My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 21 : Mengalahkan Naga Ini



Naga itu berwarna pasir dengan kumis melengkung di ujung mulutnya, saat ia menyemburkan api itu menciptakan kawah cukup besar dengan dihiasi jalur lava yang sangatlah panas.


"Biar aku yang melawannya, kalian mundurlah," atas pernyataanku semuanya bergegas pergi dariku.


Bahkan untuk Sofia dia mungkin tidak bisa dengan mudah menghadapi naga ini, levelnya jelas berbeda.


Aku melompat ke atas bangunan dimana pandanganku dan naga itu saling bertemu, aku berusaha berkomunikasi untuk membuat kesepakatan dengan baik.


"Halo naga nyan."


"Apa yang kau mau gadis kucing?"


"Aku ingin tahu saja, kenapa kau menyerang kota ini? Bagi seorang naga mereka termasuk makhluk yang agung yang tak memperdulikan manusia."


Naga itu tertawa.


"Seperti yang kau katakan, aku adalah makhluk agung.. karena itulah, aku menyerang manusia."


"Bisa kau perjelas?"


"Aku menyerang manusia agar mereka semua takut padaku hingga menyembahku, dengan itu mereka akan kujadikan sebagai budak yang akan melayaniku."


Aku mengerenyitkan alis setelah mendengarnya, sungguh menyebalkan saat seseorang ingin dipuja-puja. Tapi dengan ini aku mengerti seperti apa makhluk di depanku.


"Sayang sekali."


Naga itu memolotiku dengan tatapan mengancam, bagi orang biasa itu cukup membuat seseorang berkeringat dingin tapi bagiku itu hanya sebuah gertakan kecil, aku bisa menangkal apapun bahkan kemampuan intimidasi dari musuh yang akan kulawan.


"Kau mau menghalangiku anak kucing."


Panggilannya berubah dan itu membuatku sedikit kesal.


"Kenapa tidak? Kau tahu aku ini seorang petualang, kupikir melawanmu adalah yang harus kulakukan demi melindungi banyak orang di sini, awalnya kukira aku marah karena manusia membuat kesalahan padamu tapi malah kau sendiri yang membuat masalah, maaf saja aku akan menghancurkanmu dengan tinjuku."


Naga itu kembali tertawa dan itu menyebalkan.


"Memangnya apa yang bisa kau lakukan," katanya menyemburkan bola api padaku, aku menggunakan tangan kanan untuk mementalkannya dan itu meledak di sisi luar dari kota ini.


"Mustahil? Kau tidak bergerak sedikitpun."


Aku tidak tahu seberapa kuat serangan barusan, bagiku seperti melempar kapas. Naga yang marah itu mulai mengirimkan cambuk ekor padaku serta bola api berkelanjutan.


Aku melompat dari tempat satu ke tempat lainnya dengan mudah, hingga kepala naga itu mulai berputar pusing.


Ketika aku melihat celah aku menggunakan tinjuku dari bawah memaksa naga itu terbang ke atas langit.


"Gwuaaahhh... bagaimana seorang gadis kecil bisa memukulku seperti ini."


"Selamat tinggal naga."


"Tunggu..... aaaaaaaaaaarghhhhh."


Mereka semua yang melihat kekalahan naga mulai mengerumuniku termasuk teman seperjalananku. Sofia melompat ke arahku dan aku memeluknya dengan erat.


Semua pujian orang-orang mulai di arahkan padaku bahkan rasa terima kasih mereka sedikit membuatku malu.


"Hebat sekali Leona, aku tidak berfikir seseorang bisa mengalahkan naga dengan mudahnya."


"Yah, kukira mereka tidak sekuat yang kuduga," balasku pada Lena.


Untuk Snow White dia hanya memelukku senang, entah dia atau Sofia kurasa keduanya memiliki sifat yang kekanak-kanakan, ketika pikiranku dipenuhi hal itu seorang perwakilan dari tempat ini muncul lalu berkata padaku selagi memberikan selembaran poster naga.


Awalnya kukira itu poster pencarianku yang telah membunuh salah satu bawahan raja iblis akan tetapi itu hanya poster naga yang kukalahkan barusan.


"Lebih baik nona pergi ke kerajaan untuk mengambil hadiah Anda, itu cukup besar sayang jika terlewatkan dan kami semua akan bersaksi tentang itu."


Yap, itu adalah poster hadiah bagi siapa yang bisa membunuh naganya, kurasa aku harus melakukannya.


"Kita akan pergi ke istana Leona."


"Tentu saja."


"Wah, apa putri itu cantik... jika begitu aku ingin tidur bersamanya."


"Orang normal tidak akan mengatakan itu," balasku lemas.


"Hey Leona, aku ingin beli banyak makanan?"


"Tentu Sofia, tapi mulai sekarang jangan biarkan Lena menyentuh tubuhmu."


"Baik."


"Leona kau sangat kejam."


"Aku tidak ingin gadis kecil yang dekat denganku ternodai olehmu."


"Heeeeeh."


Aku menyerang Lena dari titik yang terlemah, dia adalah wanita yang bisa menerima wanita dan pria tanpa pandang bulu, betapa mengerikan itu.


Aku beralih ke arah Snow White yang sudah menjadi kuda putih sambil menarik kereta kami.


"Bagaimana denganmu, apa yang kau mau?" tanyaku demikian.


"Itu, aku suka sekali buah-buahan kalau boleh."


"Tentu saja, jika aku mendapat hadiahnya aku akan membelikan kalian apa saja yang kalian mau."


Kurasa memanjakan mereka sesekali tidak masalah.