My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 61 : Alasan



Terlepas dari seperti apa perlakuan mereka, kami mengerjakan tugas dari guild semestinya kami mengalahkan beberapa monster katak di danau terdekat lalu menjualnya di guild.


Mereka memiliki daging yang lunak dan enak untuk dijadikan masakan jadi harganya cukup lumayan.


"Silahkan."


"Terima kasih."


Lena datang dengan sejumlah uang yang dia dapatkan setelah mengantri beberapa waktu, karena ada uang ini waktunya kami menggunakannya dengan cermat.


Maksudnya cermat di sini adalah kami ingin berbelanja.


Kami masuk ke dalam toko pakaian dalam yang di mana ini adalah menjadi area terlarang bagi gender berbeda, Lena sedang memilih-milih kesukaannya sementara aku membantu Sofia dan Lifa untuk memilih sesuatu yang imut.


"Ini sangat cocok dengan kalian berdua."


"Ugh... bukannya itu terlalu mencolok," balas Lifa.


"Jangan khawatir pakaian dalam dikenakan di dalam jadi tidak ada yang tahu... yang terpenting kenyamanannya, aku bahkan kenal beberapa orang pembela kebenaran mengenakan pakaian dalam di luar tapi mereka tidak masalah."


Lifa dan Sofia terkejut.


"Aku tidak ingin melakukannya."


"Aku juga."


"Coba kenakan dulu, jika tidak nyaman mari cari yang lain."


"Um."


Selanjutnya aku mengalihkan pandangan ke arah Lena, setelah dia membeli beberapa lingerie dia malah menggoda pelayan toko jadi aku harus menariknya menjauh.


"Kau membuat orang lain takut."


Bagi sebagian wanita digoda pria sudah takut, ini di goda wanita lagi bukannya itu bisa dimasukkan ke dalam kisah horor atau sesuatu. Aku tidak ingin membayangkannya.


Beberapa saat kemudian kami membeli banyak pakaian termasuk beberapa makanan siap saji yang bisa kami bawa ke dalam penginapan, sebelum ke kamar aku mengecek keadaan kereta kami di kandang kuda kurasa mereka merawatnya dengan baik.


Lena menjatuhkan dirinya ke atas ranjang sementara Lifa dan Sofia berbagi makanan diantara keduanya dan untukku aku kembali menulis petualanganku ke dalam buku.


"Ngomong-ngomong Leona, apa kau sudah tahu kenapa kota ini dibangun di dalam wilayah monster?" yang bertanya itu adalah Lena.


"Tentu, beberapa tahun lalu raja di negeri ini adalah pangeran di tempat lain, kudengar raja sekarang berada di perebutan hak waris di negara sebelumnya karena tidak ingin terlibat dia mengasingkan diri kemari dan dia akhirnya membuat negaranya."


"Cuma itu?"


"Memangnya kau ingin apa lagi? Mengingat ini wilayah monster tidak ada yang mau mengambil sebagai wilayah bagi manusia jadi konflik tidak akan terjadi di tempat ini, dalam pembuatan negara ini banyak orang yang bilang bahwa mustahil melakukannya mereka akan terbunuh suatu hari nanti dan kota ini akan menjadi kota mati kedepannya."


"Apa yang dikatakan mereka benar-benar akan terjadi?"


Atas pernyataan Lena aku mengangguk mengiyakan.


"Walau semua orang tidak menyadarinya aku tahu bahwa ada semacam sihir pelindung yang diterapkan di negara ini, sihir ini kemungkinan besar sihir yang digunakan raja agar monster tidak menyerang ke dalam kota namun..."


Aku diam sejenak lalu melanjutkan.


"Sihir ini hanya akan selalu ada ketika penggunanya masih hidup, jika penggunanya meninggal maka pelindung ini akan menghilang."


"Dengan kata lain sihir pelindung ini mengikis energi hidup penggunanya."


"Benar, ketika keluar kita melihat banyak monster yang mengerikan dan ganas, dengan menggunakan sihir pelindung biasa itu pasti sudah mustahil untuk mencegahnya masuk ke dalam kota terlebih jumlahnya juga terlalu banyak, jika itu aku.. aku akan lebih cepat keluar dari negara ini sebelum terlambat."