My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 36 : Negara Bawah Tanah



Setelah berjalan cukup lama akhirnya kami menemukan tempat perhentian berikutnya, itu adalah sebuah lubang besar yang bertuliskan gerbang masuk dari sebuah negara.


Tempat ini cukup menarik bagiku, hanya untuk masuk kami harus berseluncuran tanah meski begitu, itu sepadan dengan apa yang akan kulihat sekarang.


Kota ini awalnya dihuni sekitar 8000 orang, namun sayangnya sudah tidak ada lagi orang yang hidup di sini.


Karena sebuah wabah, semua orang di sini telah dinyatakan tewas dalam waktu 200 tahun lalu, begitulah dari yang kudengar.


Kami mulai menyusuri negara ini tanpa mengabaikan keselamatan, di beberapa jalan tampak tengkorak dibiarkan begitu saja, jika harus dikatakan ini tempat yang bagus sebagai negara orang mati.


"Menurutmu wabah seperti apa yang telah menyerang negara ini?" pertanyaan itu berasal dari Lena.


"Entahlah, bahkan di beberapa buku yang kubaca tidak dituliskan apapun."


"Begitukah. Apa kita akan menginap di tempat ini?"


"Tidak, kita hanya mampir sebentar lalu melanjutkan perjalanan kembali, lagipula tempat ini sudah dilarang dimasuki orang."


"Kalau dilarang kenapa kita masih datang Leona."


"Itu karena aku penasaran."


"Heh, cuma itu?"


"Yah, aku ingin mengisi buku perjalananku dengan hal menarik."


Lena hanya mendesah pelan sementara Sofia dan Lifa memanggil namaku.


"Ada apa?"


"Coba lihat."


"Ini, bukan tengkorak dari 200 tahun yang lalu, mereka semua terlihat mati sekitar setahunan," kata Sofia memeriksa tengkorak lainnya.


"Jangan bercanda begitu," balas Lena dan Lifa mengangguk mengiyakan.


"Tidak, yang dikatakan Sofia benar.. ini uang yang sama yang dikeluarkan dari negara sebelah satu tahun lalu."


Aku mengembalikan uang itu pada saku bajunya, kemudian mengambil buku di dekapannya untuk membaca isinya.


Lena, Sofia, dan Lifa juga turut mengintip bersamaku.


Hari x bulan x setelah perjalanan melelahkan aku dan rekan perjalananku akhirnya menemukan sebuah tempat peristirahatan yang bisa kami gunakan untuk beristirahat, tempat itu bernama negara bawah tanah.


Saat pertama kali melihat tanda itu aku merasa bahwa hal aneh sedang menghantui kami, dan entah kenapa rasanya perasaanku sangat tidak enak. Beberapa kali aku meminta untuk meninggalkan tempat ini mereka tidak mau dengar.


Mereka selalu mengatakan mungkin saja ada harta karun yang tersembunyi di dalamnya yang sedang menunggu untuk diambil.


Sebuah pemikiran bodoh, aku ingin memaksa mereka keluar namun sayangnya aku hanyalah seorang budak yang mereka beli dari tempat kecil.


Hari x bulan xx kami mulai menjarah apapun dari setiap rumah yang kami masuki, si Bob yang merupakan pemimpin dari kelompok ini terus saja menertawakan setiap tengkorak yang dia temui dan terkadang ia menghancurkannya begitu saja.


Aku sudah memperingatinya entah kenapa mereka tak mau dengar.


Hari x bulan xxx, sejauh ini harta yang kami peroleh telah menumpuk. Bob menjadikan kelompok ini menjadi dua grup dimana jumlahnya sama-sama tiga orang.


Kelompok pertama akan menjual setiap barang jarahan, sementara kelompok lain kembali bertugas, karena aku budak aku ikut menjadi pengumpul harta karun lagi.


Hari xx bulan x, kelompok yang menjual barang jarahan telah kembali, selain membawa makanan mereka juga membawa anggota baru, wanita serta apapun yang mereka sukai.


Setiap malamnya mereka selalu bersenang-senang tanpa memikirkan apa yang telah mereka perbuat, mereka selalu berpesta sepanjang malam sampai akhirnya hal aneh yang kutakutkan terjadi juga.