My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 49 : Bermain Di Pantai



Berhubung kota yang kami kunjungi dekat dengan pantai, sayang jika kami melewatkannya.


Kami mengganti pakaian kami dengan pakaian renang sesuai yang kami inginkan, aku memilih warna merah muda dengan renda, Lena biru, Sofia putih dan untuk Lifa berwarna hijau.


Kami jelas terbuka.


"Uwah, Leona dadamu semakin besar boleh aku pegang."


Saat Lena menerjang ke arahku, aku memukul kepalanya hingga dia mengerang kesakitan.


"Sakit, kejam sekali."


"Tidak boleh ada yang melakukannya kecuali aku sendiri."


"Apa kau jatuh cinta pada dirimu sendiri?"


"Aku bukan orang seorang itu, yang jelas mari pikirkan apa yang sebaiknya dilakukan di pantai ini."


"Benar, godain gadis.... halo-halo."


Aku hanya menghela nafas panjang saat melihat Lena yang mengejar-ngejar gadis tak berdosa.


Orang itu malah membuat keributan di tempat seperti ini.


"Jadi apa yang akan kita lakukan Leona?" suara itu berasal dari Lifa.


"Bagaimana kalau kita mulai dengan bermain air, kemudian membuat istana pasir dan juga bermain voli pantai."


"Itu terdengar menyenangkan."


"Bagaimana menurutmu Sofia."


"Apapun yang Leona pilih, aku akan selalu senang."


Sofia adalah tipe adik kecil yang imut dan penurut, kau akan terus memeluknya seperti yang kulakukan sekarang.


"Sekarang mari bermain air," atas teriakanku kami bertiga segera pergi menerjang ombak yang tidak terlalu besar kemudian saling memercikan air ke tubuh dan wajah.


Aku bisa mendengar para penjaga pantai memberikan komentar mereka.


"Melihat para gadis membuat hatiku hangat."


"Aku juga... tunggu apa yang dia lakukan?"


Pandangan para penjaga teralihkan ke arah Lena dan mereka berdua langsung mengejarnya bersama-sama.


"Ada gadis mencurigakan di pantai harap kalian menjauhinya."


"Tiiidak! Leona selamatkan aku."


Kedua tangan Lena ditarik oleh para petugas pantai.


Salahmu sendiri.


Mari pura-pura tidak melihat.


Setelah beberapa saat kemudian dia kembali dengan wajah masam.


"Apa yang mereka lakukan padamu?"


Kuharap dia jera.


Aku mencipratkan air ke wajahnya.


"Asin... Leona terima serangan balasanku."


"Sofia, Lifa bantu aku menyerang Lena."


"Siap laksanakan."


"Uwah.. curang, kalian bersengkongkol."


Setelah lama bermain air kami mulai membangun pasir secara terpisah, kami akan menentukan siapa yang membangun istana paling indah dengan juri kami sendiri.


Aku lagi-lagi bisa mendengar petugas pantai berkomentar.


"Melihat para gadis membuat istana pasir sangat menghangatkan hati."


"Iya, aku juga merasakan hal sama... tunggu, di sana ada pria yang mencurigakan yang sedang mengejar-ngejar wanita."


"Mari tangkap."


Apa-apaan ini semua oi.


"Leona selamatkan aku?"


"Gue nggak kenal lu," teriakku demikian.


Dibilang tidak kenal juga aku tahu sedikit, dia adalah pria yang ditolak Lena sebelumnya. Tak kusangka namaku bisa terkenal di sini.


Mungkin karena sebelumnya aku juga menjual obat-obatan di kota.


"Selesai."


Yang pertama kali mengatakannya adalah Lifa disusul Sofia, Lena dan kemudian aku.


Masing-masing istana setinggi satu meter dengan bentuk berbeda.


Aku menciptakan istana pada umumnya yang mirip seperti ember terbalik.


Sofia, istana vampir miliknya yang mengerucut.


Lena istana yang mirip sebuah pohon.


Adapun untuk Lena itu terlihat sangat mewah, bertuliskan love hotel.


Orang ini sudah tidak bisa terselamatkan.


Dalam penilaian ini Sofia yang memenangkannya.


"Sofia sangat bagus membuatnya."


"Terima kasih," tepat saat Sofia berkata demikian orang-orang yang sebelumnya bermain di air mulai berlarian menjauhi laut.


"Cepat keluar, ada monster," salah satunya berkata demikian.


Kupikir yang akan muncul adalah gurita genit yang kebanyakan ada di novel dan komik, akan tetapi yang muncul adalah puluhan kepiting raksasa yang menargetkan manusia sebagai mangsanya.