My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 46 : Sebuah Museum Sihir



Itu adalah siang hari yang cerah di salah satu desa kecil entah berantah.


Bersama Lena aku menyusuri jalanan utamanya yang masih dilapisi tanah serta kerikil yang ditata sedemikian rupa. Paling tidak di sini ada sekitar 20 rumah yang dibangun secara sederhana.


"Leona lihat itu?"


Yang ingin ditunjukkan Lena adalah para anak-anak kecil yang sedang bermain bersama, kami mendekat untuk bertanya.


"Itu... apa kalian bisa menunjukkan di mana rumah kepala desa?"


Salah satunya menjawab mengikuti temannya yang menunjuk ke bangunan paling belakang.


"Di sana."


"Aku mengerti, terima kasih."


"Hey, hey, boleh kakak ikut bermain... banyak permainan yang bisa kita lakukan untuk bersenang-senang."


Orang ini berbahaya jadi aku menyeretnya.


"Lepaskan Leona aku suka anak-anak... aku dan Leona bisa membuat anak sebanyak yang kita mau."


Aku menghela nafas panjang dan akhirnya tiba di sebuah bangunan yang dimaksud, bangunan ini lebih besar dari lainnya yang mana kurasa bisa menampung banyak orang.


Kami mengetuk rumahnya dan satu wanita berpakaian pelayan muncul dengan sopan.


"Cari siapa?"


"Kami ingin bertemu kepala desa, apakah ada?"


"Ah, suamiku pasti ada di kamarnya bersama istri yang lainnya... akan kupanggilkan."


"Maaf menggangu."


"Anggap rumah sendiri."


Aku dan Lena disuruh menunggu di sofa yang terasa empuk sampai sosok yang kami tunggu muncul dengan 10 istri.


Wajahnya tampak kelelahan tapi aku tidak berusaha menanyakan apa yang sedang dia lakukan.


Dia duduk depanku selagi bertanya.


"Aku kepala desa di desa baru ini? Apa yang bisa kubantu untuk kalian berdua."


"Kami ingin meminta kristal yang Anda ambil, bisakah anda berikan kembali."


Ekpresinya sedikit kesulitan.


"Kami hanya menginginkannya saat itu kami akan pergi, lagipula kurasa Anda sudah cukup berkorban di sana," mendapati perkataanku, dia buru-buru menundukkan kepalanya ke arahku.


"Maafkan aku, kristal yang kalian inginkan tidak bisa aku berikan... kristal itu telah aku jual untuk membangun desa ini, aku benar-benar minta maaf."


Lena yang membuka mulutnya pertama kali.


"Kau menjualnya, bukannya kau tahu benda itu berbahaya."


"Meski begitu itu masih memiliki nilai jual."


Aku melihat.


Jadi semua yang ada di sini dibangun dari uang tersebut.


"Anda masih tahu di mana kristal itu berada?"


"Aku menjualnya pada kolektor kurasa kristalnya disimpan di museum di kota besar."


Lena merosot dari sofa.


"Kita tidak bisa mendapatkannya dengan mudah."


"Memangnya kenapa orang itu menginginkannya, lagipula lebih baik jika tidak ada kristal tersebut... dipaksa bahagia bukannya itu terlalu kejam."


"Kristal itu memiliki efek ketergantungan, kini kota yang kau tinggalkan menjadi kota malas serta kota tidak bersemangat."


"Benar, walau mereka terpaksa bahagia kurasa ada kalanya mereka bahagia dari lubuk hatinya."


"Soal itu..."


Walau itu kota bahagia kurasa kehidupan kepala desa ini sebelumnya sama sekali tidak bahagia, dia menikah karena memerlukan uang untuk membantu tempat tinggalnya yang dulu merupakan panti asuhan.


"Benar bukan..."


Perkataan Lena semakin membuat kepala desa Harem ini merasa tidak nyaman.


Kurasa sudah waktunya pergi.


Kami berpamitan dan lagi-lagi harus berjalan jauh untuk sampai di kota tersebut, berbeda dari sebelumnya tempat yang kami tuju lebih besar dan beralaskan marmer-marmer indah.


Setelah berjalan sebentar kami menemukan tulisan museum. Tempat ini dibuka umum karena itu mari masuk.


Selain kami berdua di dalamnya banyak orang-orang yang memiliki ketertarikan sama, lagipula ini bukan museum biasanya.


Ini adalah museum sihir di mana berbagai benda seperti sapu, topi, cincin dan lainnya di pertunjukan.