
Dua orang telah kami kalahkan tinggal dua lagi yang harus kami urus, pertama aku menghajar orang di kota hingga kuberikan pada penjaga kota sebelum akhirnya melesat ke luar kota bersama Sofia.
Dibanding ketiganya orang inilah yang paling merepotkan, dia bisa mengalahkan seluruh petualang termasuk pria yang sempat mengusirku tadi.
Tubuhnya dua kali lipat dari tubuh orang dewasa semestinya, rambutnya panjang serta menyerang secara brutal walaupun hanya dengan tangan kosong saja.
"Kenapa kau datang kemari gadis kucing, pergilah... bawa temanmu juga."
"Leona."
"Tak apa, biarkan aku saja yang melawan pria ini, kau tunggu saja."
"Baiklah."
Lebih dari itu aku tidak ingin melihat darah lagi sekarang. Pria itu berteriak sebelum melesat ke arahku.
"Aku tidak tega melihat gadis imut teraniaya."
"Aku juga, padahal dia sangat imut."
"Kalian terlalu lebay."
Aku menghentakkan kakiku sekuat yang bisa kulakukan selagi memasang kuda-kuda, tubuhku memang mungil bahkan tanganku tidak sebesar orang dewasa pada umumnya.
Meski begitu.
Saat pria tersebut siap menyergapku aku mengirim tinjuku membuat hembusan angin di sekitarku saat pukulanku mengenai tubuhnya.
Pria malang itu berguling-guling di tanah kemudian terlempar sejauh 1km, ekpresi semua orang yang meragukanku berubah menjadi keterkejutan tanpa bisa mengatakan apapun.
Mereka akan belajar bahwa keimutan juga adalah kekuatan.
Walau wilayah iblis telah jauh dari manusia hal merepotkan tetap saja terjadi.
Aku mendesah pelan lalu mengajak Sofia untuk mencari keberadaan Lena dan Lifa, setelah menarik keributan sebanyak ini kami harus segera meninggalkan negara ini, tapi sebelum itu mari beli apel dulu.
***
Meninggalkan negara tersebut kereta kami telah mencapai perbukitan curam, syukurlah bahwa kereta kami masih bisa memasukinya.
Lena hanya duduk selagi memeluk kantong uang yang diberikan oleh ratu di negara apel, ratu itu cepat sekali bertindak.
"Dengan uang ini aku akan pergi ke rumah bordil dan menyewa beberapa wanita muda "
Orang ini sesat jadi tak usah dipikirkan, aku beralih ke arah Sofia dan Lifa.
"Kalau ada orang yang menjual darah segar aku akan membeli semuanya."
"Hal seperti itu sudah jelas tidak ada," balasku pada Sofia lalu Lifa melanjutkan.
"Aku ingin membeli makanan enak."
Aku dan Lifa memiliki pemikiran yang sama, tapi sebelum sampai ke negara lain kami hanya akan menikmati apel yang kubeli di tempat sebelumnya.
Kami telah melewati dua bukit dan sekarang masuk ke dalam hutan, kebanyakan di wilayah ini memang dipenuhi lahan hijau terkadang aku bisa melihat hewan-hewan masih terjaga baik jumlahnya.
"Ada wanita di sana?" teriak tiba-tiba Lena.
"Berhentilah untuk mengkhayal yang aneh-aneh."
"Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya."
Aku mengalihkan pandanganku ke arah samping mengikuti pandangan Lena hingga kutemukan seorang gadis bertudung merah sedang tergeletak di sana.
Beberapa serigala telah mengepungnya dari segala arah.
"Dia dalam bahaya."
"Biar aku saja," Sofia melesat keluar dari kereta, dengan kedua sayap menyerupai sayap kelelawar itu dia mampu menyelamatkannya tepat waktu dan mengusir beberapa serigala yang keras kepala.
Serigala dan Vampir memiliki hubungan buruk karena itulah Sofia terlihat kesal, aku, Lifa dan Lena segera mendekat ke arah gadis tersebut.
Lifa mencoba mengecek keadaannya.
"Dia hanya pingsan."
"Itu melegakan."
"Ini tugasku untuk membawa gadis ini ke kereta."
Aku segera menghentikan tangan Lena yang hendak menyentuhnya.
"Aku tidak akan membiarkan gadis ini ternodai."
"Kenapa Leona tidak percaya padaku?"
"Aku tidak akan mempercayai orang yang suka pergi ke rumah bordil," jawabku dengan pandangan bermasalah.