My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 45 : Hal Yang Terjadi Pada Kota Ini



Demi menjawab pertanyaanku kami mengunjungi tuan pemilik tanah ini yang merupakan seorang wanita bangsawan dengan kipas besar di tangan.


Biasanya keluarga bangsawan selalu diselimuti kegelapan tapi kurasa orang di depan kami hanya janda beranak dua.


Dia merentangkan tubuhnya di sofa, menguap lebar sebelum berkata ke arahku malas.


Sikapnya membuatku bergidik, aku bisa membayangkan jika semua bangsawan berperilaku seperti ini.


"Kota ini awalnya kota yang bahagia, bahkan ketika semua orang bersedih mereka akan tertawa dan hal itu disebabkan oleh kristal bahagia yang berada di alun-alun kota."


Aku melirik ke arah Lena lalu menggelengkan kepalanya tanpa aku bertanya apapun.


Sudah jelas kami tidak melihat kristal apapun di sana, dan si bangsawan melanjutkan.


"Suamiku menghamili 10 pelayan kami lalu pergi setelah mengambil kristalnya, di surat yang ditinggalkannya dia bilang bahwa dia akan mendirikan desa baru yang bisa dihuni olehnya dan para pelayannya."


Kutarik omonganku sebelumnya.


Bangsawan tetap gelap.


Lena mengambil alih, dia tidak terlalu tertarik dengan hubungan pria dan wanita, yang ia yakini hanyalah wanita dan wanita suatu hari mereka punya anak.


Sungguh pemikiran bodoh.


"Kenapa dia melakukannya sejauh itu? Bukannya Anda istrinya."


"Mungkin dia tidak puas denganku, awalnya kami hanya menikah karena politik demi keuntungan dua belah pihak saja."


Aku diam-diam menarik nafas lega.


Syukurlah aku tidak membawa Sofia dan Lifa kemari, hal seperti ini jelas pembicaraan cukup dewasa.


"Sebenarnya aku memiliki dua anak di luar nikah, pria yang melakukannya pergi entah kemana, agar tidak mencoreng nama viscount aku membuatnya menikahiku dengan iming-iming uang."


Ah, ini semakin gelap.


Aku tidak ingin dengar, aku tidak ingin dengar.


"Dengan kata lain kau tidak pernah ditiduri oleh suamimu."


Lena, kau melangkah terlalu jauh, kataku dalam hati.


"Sudah jelas, dia hanya topeng saja.. aku tidak rela rakyat jelata melakukan itu."


Sekali lagi kukatakan.


Lena seharusnya kau tidak menanyakan hal itu, kini alasan pria itu semakin jelas saja.


Walau mereka menikah mereka bukan suami istri di dalamnya, berbeda terbalik dengan pria dan pelayannya mereka melakukan banyak hal di sana, yang tidak ingin kukatakan.


"Bahagia tidak ditentukan dari Kristal, kalian bisa bahagia tanpa itu bukan."


"Itu mustahil, kami terlalu lama memakai kristalnya hingga efeknya berubah menjadi kebalikannya."


Ah, itu yang jadi masalahnya.


"Pria itu tidak tahu tentang itu, karenanya dia langsung membawanya."


"Bagaimana ini Leona?"


"Kurasa jika kita menjelaskannya dia akan segera mengembalikannya."


"Jika begitu bukannya Anda bisa melakukannya."


"Aku terlalu malas untuk keluar rumah bahkan malas meminta seseorang datang kemari ataupun menyuruhnya."


"Lalu bagaimana jika Anda harus keluar?" tanyaku menyipitkan mata.


"Ada beberapa pelayan di sini yang bisa melakukannya."


Aku melihat.


Semuanya pelayan cantik nan bahenol pantas saja pria manapun tidak akan kuat.


Tapi gambaran mereka seperti penduduk lainnya.


"Kalau begitu izinkan kami yang mengambil kristalnya, aku yakin kita bisa memulihkan keadaan kota ini sedia kala."


"Aku mengandalkan kalian berdua."


Dia mengatakan hal bagus sayangnya ucapan dan perbuatannya jelas bertolak belakang.


Setelahnya aku kembali ke penginapan untuk menemui Sofia dan Lifa, yang menunggu dengan tenang di kamarnya.


"Leona?"


Mata besar Sofia menatap ke arahku dan Lifa juga seperti itu.


"Kalian berdua malah mirip seperti anak yang ditinggalkan ibunya, kami berdua harus pergi ke suatu tempat dulu.. akan berbahaya jika kalian berdua ikut jadi bisakah kalian menunggu bersama di sini."


Sebenarnya yang paling berbahaya adalah Sofia, aku tidak ingin dia membunuh siapapun.


"Itu bukan hal sulit benarkan Lifa."


"Benar, aku tidak keberatan... dibanding dikutuk ini bukan apa-apa."


Yah, dia tidak bisa membandingkannya dengan hal itu.