My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 24 : Kota Berikutnya



Setelah meninggalkan daerah padang pasir, kereta kami akhirnya bisa kembali menyusuri hutan rimbun, aku duduk di bagian depan pengemudi sementara Lena dan Sofia masih tertidur di belakang.


Mereka berdua kesulitan untuk bangun pagi hari.


Aku mengambil sebuah apel dari tas lalu memasukannya ke dalam mulutku.


"Snow White, kau mau apel?"


Snow white dalam wujud hewannya berkata.


"Aku sudah cukup kenyang memakan rumput, kalau bisa aku ingin menyimpannya nanti."


"Tentu, kita memiliki banyak apel di sini," jawabku ringan.


"Nah Leona, apa kau tidak penasaran dengan kehidupanku sebelumnya?"


Aku tersenyum lembut.


"Aku sih penasaran, tapi aku tidak ingin seolah memaksamu untuk membicarakannya, setiap orang memiliki rahasia yang terkadang tidak bisa dikatakan pada orang lain."


"Leona."


"Kapanpun kau mau membicarakannya, aku akan bersedia mendengarnya... terlebih aku lebih ingin melihat Snow White menjadi manusia lagi."


Keheningan terasa diantara kami berdua sampai Snow White membuka mulutnya.


"Aku bukan manusia, melainkan seekor peri."


"Peri, maksudmu Elf? Tapi telingamu tidak mirip mereka."


"Itu karena aku menyembunyikannya... sebenarnya penyihir yang mengutukku tidaklah jahat melainkan akulah yang jahat."


Aku melihat.


"Dulu aku berfikir setiap ras itu lebih rendah dari elf, dan mengatakan mereka lebih seperti kuda yang harus bekerja sepanjang hidup mereka, saat aku mulai menjadikan manusia para budak seorang penyihir datang menemuiku lalu menyihirku menjadi seperti ini, aku sangat menyesal."


"Apa kau tahu penyihir tersebut?' aku balik bertanya.


"Karena kejadiannya sudah lama aku tidak bisa mengingatnya, mungkin ia sudah meninggal."


"Begitu, tapi bukannya harusnya sekarang kau bisa memaafkan dirimu sendiri."


"Tapi Leona aku?"


"Semua orang wajar memiliki kesalahan di masa lalu, aku kira sudah waktunya kau kembali ke wujudmu."


"Apa aku boleh?"


Snow White menghentikan langkah kakinya.


"Tentu saja, bagiku seseorang tidak perlu menanggung dosanya terus menerus, selagi dia menyesalinya dan ingin berubah menjadi baik, itu sudah cukup."


Snow white menangis.


"Terima kasih Leona."


"Lifa."


"Mulai sekarang kami akan memanggilmu sesuai namamu, di kota aku akan merubahmu menjadi sedia kala."


"Um."


Ketika Sofia dan Lena masih tidur, aku diam-diam mengganti kuda kami dengan kuda biasa yang berwarna serupa lalu menggunakan sihirku untuk menghilangkan kutukannya.


Dalam sekejap sosok Lifa sesungguhnya terlihat.


Yang membuatnya terlihat seperti kuda telah hilang dan digantikan telinga lancip.


"Woyah, wajahmu sangat cantik Lifa."


"Kau terlalu memuji Leona, aku masih seperti sebelumnya."


Lena dan Sofia mengintip dari dalam kereta.


"Apa kita sudah sampai?" tanya Lena.


"Seharusnya kalian sudah bangun dari tadi," kataku sinis.


"Maaf, aku terlalu banyak minum semalam."


Sofia menunjuk ke arah Lifa.


"Ah Snow White?"


"Selamat pagi."


"Heeh," Lena terkejut, reaksinya telat sekali.


"Mulai sekarang namanya adalah Lifa.. kalian jangan salah."


Keduanya tersenyum ramah.


"Aku lebih suka sosok Lifa seperti ini."


"Aku juga."


Kami kembali melanjutkan perjalanan, kota ini sebelumnya menjadi tempat perang antara pasukan raja iblis dan para kesatria kerajaan tapi sepertinya mereka memenangkan peperangan hingga kota ini telah pulih kembali.


Meski begitu, tidak semuanya.


Aku melihat beberapa anak kecil maupun orang dewasa duduk di gang-gang kotor dengan pakaian lusuh mereka.


"Leona?" panggil Lena memperhatikan.


"Walau umat manusia memenangkan peperangan, perang tetaplah perang, tidak ada hal baik dari semua itu."


Lena hanya bisa menganggukan kepalanya atas pernyataanku.


Akan lebih baik jika kami membantu sedikit karena itu, kami memutuskan untuk tinggal beberapa hari di sini.