
Kami tiba di sebuah negara yang seluruhnya di kelilingi pohon apel, terdapat rumah-rumah sederhana di sekelilingnya dan salah satunya merupakan tempat yang akan kutinggali sementara waktu.
Aku juga berkerja di sini sebagai pemetik buah apel bersama Lena, Lifa serta Sofia, setiap paginya saat matahari belum bersinar terik aku sudah memenuhi semua keranjang yang sebelumnya kusiapkan.
Upahnya cukup lumayan, selain digunakan sebagai biaya perjalanan kami selanjutnya sebagian juga dihabiskan di kedai yang cukup enak di negara ini.
Hampir seluruh makanan dibuat dari apel kendati demikian beberapa makanan seperti daging dan sayuran juga ada, walaupun jarang ada orang yang memesannya selain kami.
"Tolong tambah lagi.. fuah."
Bir dihidangkan kembali untuk Lena, dia sudah menghabiskan 5 gelas dan masih bisa berdiri tanpa telihat akan rubuh.
"Dari setiap tempat, negara inilah yang sangat damai. Aku benar-benar sangat senang kemari."
"Kalau begitu bagaimana kalau kita menetap beberapa minggu saja lagi."
"Apa boleh?"
"Kalau semua tidak keberatan aku juga tidak masalah," balasku pada Sofia.
"Aku setuju," potong Lena yang mana mendapatkan anggukan kepala dari Lifa juga.
Sofia termasuk ras vampir tapi dia bisa juga memakan makanan seperti manusia, Lifa ras Elf, Lena ras Siren sementara aku adalah gadis kucing.
Sebelumnya aku manusia karena itulah kehidupan pedesaan seperti ini tidak terlalu berpengaruh padaku. Ketika aku memakan jus apel suara orang-orang dari dekatku mulai terdengar jelas.
Aku tidak memiliki hobi menguping, semuanya hanya kebetulan saja.
"Kalian tahu beberapa negara tetangga belakangan ini hancur oleh bencana alam."
"Aku sudah mendengarnya, padahal hari cerah tapi tiba-tiba saja hujan lalu sebuah tornado muncul menghancurkan semuanya, apa menurutmu itu tidak aneh?"
"Memang benar, seseorang mungkin sengaja melakukannya."
"Leona?" panggil Lena.
"Baiklah."
Aku meninggalkan kedai sendirian, di tengah kota ada sebuah papan yang ditancapkan di sana sebagai pusat informasi.
Sebelumnya tidak ada sesuatu yang terpasang, akan tetapi kini banyak orang-orang berkumpul dengan perasaan gelisah. Seperti yang kudengar di kedai beberapa negara hancur dalam semalam karenanya orang-orang mulai berfikir bahwa tempat ini juga akan mengalami hal yang sama.
Ketika aku membaca informasi itu seorang wanita bergaun mewah menarik perhatian semua orang, ada beberapa kesatria yang menjaganya yang membuat semua orang tahu akan sosoknya.
Dialah ratu dari negara ini.
"Jangan khawatir semuanya, kita belum tahu apa ini ulah seseorang atau murni bencana alam tapi aku telah menyewa beberapa petualang kuat dari guild untuk berjaga di negara ini, jika ada sesuatu aku yakin mereka bisa menyelematkan kita."
"Ratuku."
"Tolong selamatkan kami."
Semua orang terlihat menaruh harapan padanya, setelah menenangkan rakyatnya ratu itu kembali menaiki kereta kuda miliknya lalu pergi ke istana yang berada di atas bukit.
Entah kenapa firasatku buruk soal ini.
Aku mencoba mengeceknya sendiri ke luar kota dan kutemukan beberapa petualang sudah berada di sana, mereka terlihat kuat dengan peralatan yang mereka miliki.
Ada yang bersiap dengan busur, tombak, panah serta buku sihir, sebuah gambaran dari petualang biasanya. Seseorang menepuk punggungku hingga aku berbalik untuk memastikannya.
"Apa yang kau lakukan di sini gadis kecil?" suara itu berasal dari pria besar berjanggut.
"Aku hanya ingin melihat-lihat saja."
"Kau dilarang berada di sini, pergilah."
"Aku mengerti."
Orang yang tidak ramah sekali.