My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 34 : Vesta



Melihat pergerakanku, sang naga mulai mengalihkan perhatiannya padaku, dia membiarkan orang-orang melarikan diri begitu saja dan lalu menerjang ke arahku yang telah mengangkat satu rumah dengan tanganku ini.


"Kau berani sekali menghancurkan tempat ini saat aku ada di sini, rasakan."


Aku melemparkan bangunan di tanganku seolah itu bukan apa-apa, saat menghantam kepala naga dia langsung meledak yang mana menghasilkan cipratan cat air ke segala arah.


"Sudah beres, tinggal mencari pelakunya, aku melompat ke udara lalu mendarat ke sebuah atas bangunan di mana dalangnya berada.


"Jadi ini ulahmu, siapa namamu?"


"Ada gadis kucing imut kemari rupanya, namaku adalah Vesta, apa kau mau permen? Kau bisa duduk di pangkuanku selagi melihat lukisan yang kubuat."


"Orang sepertimu yang membuatku sangat marah, menyerahlah dan serahkan dirimu ke penjaga."


"Menyerah haha aku baru saja mulai... menurutmu apa itu seni?"


"Aku tidak pandai dengan hal seperti itu."


"Sayang sekali.. bagiku seni itu adalah membuat imajinasi menjadi kenyataan."


"Maksudmu dalam kanvas?"


"Tidak, maksudku di dunia nyata."


Pria itu menunjukkan sebuah lukisan yang mengerikan bertema kehancuran padaku, bisa kulihat kota-kota hancur dan langit tampak gelap gulita yang mana memancarkan kilatan petir.


"Jangan bilang "


Aku segera meraih lukisan itu, saat aku memastikannya kembali gambar yang dilukis telah menghilang.


"Sekarang nikmatilah hari-harimu."


Tanpa terduga sebuah ular melilit tubuhku hingga aku tak bisa bergerak. sementara pria itu tersenyum lebar.


"Tugasku di sini sudah selesai, semoga harimu menyenangkan."


"Tugas? Apa seseorang menyuruhmu?"


"Lebih sedikit yang kau tahu, itu lebih baik"


Aku segera menghancurkan ular tersebut sedangkan pria itu melompat jatuh ke bawah bangunan lalu menghilang tanpa bisa kurasakan keberadaanya lagi.


Sebenarnya siapa orang itu?


Aku menengadah ke atas langit yang berubah kelabu, tak lama kemudian bangunan kota mulai hancur sendirinya hingga berubah menjadi lautan api sama seperti yang dilukiskan pria tersebut.


Dengan ini aku tidak tahu harus melakukan apa lagi.


"Leona."


"Mari pergi."


"Apa tidak ada cara lagi menyelamatkan negara ini?" tambah Lena.


"Itu mustahil, dalang dari semua ini memiliki sihir yang unik.. lain kali aku akan menangkapnya dengan tanganku sendiri."


Aku naik ke kursi pengemudi sementara Lena berada di sampingku, untuk Sofia dan Lifa sendiri keduanya berada di belakang bersama barang bawaan.


Kereta kami mulai meninggalkan kota yang sedang diguyur hujan, tentu saja hujan itu merupakan sihirku juga.


Dengan ini aku bisa memadamkan apinya.


Jika aku benar kota itu akan sangat lama pulih atau mungkin juga akan ditinggalkan penduduknya begitu saja.


Itulah yang kupikirkan.


Hari sudah gelap saat kami tiba di sebuah padang rumput yang luas, ada gua tak jauh dari perhentian kami jadi kami memutuskan untuk tinggal sementara di sini.


Aku sedang membuat sup hangat saat Lena berdiri di hadapanku selagi memamerkan pakaiannya.


"Lihat ini Leona, bukannya pakaian ini imut?"


Yang ditunjukkannya adalah piyama berwarna biru.


"Aku juga membelikan untuk kalian semua, ini untuk Sofia, ini untuk Lifa dan ini untuk Leona."


"Terima kasih."


"Aku suka warna gelap," tambah Sofia.


Aku memicingkan mata ke arah Lena.


"Kenapa pakaianku sangat tipis?"


"Hanya itu saja yang tersisa di kota, maaf Leona.. biar aku bantu mengganti pakaianmu."


Aku menarik pipinya.


"Sakit, sakit, aku cuma bercanda... ini punya Leona yang benar."


"Begini lebih baik."


Untuk sekarang mari nikmati sup hangat sebelum tidur.