam bahaya bantu juga mereka."
"Baiklah... Lifa dan Lena sedang membantu evaluasi warga, aku juga tidak boleh kalah dari mereka."
Sofia terbang melesat ke arah Vesta sementara aku melompat menunju istana, aku menjatuhkan diriku tepat di antara para mayat pasukan kerajaan, kulihat seorang pria bermantel hitam yang sedang mengangkat pisau ke arah ratu seketika berhenti lalu menengok ke arahku.
"Apa yang kau lakukan?" kataku mengancam.
Dia hanya diam saja dan kemudian aku melesat ke depan demi mengirim pukulan ke wajahnya hingga tubuh itu terlempar menembus bangunan istana dengan ledakan.
Ratu yang terkejut bersembunyi di belakangku.
"Kau menyelematkan, terima kasih."
"Masih terlalu awal untuk berterima kasih."
Aku menatap reruntuhan yang menimpa pria itu dan ia segera bangkit selagi menepuk-nepuk mantelnya yang kotor.
"Bagi gadis imut sepertimu kau bertidak sangat brutal."
"Maaf saja, aku tidak suka jika seseorang tidak menjawab pertanyaanku.... ratu silahkan mundur biar aku menghajar orang ini."
"Kau akan menyesal jika melawan Oger."
Pria bernama Oger itu melesat dengan mengayunkan pisau ke arahku, beberapa kali itu menggores tubuhku sampai kami melompat menjaga jarak.
"Inferno."
Api ditembakan padaku dan aku cukup menepisnya ke samping, dengan status tinggiku hal seperti ini mudah.
"Mustahil, sebenarnya kau siapa?"
"Aku hanya gadis kucing yang kebetulan tinggal sementara waktu di sini, lebih dari itu apa kalian juga yang menghancurkan negara lain?"
"Benar sekali, ini semua demi impian kami."
"Impian seperti apa itu?" aku balik bertanya.
"Impian dimana dunia bebas dari kerajaan serta pemerintah.. jika kedua hal itu tidak ada, maka semua orang bebas melakukan apapun demi mereka sendiri."
"Impian bodoh, hanya demi kebebasan aneh kalian, kalian banyak membunuh orang."
"Pengorbanan memang diperlukan."
Kami kembali bertarung di jarak dekat.
Sejauh ini Oger bisa mengimbangi kemampuanku tapi seiring waktu dia mulai melemah.
Sebaiknya aku mengakhiri pertarungan ini, aku mencengkeram tangannya lalu membantingnya ke tanah, sebelum dia bisa bangkit kupukul perutnya hingga lubang besar tercipta di belakangnya.
"Apa dia mati?" kata ratu mendekat.
"Dia hanya pingsan."
"Begitu."
"Aku masih harus memeriksa tempat lain, aku harus pergi."
"Tunggu, kau belum mengatakan namamu."
Para kesatria terlihat mulai berdatangan lalu mengerumuni ratu dari segala arah, dengan ini dia akan baik-baik saja.
Aku segera beralih ke mana Sofia berada, dia telah menggigit Vesta... saat tubuhnya dilempar ke samping darah menyembur ke udara.
"Leona?"
Dia seperti tokoh utama dalam film horor.