My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 37 : Catatan Terakhir



Keesokan paginya salah satu dari kami ditemukan telah tewas di depan pintu, dia adalah seorang pria yang mabuk saat pesta semalam, organ tubuhnya seolah dicabik-cabik sesuatu dan semua isinya dikeluarkan begitu saja.


Hal itu memang menakutkan akan tetapi tidak ada yang berniat pergi, mereka malah menganggap semua itu ulah hewan buas.


Betapa bodohnya, apa aku harus menerima nasib seperti ini juga.


Hari xxx bulan x sekumpulan tengkorak yang kulihat memenuhi jalanan tiba-tiba saja bergerak pada malam harinya, masing-masing dari mereka menyerang kami dengan jumlah yang sangat banyak, karena kebetulan aku sedang di dapur aku segera berlari ke kamar kemudian bersembunyi di bawah tempat tidur.


Aku menutup kedua telingaku agar suara itu tak mencapaiku, beberapa orang dibunuh sangat brutal seperti sebelumnya organ tubuh mereka dikeluarkan, ini adalah mimpi buruk, ini adalah mimpi buruk.


Aku terus meyakinkan diriku akan hal itu hingga aku melupakan untuk bernafas hingga akupun pingsan, malam itu adalah malam yang tak bisa kulupakan.


Entah kenapa aku bisa selamat dan masih bisa bergerak pada keesokan paginya, aku keluar dari bawah tempat tidur dan kutemukan semua orang telah tewas, termasuk Bob yang menjadi pemimpin kami.


Beberapa kali aku melihat kondisinya aku terus memuntahkan isi dari perutku, sesuatu menarik perhatianku saat hendak berjalan pergi, tepat di saku pakaian Bob kutemukan sebuah buku kecil yang tidak pernah kulihat, aku mengambilnya demi melihat isinya, sungguh mengejutkan bahwa itu adalah buku harian seseorang dari penduduk kota ini, aku sudah membacanya lalu merobek isinya untuk di tempelkan di tengah buku harianku sendiri.


Hanya satu hal yang bisa kulakukan sekarang, yaitu segera keluar dari tempat ini sebelum malam hari tiba.


Aku meletakkan buku harianku di tubuh seorang wanita yang tewas lalu berjalan pergi, kuharap seseorang bisa menemukannya dan meninggalkan negara ini secepatnya.


Buku harian itu berakhir di sana.


"Negara yang mengerikan," ucap pelan Lena yang mendapatkan anggukan Lifa serta Sofia.


Aku mulai membuka buku harian itu ke bagian tengah dan kutemukan kertas yang disobek.


"Ada apa Leona?" tanya Sofia.


"Negara ini telah dikutuk, negara ini awalnya adalah negara makmur, suatu hari ada pengemis yang datang ke negara ini untuk meminta makanan, bukannya mereka membantunya mereka malah mencemoohnya serta menghujaninya dengan batu bahkan raja pun malah mengeksekusinya mati karena mencemari negara miliknya, sejak itu penduduk desa ini satu persatu mati lalu kemudian berubah menjadi tengkorak dan membunuh penduduk lainnya, hal itu terus terulang sampai semua orang mati."


"Begitu."


"Lebih baik kita juga pergi dari sini," atas pernyataanku semua orang mengangguk lalu pergi ke lubang sebelumnya, di sana ada sebuah tali yang bisa kami pakai naik ke atas.


Dari atas itu aku melempar buku harian masuk ke dalam lubang.


Pemimpin kelompok yang serakah yang telah membawa kematian pada anggotanya, dan penduduk kota ini yang tega membunuh pengemis begitu kejamnya, negara ini benar-benar sudah rusak sejak awal, karena aku sudah datang kemari jadi sudah tugasku untuk membantu negara ini agar dilupakan oleh semua orang.


Aku mengarahkan tanganku ke arah lubang tersebut lalu menggunakan sihir untuk meledakannya, sekarang tidak akan ada lagi yang bisa masuk ke dalamnya.


Lena sudah duduk di kursi pengemudi, sementara Lifa dan Sofia menungguku naik.


"Kita pergi."


Kereta kami kembali menyusuri jalanan setapak yang mana di kiri kanannya terdapat padang rumput indah. Saat kami melewatinya tampak seorang wanita dan anaknya sedang berjalan bersama.


Tidak jauh dari tempat kami ada sebuah desa kecil rupanya.


Wanita itu menghentikan kereta kami dan berkata dengan lembut.


"Apa kalian mampir ke negara bawah tanah?"


"Kami hanya mampir sebentar, seseorang yang baik telah memperingati kami untuk segera pergi," kataku demikian.


"Syukurlah... sekarang apa yang akan kalian lakukan?"


"Kami hanya akan terus berjalan, semoga harimu menyenangkan. Soal negara bawah tanah kurasa sekarang sudah tidak ada lagi."


"Begitu."


Lena memecut tali pengekang hingga kereta kami kembali melaju.


"Kenapa kau mengatakan itu Leona?" tanya Lena.


"Dia pemilik buku harian," atas pernyataanku semua orang hanya bisa terkejut.


Di bawah langit cerah di mana angin berhembus menggoyangkan rerumputan, wanita itu hanya menatap kepergian Leona dengan senyuman di wajahnya.


"Ibu?"


"Mari pulang, ibu akan masakan makanan enak."


"Um."