
Beberapa permainan kami menangkan dengan mudah.
Tapi seorang penjudi yang baik tahu ketika waktunya untuk mundur, aku menepuk pundak Lena sebelum memintanya untuk pulang.
Kami sudah memiliki banyak uang akan berbahaya jika kami benar-benar tidak diperbolehkan keluar dari sini.
Lifa dan Sofia pun mengangguk kecil.
"Wah... lihat waktunya, ini sudah sore.. kita harus kembali."
Tepat saat aku mengatakannya puluhan pria berjas telah menutupi langkah kami, dari belakang sana seorang pria gemuk muncul dengan cerutu di mulutnya.
"Kalian sudah menang, apa kalian tidak tertarik untuk mendapatkan uang yang lebih banyak."
"Kami sudah cukup memiliki uang."
"Itu jelas tidak mungkin, tempat ini buka 24 jam.. bagaimana jika kau mempertaruhkan seluruh uangmu dan aku juga akan melakukan hal sama."
Yang kami miliki sekarang 1 juta koin emas, dengan uang sebanyak itu kami jelas tidak perlu bekerja sampai puluhan tahun.
"Sebelumnya aku lihat bahwa nona ini tidak ikut dalam permainan, bagaimana kalau taruhan selanjutnya Anda saja."
Jelas sekali orang ini mengincar aku yang hanya terus menonton sejak lama.
"Aku tidak pandai berjudi aku hanya pandai berkelahi," kataku dengan jujur.
"Itu juga tidak masalah, cepat siapkan ringnya."
"Baik."
Dia tidak membiarkanku pergi, terlebih orang ini sangat yakin apa dia ingin bangkrut.
Apa boleh buat jika tidak meladeninya itu akan sulit.
Ring sederhana telah dipersiapkan untuk pertarungan kami, tentu yang akan menjadi lawanku bukanlah pemilik tempat ini melainkan seorang pria kekar dengan tubuh berotot.
Yang ingin kukatakan adalah kenapa lawanku membuka baju, apa dia tidak tau aku ini seorang gadis yang perasa dan tak tak tahan dengan tubuh pria.
"Curang, kau harus bertarung sendiri bukannya mengandalkan orang lain?" teriak Lifa.
"Aku ini pemilik tempat ini, tidak seharusnya aku harus ikut dalam pertandingan," balasnya demikian.
"Tapi.."
"Tak apa, biarkan saja."
"Um."
Sebelumnya dia memaksaku sekarang dia sendiri yang mundur, inilah gambaran pria pengecut, dan juga demi mengalahkan gadis sepertiku ini terlalu berlebihan.
"Sepertinya satu juta tidaklah cukup, bagaimana kalau 10 juta koin emas?"
"Aku tidak memiliki uang sebanyak itu, nyan."
"Jangan khawatir, bagaimana jika kalian mempertaruhkan tubuh kalian untuk bekerja di sini, itu sudah cukup menutupi kekurangannya."
Pria ini kurang ajar.
Hampir seluruh pandangan tertuju ke arah Lena.
Dia memang sangat cantik hingga di kota sebelumnya banyak pria yang menyatakan perasaan padanya.
Sayangnya itu merupakan hal sia-sia, karena pada dasarnya Lena penyuka sesama jenis atau lesbi.
Walau aku mengatakan itu pada mereka, tidak akan ada yang mendengarkan hanya satu jawaban yang akan diterima yaitu setuju dengan ini.
Aku mengangguk mengiyakan lalu masuk ke dalam ring, di momen tersebut tampak wajah keserakahan dari mereka semua.
Aku berkata.
"Aku hanya perlu mengeluarkan musuhku dari dalam ring dan aku menjadi pemenangnya."
"Benar sekali, tidak ada peraturan khusus kalian bisa bertarung selama yang kalian inginkan."
Pria di depanku terus menunjukkan kepalan tinju ke arahku seolah menikmati situasi ini, pria mana yang suka mukulin perempuan.
Saat bel dibunyikan kami bersiap bertarung.
Aku bisa saja meninjunya dengan satu pukulan namun itu hanya akan terlihat aneh jadi aku akan sedikit bermain di sini.
Pria di depanku mengirimkan tinju terbangnya, mungkin karena dia berpikir aku lemah pukulan tersebut begitu pelan.
Aku menahannya dengan menyilangkan tanganku hingga tubuhku sedikit terdorong ke belakang.
Di pukulan kedua dia sedikit menaikan tenaganya dan aku menahannya kembali.
Hal itu terus terjadi berulang-ulang kali.
Kesal karena tidak bisa menumbangkanku dia terus mengirim pukulan bertubi-tubi, semakin dia menambahkan tenaganya maka semakin kuat juga pertahanan yang kulakukan.
Semua orang selain anggota partyku tampak tercengang, di saat pria di depanku melemah kutinju wajahnya dan ia terbang menabrak dinding lalu menembus tiga rumah dengan tubuhnya.
Setelah keheningan itu, semua orang berteriak.
"Heeeeeeh."