
Semua orang keluar dari gua secara bersama-sama, putri dan Duke juga saling melepas rindu dengan berpelukan.
"Leona."
Aku berusaha menjauhkan wajah Lena yang terus berteriak ke arahku.
Sofia ikut mendekat.
"Kau berhasil Leona, dari awal aku yakin kau bisa melakukannya."
Aku hanya mengelus kepala Sofia sebagai tanggapan, sementara Lena berkata ke arahnya.
"Aku ingin mendapatkan hadiahku nanti?"
Orang ini selalu ingat soal seperti itu.
Aku mendesah pelan lalu mengajak semuanya pergi ke istana, ini masih belum terlalu malam jadi tidak apa untuk membangunkan ratu.
Ketika aku mengabari hal ini, ratu berlari dengan pakaian piyamanya bersama para penjaga.
"Ibu."
"Putriku, syukurlah kau baik-baik saja."
"Maafkan aku."
"Tak apa."
Reuni ibu dan anak yang mengharukan, aku mengatakan semua hal yang telah terjadi pada semua orang termasuk kebenaran soal Duke. Ia menerimanya dengan senyuman di wajahnya.
Dari sini semuanya akan berjalan baik.
Orang-orang yang diculik oleh peri akan dikembalikan ke rumah mereka dan kami juga akan menerima bayaran besar untuk ini semua.
Pagi harinya sebuah pesta besar digelar sangat meriah, pertunangan Duke dan putri pun telah diumumkan namun, sayangnya kami sudah harus melanjutkan perjalanan kembali.
Setelah berpamitan kereta kembali berjalan, di sepanjang jalan Sofia memakan kue ikan di tangannya sementara Lena tersenyum selagi melirik langit biru.
"Indah sekali."
Dia sedang kumat.
Aku bertanya ke arahnya.
"Apa yang kau minta dari Sofia?"
"Dasar mesum... aku berfikir kita akan pergi ke gereja dan meminta seseorang mensucikanmu."
"Eh? Jangan lakukan itu."
"Tak apa Leona, aku tidak keberatan."
"Aku yang keberatan," teriakku.
"Selain itu tidak terjadi apapun, aku juga bahkan menghisap darah Lena sangat banyak."
Beginilah rasanya berada bersama orang-orang seperti ini. Aku membuka sebuah peta kemudian menentukan arah perjalanan kami selanjutnya.
Akhir-akhir ini dikatakan bahwa raja iblis telah memperluas wilayahnya, dan kami sebisa mungkin untuk menjauh dari tempat itu.
Lena yang duduk di sampingku mendekatkan wajahnya selagi menunjuk daerah berpasir.
"Bagaimana kalau kita datang ke sini? Daerah ini memang panas tapi ada beberapa kota yang nyaman untuk di tinggali."
"Awalnya kita hanya pergi menurut arah angin, sungguh disayangkan karena raja iblis kita harus memilih-milih tempat, bagaimana menurutmu Sofia?"
"Kemana saja aku tidak keberatan selagi bisa bersama kalian berdua."
Sofia menjalani hidupnya tanpa memikirkan apapun, terkadang aku sedikit iri dengannya.
"Baiklah, mari pergi ke sana Snow White?" atas pernyataanku kuda yang membawa kami berteriak semangat.
Kami melawati hutan misteri kembali, berbeda dari sebelumnya kini tidak akan ada lagi orang-orang yang diculik oleh peri. Para peri sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi jika mereka melanggar aku akan datang dan menghancurkan tempat ini hingga rata dengan tanah.
Syukurlah mereka bisa mengerti dengan cepat.
Untuk ratu sendiri telah ditangkap oleh pihak kerajaan, dia akan menunggu beberapa tahun sampai dibebaskan, itu lebih baik daripada aku membunuhnya.
Angin berhembus menerpa rambutku yang berwarna mewah muda, bercampur dedaunan yang jatuh dari pohonnya petualangan selanjutnya pastilah sesuatu yang menyenangkan.
Kami sampai di pandang pasir dalam dua hari, di sini terdapat bangunan yang mirip seperti yang ada di timur tengah, penginapan yang nyaman serta kedai-kedai yang menyajikan makanan beraneka ragam pun turut menghiasi pemandangan tersebut.
"Maaf Snow White, kau mungkin akan menunggu di penitipan hewan."
Snow white tiba-tiba saja langsung berbicara.
"Itu sangat tidak adil Leona."
Lena maupun Sofia berekspresi sama sepertiku yang terkejut, sebelum aku tahu apa yang terjadi Snow White berubah jadi manusia.