My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 55 : Kota Pertama



Melewati padang rumput landai kami bertemu beberapa kereta kuda lain yang tengah menepi di dekat sungai.


Akan lebih baik jika kami bergabung dalam perkumpulan kecil ini, dan mereka menyambut kami dengan secangkir teh yang mereka seduh sedemikian rupa agar rasanya terasa lebih nikmat.


"Hmm... jadi rombongan nona Leona juga hendak akan pergi dari negeri ini, kami sudah terjebak di sini selama satu bulan entah bagaimana nasib kami selanjutnya," kata pria tua yang menjadi pemimpin kelompok ini.


Mereka adalah kelompok pedagang yang singgah di sini dan terlanjur masuk ke dalam kota, awalnya mereka berfikir bisa masuk tanpa memberikan sejumlah uang yang diminta akan tetapi itu bahkan lebih sulit saat mereka juga dilarang berdagang di sekitar kota.


Berbeda dari kami yang merupakan para pelancong, mereka harus membayar tambahan uang lagi untuk izin berdagang, sungguh negeri yang mengerikan yang haus akan uang.


Kurasa jika hanya empat kereta yang terdiri dari keluarga utuh aku masih bisa membawanya bersamaku.


Aku menawarkan diriku untuk membantu hingga semuanya berterima kasih dengan senang, seorang bayi yang digendong oleh ibunya bahkan memainkan telinga kucingku.


Dia sangat imut.


Ada beberapa gadis yang menarik Lena jadi aku segera menghentikannya.


"Mau mandi bersama."


"Itu..."


"Jangan dekat-dekat dengan orang ini, atau kalian tidak akan bisa menikah lagi."


Mendengar hal itu semua orang serempak melarikan diri.


"Leona cemburu denganku, mungkinkah aku akan dinikahi."


"Sudah jelas mustahil."


Sofia dan Lifa yang mengurusi sup bersama beberapa perempuan lainnya mengajak kami untuk makan segera mungkin.


Kebersamaan ini sangat terasa nyaman.


Kota selanjutnya cukup jauh jadi kemungkinan besar kami akan tiba di sana saat matahari tenggelam.


Mereka tidak bisa masuk ke dalam kota karena itu mereka hanya bisa berkemah di luar kota saja, meski begitu aku akan mengunjungi mereka nanti saat aku membeli beberapa makanan di kota.


Bersama anggota partyku dan juga pria keluarga yang kutemui paling awal kami membeli beberapa roti hangat serta susu dalam botol yang akan dibawa Lena keluar.


Jika di kota lain harganya sama dengan harga daging sapi kualitas terbaik, mau tidak mau kami harus membelinya dengan harga demikian.


"Sofia dan Lifa tolong carikan beberapa selimut hangat di toko, dan untuk aku dan pria berkeluarga akan mencari beberapa minuman di bar."


"Di bar?"


"Kurasa orang tua menyukai minuman seperti itu."


"Kami mengerti."


"Serahkan padaku."


Bar adalah tempat di mana informasi bergulir, saat memulai sesuatu aku akan memulainya dari sana.


"Tunggu Leona."


"Kau terlalu lambat."


"Eeeh."


Akan jauh lebih baik jika aku menyamar jadi kucing imut.


Aku melihat.


Di dalam bar itu hampir meja telah terisi dengan baik, di antara pria petualang aku memilih kursi tepat di depannya selagi diam mendengarkan.


"Ini pertama kalinya aku datang ke tempat seperti ini, istriku pasti akan memarahiku."


Tak kusangka pria yang kuajak kemari adalah pria baik, di sini kita tidak datang untuk minum karena itu dia bisa menarik nafas lega.


"Tolong minuman tanpa alkohol saja nyan."


"Baik."


"Dan juga beri minuman terbaik pada orang-orang di belakangku."


"Saya mengerti."


Mendengar pembicaraanku pada pelayan, para pria yang kumaksud memakan umpannya.


"Ada seorang gadis imut yang membelikan minuman pada kita, kurasa ada maksud di dalamnya."


"Anggap saja ini permintaan maafku karena akan menyela pembicaraan kalian yang menyenangkan, berapa banyak informasi yang kalian bisa tawarkan padaku nyan."


"Seberapa banyak kau akan membayar?"


"Tergantung informasi yang kalian akan katakan, misal soal negeri ini."


Mereka tertawa terbahak-bahak.


"Kau gadis yang menarik, kami akan mengatakannya jadi bisa kau jatuhkan pedangmu."


Aku sekarang memang sedang menodongkan senjata itu pada salah satunya tanpa diketahui orang lain selain kami.


Aku bisa melihat ekspresi pria berkeluarga memucat.