My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 47 : Perampokan



Lena berbisik ke arahku saat kami menemukan kristal yang kami butuhkan berada di tengah ruangan tersebut.


"Leona bagaimana sekarang? Apa kita harus mengambilnya dan menyerang orang-orang ini."


"Itu terlalu ekstrim, mari tunggu sampai sepi... untuk sekarang mari kita berkeliling sebentar."


"Aku mengerti."


Aku bisa menduga bahwa pemilik museum ini sangat teliti, kristal yang kami cari ukurannya sekitar satu meter benda ini memiliki kebahagian sebagai efeknya meski begitu di saat yang sama memberikan kutukan. Namun di sini kristal itu diletakan dalam kaca yang dindingnya diberi mantra khusus agar mampu menyegel kekuatannya.


Tidak aneh bahwa yang ditunjukan di sini juga merupakan barang-barang terkutuk.


Lena merangkul lenganku selagi menyeretku ikut bersama.


Apa ini sebuah kencan?


Aku merasakan atmosfir seperti itu.


"Ini lukisan yang indah Leona, hampir seluruhnya merupakan lukisan yang menggambarkan berbagai situasi negara... benar, kita pernah pergi ke kota dewi air setelah itu kita berusaha menghindari tempat yang keagamaannya sangat ketat seperti di sana."


"Aku hanya tidak ingin terlibat masalah di tempat seperti itu lagi," kataku demikian.


Kami mulai melihat berbagai koleksi yang lainnya khususnya tubuhku yang tertahan oleh boneka terkutuk yang dibuat dari jerami.


"Aku pernah melihat ini, di masa lalu mereka menggunakannya sebagai teknik membunuh," ucap Lena percaya diri.


Tubuhku gemetaran.


"Leona?"


"Bukannya bonekanya menyeramkan."


"Benarkah, kupikir tidak begitu."


"Aku melihatnya melirik ke arahku."


"Mana mungkin cuma perasaanmu saja."


Entah itu benar atau salah aku tidak peduli, aku ingin segera pergi dari sini.


Bersamaan itu tiba-tiba saja museum ini meledak dahsyat, hingga aku maupun Lena menunduk.


Dari balik tembok yang berlubang itu sekitar lima orang pria memakai topeng menerobos masuk.


"Kami perampok, diam ditempat kalian atau senjata kami akan menusuk tubuh kalian... ambil semuanya teman-teman."


"Tunggu, semua barang ini terkutuk, jangan membawanya."


"Berisik."


Manajer museum yang berusaha menghentikannya mendapatkan tendangan di wajah hingga dia terlempar ke etalase di mana boneka terkutuk berada.


Saat dia melihatnya dia pingsan.


Boneka itu jelas menakutkan.


Lena hendak berdiri namun aku memegangi tangannya.


"Ada apa Leona? Kita harus?"


"Biarkan saja dulu, mereka mengambil kristal tersebut dan kita bisa mengambilnya lagi nanti di jalan."


"Mari tunggu mereka di luar kota."


Kami berdua pun pergi secara diam-diam.


Dengan menggunakan topeng sementara kami menghalangi kereta kuda para perampok yang melarikan diri.


"Siapa kalian?" tanya salah satunya.


"Kami adalah perampok yang merampok para perampok."


"Apaan itu? Jika kalian tak mau menyingkir maka kami ledakan."


Lena menjentikkan jarinya dan sebuah bola air langsung menyelubungi kepala perampok tersebut hingga mereka kehabisan nafas dan pingsan.


"Bagus Lena, mari kita ambil kristalnya."


"Oke, bagaimana jika kita ambil boneka ini juga?"


Aku memicingkan mata.


"Ogah."


Saat perampok ini sadar mereka akan tahu bahwa mereka telah berada di penjara.


Kami kembali ke kota sebelumnya lalu meletakkan kristal pada tempatnya, para penduduk yang biasanya lemas tak bersemangat, tiba-tiba berubah menjadi sosok luar biasa.


"Owh, tiba-tiba aku ingin berlari mengitari gunung itu."


"Aku juga, mungkin karena aku bahagia."


"Kalau begitu mari berlomba."


"Baik."


Dan dua orang meluncur dengan kecepatan tinggi.


Aku yang melihat hanya memasang wajah bermasalah.


Orang-orang yang sebelumnya mirip zombie kembali menjadi manusia.


"Kenapa kota ini kotor sekali, mari bersihkan semuanya."


"Benar."


"Hoh."


Wanita bangsawan yang memberikan kami misi pun muncul bersama para pelayannya, melihatnya tersenyum membuatku takut.


"Kerja bagus kalian berdua, kalian memang berhak mendapatkan banyak uang atas prestasi kalian... mari adakan pesta tiga hari tiga malam untuk merayakannya, aku sangat bahagia."


"Tidak, kami akan pergi sekarang kami sudah memiliki janji di tempat lain."


"Heh benarkah... sungguh disayangkan."


Jika kami terlalu lama beranda di sini bukan hal aneh bahwa kami juga akan terkena kutukannya hingga tidak bisa pergi ke dunia luar lagi.


Mari temui Sofia dan Lifa lalu meninggalkan kota ini sesudah mendapatkan upahnya.