
Membiarkan Lifa dan Sofia di depan kereta, aku dan Lena masih terdiam selagi menatap wanita yang masih tak sadarkan diri itu.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk membawanya bersama kami.
"Orang ini telah membawa kehancuran ke dunia ini selama puluhan tahun, kita harus membunuhnya," atas pernyataan Lena aku hanya menatap datar padanya.
Memangnya aku bisa membunuh seseorang yang terlihat tak berdaya ini. Ketika Beelzebub membuka matanya aku menyambutnya dengan senyuman ramah.
"Apa tidurmu nyenyak nyan?'
"Uwah."
Dia begitu terkejut hingga jatuh ke luar kereta lalu berlari masuk ke dalam hutan.
"Wajahmu sangat menakutkan Leona."
"Wajahku tidak seperti itu, dia mungkin mengalami trauma."
"Bisa juga."
"Aku akan mencarinya dulu, kalian tolong tunggu di desa depan sana."
"Berhati-hatilah Leona."
Aku turun dari kereta lalu mengikuti arah jalan yang dilalui oleh Beelzebub, dia masuk terlalu dalam ke hutan yang berbahaya. Kuharap dia akan baik-baik saja.
"Oi, Beelzebub."
Aku berteriak memanggilnya namun, yang muncul hanya kumpulan besar slime yang terbang ke arahku.
Slime itu makhluk mesum, karenanya.
"Akan kubakar kalian semua."
Aku mengelilingi tubuhku dengan api hingga membalutku dengan warna merah yang mana melenyapkan mereka semua tanpa jejak.
Aku tertawa saat momen itu terjadi.
"Sudah selesai, mari cari Beelzebub kembali."
Aku menemukan dia sedang duduk selagi memeluk lututnya di ujung tebing yang curam, raja iblis juga bisa depresi rupanya.
"Siapa?" tanyanya.
"Ini aku... yang tadi menyelamatkanmu."
"Maaf soal barusan."
"Tak apa."
Aku duduk di sebelahnya hingga dia membuka mulutnya.
"Aku ini sekarang bukan apa-apa lagi, aku telah jatuh.. jika kau berniat memukulku lakukan saja."
"Jangan mengasihaniku," teriaknya.
"Yah, aku tidak mengasihanimu juga, jadi bagaimana sekarang?"
"Entahlah, wilayahku telah lenyap para ras Iblis mungkin akan dijadikan budak pada akhirnya.. sebelum ini terjadi aku sudah meminta semua ras iblis berkumpul di wilayah ujung benua ini hingga hanya menunggu waktu saja."
"Mereka akan melakukan itu?" kataku sedikit terkejut.
"Aah, manusia lebih kejam dari yang kau bayangkan... mereka mengatakan bahwa iblislah yang memulai peperangan ini, mereka berusaha menguasai manusia namun, sebenarnya manusialah yang lebih dulu mengambil tanah kami.. aku hanya ingin membalas saja."
Aku mendesah pelan, sudah jelas ini bukan kebohongan meski begitu, aku sulit mempercayainya.
Walau penampilanku adalah ras kucing, aku tidak bisa memungkiri bahwa diriku juga manusia.
"Lalu berapa banyak pendudukmu?'
"Hanya 1000 orang."
"Lebih sedikit dari apa yang kupikirkan."
"Kami bukan makhluk seperti manusia yang hobi membuat anak."
"Aku mohon jangan katakan itu..
manusia tidak bisa jauh dari hal seperti itu," kataku lemas.
Beelzebub menatap ke depan seolah menatap tempat kosong di hatinya.
"Aku berharap para iblis mati saja dibanding menjadi budak manusia, aku tidak tega melihat mereka menjadi pekerjaan paksa, pemuas ***** ataupun hanya sebagai hiburan."
Sekarang aku sulit memutuskan mana yang benar dan salah, untuk sekarang aku hanya mengutarakan isi hatiku saja.
"Bagaimana kalau kau menyelamatkan pendudukmu, aku yakin tidak akan ada orang yang mengganggu kalian di sana."
"Meski kau bilang begitu, aku telah kehilangan kekuatanku."
"Aku bisa membantumu."
"Kau sudah gila, aku ini raja iblis kau mungkin akan dianggap sebagai pasukanku atau pengkhianat."
"Jangan Khawatir, aku tidak berniat membunuh siapapun entah manusia atau iblis, aku hanya ingin menyelesaikan masalah kalian dengan damai."
"Terima kasih banyak."
"Ngomong-ngomong aku juga pernah beberapa kali membunuh bawahanmu."
"Tak usah dipikirkan, kita sama-sama seperti itu."
Aku hanya tersenyum kecil ke arahnya, walaupun sebenarnya tangannya sedang mencekikku sekarang.