My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 31 : Negara Lukisan



Kami tiba di sebuah negara yang cukup populer dimana hanya untuk masuknya saja perlu mengantri sangat panjang.


Dari tempatku aku bisa melihat tembok tinggi yang mengelilingi kota, terlebih di tembok tergambar sebuah lukisan yang berbeda-beda, ada yang bergambar malaikat, pohon, binantang serta apapun yang ada di dunia ini.


Saat tiba giliran kami mendaftar, seorang penjaga gerbang menjelaskan banyak hal.


Negara ini menyukai seni, dan setiap orang melukis apapun di tempat yang mereka sukai, di baju, jalan bahkan rumah mereka juga.


Setiap pengunjung yang datang kemari disarankan untuk tidak mengotori semua fasilitas umum, terlebih mengganggu para seniman yang sedang menggambar.


Setelah menyepakati hal itu kami diperbolehkan masuk ke dalam sana.


Seperti namanya Negara Lukisan memang suatu yang pantas disandang dari negara ini, lantai batu yang kami lalui sepanjang jalan di lukis dengan warna biru serta ikan-ikan yang tampak memukau seolah mereka hidup seolah kami bisa masuk ke dalamnya.


Bangunan sepanjang jalan juga tidak ada yang memiliki bentuk serupa serta lukisan mereka beraneka ragam, bagaimana mengatakannya? Ini luar biasa.


"Leona ada ikan besar," kata Sofia.


"Benar."


Disusul Lifa.


"Mereka juga menggambar elf meskipun sedikit erotis."


"Sepertinya elf tidak mungkin memiliki dada sampai sebesar itu?"


Aku meragukannya.


"Tidak, kami elf pasti akan memiliki dada sebesar itu saat umur kami sudah menginjak 500 tahun"


"Aku juga akan jadi elf."


"Jangan khawatir Leona, dadamu juga masih indah."


"Aku tidak ingin mendengarnya darimu," balasku ringan pada Lena yang berusaha menghiburku.


Kami memilih-milih tempat untuk menginap, orang-orang yang berlalu lalang sepanjang jalan tampak memperhatikan kami dengan seksama terutama para seniman yang entah kenapa ingin sekali melukis sesuatu di kereta kami.


Beberapa orang sempat mengajukan diri tapi aku dengan sopan menolaknya sampai akhirnya kami menemukan sebuah penginapan bagus dimana mereka menyediakan kandang kuda serta pemandian air panas.


Masih banyak uang tersisa di sakuku karena itulah kami bisa bersantai di sini tanpa perlu melakukan pekerjaan.


Aku melepaskan seluruh pakaianku lalu berendam dipinggir kolam, untuk Sofia dan Lifa mereka melompat lalu berenang seolah ini ada di kolam renang.


"Di mana Lena?"


"Memangnya dia penjahat."


Kupikir dia hanya akan menodai beberapa gadis polos.


Ketika aku menunggu akhirnya Lena muncul dengan kumpulan wanita yang marah di belakangnya.


"Apa dia temanmu?"


"Sayang sekali itu benar."


"Apa maksudmu Leona?"


"Jadi apa yang telah dia lakukan?"


"Jangan mengabaikanku."


"Dia menyamar jadi pria lalu menggepre kami.. aku tadinya ingin melaporkan masalah ini ke penjaga tapi saat kutahu dia juga wanita aku berubah pikiran."


"Tidak, lebih baik kau melaporkannya."


"Le-Leona."


Para wanita itu melempar Lena ke kolam air panas hingga air terciprat ke wajahku.


Itu pasti sakit.


Pada akhirnya Lena meminta maaf lalu kumpulan masa itu pergi.


"Kuharap kau bisa menyesal dengan tindakanmu barusan."


"Mana ada, aku merasa puas... aku akan mencari mangsa baru."


Lupakan saja, orang ini terlalu sesat untuk bisa melangkah ke jalan yang benar.


Aku mengelus-ngelus kulitku kemudian kembali memanjakan tubuhku dengan sensasi air hangat yang nyaman.


Lifa maupun Sofia yang sejak tadi bermain-main kini bersantai di dekatku.


"Nah Leona, setelah ini kita akan melakukan apa?" tanya Sofia.


"Kita akan tinggal di sini cukup lama, bagaimana kalau masing-masing dari kita membuat kegiatan yang kita sukai lalu mencoba semuanya," atas pernyataanku semua orang berteriak semangat.