
Gadis selalu memiliki rahasia di setiap hidupnya, tapi tak kusangka akan ada pemandangan seperti ini.
"Aku menyukaimu, tolong pacaran denganku," seorang pria misterius telah menembak Lena saat kami tiba di salah satu kota.
Apa yang akan dikatakan Lena selanjutnya...
"Maaf, tapi aku menyukai sesama jenis."
Ekpresi pria itu memucat dan ia jatuh ke tanah tanpa bergeming.
"SIALAAAAAANNNNNN.... AKU MEMBENCI DUNIA INI!"
Kuharap dia tidak mengakhiri hidupnya.
Aku yang bersembunyi di balik bangunan hanya diam mematung sementara Sofia dan Lifa yang sedang menikmati cemilan tampak kebingungan.
"Apa yang sedang kau lihat Leona?"
"Aku juga penasaran."
"Ada pemandangan yang tidak boleh dilihat anak kecil mari pergi ke tempat lain."
"Benarkah?"
Kami duduk di kursi kafe yang mempunyai tempat diluar ruangan. Angin semerbak bercampur aroma musim panas dapat kurasakan melewati rambutku yang berayun lembut.
Lena yang telah selesai dengan urusan datang dari kejauhan.
"Kalian semua ada di sini rupanya, kejam sekali karena meninggalkanku begitu saja."
Dia mengambil tempat di sebelahku lalu mengambil es krim di meja.
"Itu punyaku," teriakku.
"Bukannya kita sering berbagi, kita bahkan mengenakan pakaian dalam yang sama."
Oh dewi... kenapa hidupku seperti ini? Memangnya salah apa hingga aku berakhir seperti ini.
Ketika aku merenungkan semuanya cowok lain datang menemui Lena.
"Bisakah aku bicara denganmu."
Yang berkata itu adalah cowok super keren dan terlihat kaya.
"Aku mengerti."
Hanya menunggu lima menit Lena telah kembali, dia bersikap seolah tak terjadi apapun.
"Apa yang terjadi?" Sofia yang lebih dulu penasaran.
"Belakangan ini banyak cowok yang menyatakan cintanya padaku, bahkan beberapa dari mereka mengatakan cuma satu jam berapa harganya?"
Bukannya itu.
"Lalu Lena tolak semuanya?" potong Lifa.
"Benar sekali, bukannya aku tidak menyukainya tapi aku lebih suka Leona dari siapapun."
Ia mengatakannya dengan wajah memerah sementara aku menutupi telingaku frustasi.
"Jangan khawatir Leona, aku akan selalu menunggumu."
Tamat sudah.
Lifa berkata.
"Aku sedikit penasaran kita telah menjelajahi setengah dari dunia, apa yang akan kita lakukan jika misal kita telah pergi ke semua tempat."
Kami berempat adalah makhluk abadi, Lifa mungkin merasa gelisah jika kami akhirnya berpisah satu sama lain.
Itu wajar, ini sudah 10 tahun semenjak kami berpetualang dan kami sama sekali tidak berubah.
Aku akan mengutuk mereka yang bilang 'seiring waktu maka kau akan semakin dewasa' aku serius.
"Tentu saja kita akan selalu bersama Lifa, kita adalah keluarga, itu... setelah petualangan ini selesai mari cari tempat untuk menetap dan kita bisa tinggal bersama."
Ekpresi Lifa menjadi cerah.
"Itu pasti menyenangkan."
Sofia melanjutkan.
"Aku tidak akan pergi jauh dari Leona."
Aku tersenyum kecil padanya.
"Aku juga."
Aku tersenyum masam pada Lena.
"Kenapa kau berekspresi seperti itu? Ini tidak adil."
Baik atau buruk sikap mereka, mereka tetap saja keluargaku. Sementara aku memeriksa setiap buku yang kutulis dalam beberapa hari ini mereka bertiga memesan makanan.
Ada dua buku yang kutulis sekarang.
Pertama buku tentang petualanganku.
Dan satu lagi buku tentang semua tanaman serta berbagai ramuan yang telah berhasil kuciptakan.
Sebagai orang yang hidup di dunia lain dimana sihir dan pedang berada, hal seperti ini memang jelas sesuatu yang dibutuhkan kebanyakan orang.
Aku terkadang membeli obat-obatan murah lalu kuberi sedikit modifikasi hingga kujual di kota berikutnya dengan harga lebih mahal.
Dengan keuntungan seperti itu aku bisa dibilang kaya raya.
"Leona cepat makan, nanti makananmu dingin."
"Kalian memesankan makanan untukku."
"Tentu saja, kami masing-masing memilihkannya untukmu."
"Semuanya tampak enak, kalau begitu selamat makan."
Keseharian seperti ini yang membuatku merasa nyaman.