My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 62 : Malam Pembunuhan Raja



Sebuah tangan terjulur padaku saat aku berada di dalam selimutku, tangan itu mulai meraba dari perutku kemudian turun ke bawah pusar, karena sensasi itu aku terbangun dari tidurku dan melihat bahwa Lena telah berbaring di sampingku.


"Jangan khawatir Leona, aku akan membuatmu hamil....Uwaahh."


Dan aku memukul wajahnya hingga dia menembus penginapan.


Yang barusan benar-benar serangan malam hanya saja dilakukan oleh sesama jenis, aku turun dan melihat Lena yang terkapar.


"Pukulan barusan mantap."


Apa dia berubah menjadi masokis sekarang, ini bukan pertama kalinya dia melakukan ini, pertama saat mandi, tidur, makan dan bahkan saat bersantai sebaiknya aku mengirimnya ke akhirat demi kebaikannya.


"Tunggu Leona, jangan memberikan pukulan itu, aku bisa mati."


Tenang saja ini akan cepat."


"Tidak."


Lena hanya duduk berseiza di jalan.


"Leona itu sangat imut aku benar-benar tak bisa menahan diri."


Aku menghela nafas panjang. Orang ini sudah tak tertolong lagi. Aku yakin para pria akan senang melihat dua gadis saling melecehkan satu sama lain.


Ketika aku memikirkannya beberapa penjaga mulai bermunculan, aku yakin jumlahnya terlalu banyak untuk dikatakan sebagai patroli.


Lena bangun dan mengikutiku mendekat ke salah satunya.


"Apa yang terjadi?"


"Seseorang telah membunuh yang mulia, kami bergegas mengejar pelakunya namun kami kehilangan jejaknya, apa kalian melihat seseorang berlari kemari?"


Jika tahu aku pasti akan mengatakannya.


Kematian raja sama dengan kematian kota ini. Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Pokoknya kalian kembalilah dan jangan keluar, atau kalian dicurigai."


"Biar aku tanya satu hal, berapa orang yang berjaga di luar kota?"


"Cuma empat orang."


"Itu tidak akan cukup."


Aku berlari ke arah gerbang kota, Lena pun mengikuti.


"Monster akan menyerang kota ini, cepat kerahkan pasukan ke luar kota."


"Tapi.."


Aku tidak membalasnya lagi.


Lena sudah mengerti apa yang kumaksud jadi dia terus berlari mengikutiku ke luar kota, kota ini di keliling tembok meskipun begitu aku ragu tidak ada monster yang tidak mampu menghancurkannya terlebih gerbang depan seluruhnya adalah terbuat dari kayu.


Aku berhenti sejenak untuk melihat penampilan Lena.


"Ada apa Leona?"


"Kupikir mulai sekarang kenakan bra saat kau tidur."


"Eh..."


Dia segera menutupi dadanya lalu berlari ke arah penginapan.


"Aku akan menyusul."


Untuk gadis ada sebagian yang sepertinya jadi aku tidak menyalahkannya.


Di depan kota aku menemukan empat penjaga yang segera menanyaiku.


"Ada apa? Kenapa malam-malam datang kemari?"


"Kalian belum menyadarinya, lihat ke depan sana."


Saat aku menunjuk ke depan, ratusan pasang mata merah menyorot ke arah kami. Para penjaga hanya menelan ludahnya dengan ketakutan intens.


"Pokoknya bunyikan peringatan dan panggil seluruh petualang untuk membantu."


"Ba-baik."


Sampai bantuan tiba aku akan menahannya, suara lonceng mulai terdengar jelas yang menandakan keadaan darurat, aku berjalan beberapa langkah dari gerbang kota.


"Nona di luar sangat berbahaya, kemarilah... aku punya permen."


Penjaga ini malah terlihat seperti penjahat yang mengincar loli, aku menghembuskan nafas panjang saat seekor serigala hitam datang untuk menyergapku.


Ia menjulurkan taringnya dan aku memukul wajahnya dengan keras membuatnya tewas dengan satu pukulan, satu ekor lagi muncul dan aku menginjaknya hingga tanah membentuk retakan kawah raksasa.


Sudah lama aku tidak seserius itu. Karenanya, majulah kalian semua.