
Sekembalinya ke rumah, makanan enak telah menyambut kami, tentu semua ini dibuat oleh Yuri dan ibunya.
"Ini enak sekali," kata Lifa.
"Semua bahan ini dipilih oleh Leona jadi semuanya jadi Lezat."
"Tidak, bagiku yang memasaknya yang hebat," balasku demikian.
Sejujurnya ini sudah lama semenjak aku merasakan masakan rumah.
Lena berkata ke arahku setelah menaruh sayuran di piring Sofia hingga dia mengembungkan pipinya.
"Leona kau menangis?"
"Ini sangat enak, enak sekali."
Yuri dan ibunya hanya tersenyum lembut ke arahku. Entah kenapa aku merasakan makanan yang pernah ibuku buat dahulu.
Setelah makan siang kami semua mulai mencari keberadaan nenek Yuri, karena para serigala sudah dikalahkan kami bisa leluasa pergi tanpa harus merasa takut lagi.
"Bagaimana?" aku berkata ke arah Sofia yang berdiri di atas genteng satu-satunya rumah di hutan ini.
Kediaman ini merupakan rumah si nenek.
"Tidak ada."
Yuri dan ibunya pergi ke tempat lain bersama Lena, sementara aku, Sofia dan Lifa memeriksa tempat ini.
Ketika aku berfikir akan menyerah, suara Lifa mendahuluiku, dia berteriak jauh dari samping rumah.
"Leona aku menemukan sesuatu?"
Sofia turun dari genteng dan aku berjalan mendekat ke arah Lifa yang sedang berjongkok selagi memeriksa jejak kaki di bawahnya.
"Dari jejaknya sudah jelas ini wanita tua, tinggi 150 cm, bertubuh gemuk."
Dia mungkin memilki kemampuan esper. Tanpa menunggu lagi kami semua mengikuti langkah kakiku sampai jurang, ada beberapa kaki serigala dari arah lain memungkinkan bahwa pemilik jejak ini sedang dikejar oleh mereka.
Lifa memunculkan ekpresi paniknya.
"Mungkinkah dia mati karena jatuh ke dalam jurang."
"Kita harus memastikannya dulu, Sofia coba turun ke bawah."
"Baiklah Leona."
Ketika kami menunggu dengan rasa khawatir, Sofia kembali membawa nenek itu di tangannya.
Paling tidak dia baik-baik saja, aku menggendongnya di punggungku lalu membawanya bersama Lifa dan Sofia menunju rumahnya sendiri, di halaman depan mereka juga ada di sana.
Yuri yang melihat kami berlari mendekat dengan cepat, sementara ibunya dan Lena menyusul dari belakang.
"Nenek?"
"Dia baik-baik saja, alangkah lebih baik jika mulai sekarang dia tinggal bersama kalian berdua."
"Aku ingin saja akan tetapi...." ibu Yuri menatap ke arah rumah di belakangnya.
"Jika itu alasannya akan kubawa saja bangunannya? Tolong bawa nenek."
"Baik."
Aku mendekat ke arah bangunan rumah itu kemudian meletakkan tanganku di dinding sampingnya lalu mengangkatnya degan ringan hingga ekpresi mereka memucat.
Rumah ini pasti memiliki kenangan berharga.
"Mari pergi."
"Ah iya."
Agar tidak merusak jalan yang kulalui, aku melompat di atas pohon beberapa kali, kemudian di atas bangunan rumah sebelum aku akhirnya meletakan rumah ini di samping rumah Yuri.
Aku menggunakan sihir gravitasi yang mana membuatku menjadi lebih ringan.
Dengan ini mereka akan hidup bersama dan untuk kami sudah waktunya melanjutkan perjalanan lagi.
Setelah mempersiapkan keberangkatan, nenek yang sebelumnya pingsan telah kembali siuman, dia mendekat ke arah kereta bersama keluarganya.
"Terima kasih banyak telah menyelamatkanku, kalau bukan karena kalian aku.."
"Tidak masalah, itu bukan hal sulit, malah kami yang harus berterima kasih sudah diizinkan tinggal di sini," balasku demikian.
Yuri dan ibunya menundukan kepalanya ke arahku.
"Lalu kemana kah tujuan kalian?" tanya si nenek.
"Soal itu, kami hanya mengikuti kata hati saja."
Petualang seperti apa yang menunggu kami, hal itu merupakan sebuah misteri, meski begitu selagi kami bersama semua hal akan terasa menyenangkan.
-----Selesai