My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 54 : Negara Dengan Sistem Unik



Menyusuri jalanan setapak menembus aroma semerbaknya bunga, kami telah masuk ke wilayah negara lain.


Wilayah itu memiliki beberapa kota hebat yang terkenal meski begitu kami benar-benar tidak bisa diperboleh masuk sebelum membuat sebuah kartu izin masuk.


Biasanya itu bisa dilakukan dengan membayar beberapa koin perak pada penjaga kota tapi di negara ini semuanya berbeda, bagaimanapun ini adalah negara pariwisata yang sangat digemari banyak orang.


Meski begitu aku lebih suka menyebutnya sebagai negara serakah yang ingin memeras pengunjung sebanyak yang mereka inginkan.


Aku mengeluh itu pada Lena yang duduk di sebelahku untuk mengurusi semuanya di kantor pusat.


"Silahkan izin kalian."


Kami datang secara berkelompok namun kami dituntut harus memiliki izin masing-masing dan tak tanggung-tanggung satu orang 100 koin emas untuk satu kota, ada tiga kota yang akan kami lewati karena itu setiap kota kami harus membayar 300 koin perorang sebelum benar-benar bisa keluar dari negara ini.


Ada orang-orang yang tidak mampu melakukannya karena itu mereka hanya akan tidur di luar kota selagi kedinginan dan kesepian.


Makanan layak hanya ada di dalam kota karenanya itu bukan sesuatu yang menyenangkan.


Walau keberatan tidak ada tempat untuk mengeluh yang harus kami lakukan terus melanjutkan perjalanan, kami keluar untuk mengambil kereta kami yang terparkir di halaman kantor ini sebelum seorang berlari padaku.


Sofia dan Lifa telah naik lebih dulu dan mendengarkan dari atas.


"Anu... apa kau seorang pelancong?"


Aku menjawab 'Iya' kemudian melanjutkan.


"Apa ada hal yang bisa kami bantu?"


"Sebenarnya Keluargaku ada di kota lain, maukah kau mengantarkan pesan padanya? Aku mohon, walau uangnya tak besar aku akan membayarnya."


"Itu mustahil dengan harga setinggi itu aku tidak bisa membayarnya, bahkan walau aku bisa sampai di sana aku tidak bisa menghubungi orang di dalam kota dan penjaga cenderung tidak mau membantu."


Itu masalahnya.


Misal pria di depanku pergi tanpa membayar dia hanya akan berdiri di luar kotanya, orang yang berada di dalam tidak tahu bahwa dia mengunjunginya jadi sampai kapanpun keduanya tidak akan bisa bertemu.


Dia melanjutkan.


"Aku sebenarnya sedang berhemat untuk pergi ke negara lain, awalnya negara ini biasa-biasa saja, namun saat aku memutuskan berdagang jauh dari keluarga mereka malah merubah peraturannya."


Bahkan peraturan seperti ini juga diterapkan untuk penduduk sipil, sebenarnya seberapa serakah pemimpin negara ini.


Sebagai seorang yang dermawan yang memiliki banyak uang aku jelas harus membantunya karena itu.


"Aku tidak keberatan jika kau mau ikut dengan kami, aku bisa memberikanmu uang agar kau dan keluargamu bisa keluar dari negara ini."


"Itu bukan harga yang murah, apa kau yakin?"


"Tentu saja, aku banyak uang bagaimana dengan kalian?"


"Aku sama sekali tidak keberatan, aku yakin kau juga cukup menderita tinggal di negara seperti ini," kata Lena yang mendapatkan anggukan Sofia dan Lifa.


"Terima kasih banyak, meski begitu aku akan membayar uangnya semampuku bahkan jika harus memberikan perabotan di rumahku, aku tidak keberatan."


Dengan uang sebanyak itu dia pasti merasa tidak enak pada kami, jika dia sejauh itu maka aku hanya harus menerimanya.


Aku kembali untuk mendaftarkan diri demi pria malang ini, dan pada siang hari dengan dua kereta kami meninggalkan kota pertama.