My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 32 : Museum



Kami memutuskan pergi ke sebuah museum yang lebih populer dikalangan para pelancong dibanding penduduk setempat, bangunannya sendiri cukup megah dimana beberapa lukisan ditaruh semestinya.


Tentu tak hanya lukisan, di sini juga terdapat patung-patung yang memiliki nilai seni tinggi.


"Lihat ini Leona."


Sofia menemukan sesuatu yang menarik.


"Ada apa?"


"Lukisan yang bagus."


Wajahku memucat sementara Lena dan Lifa memilih beralih ke lukisan yang lainnya.


"Bagaimana menurutmu Leona?"


"Kenapa lukisan ini banyak sekali darah," balasku dengan senyuman aneh.


Seorang pria botak menjelaskan, aku sempat berfikir darimana dia muncul. Hawa keberadaannya begitu tipis.


"Lukisan ini menggambarkan peperangan yang terjadi di kota ini."


"Maksudmu peperangan semut melawan belalang?"


Seperti itulah yang dilukis di sana, mereka benar-benar serangga.


"Benar sekali, peperangan yang luas biasa bukan."


"Aku tidak tahu harus bilang apa."


Aku bersama Sofia mencoba mencari hal yang lebih menarik lagi, lukisan putri duyung.


"Terlihat enak Leona."


Lukisan burung.


"Kalau dibakar, pasti enak."


Lukisan naga.


"Naga juga kurasa enak kalau dijadikan sup."


"Kau cuma ingin memakan mereka semua," teriakku hingga semua pengunjung melirik ke arahku.


Sebagai seorang gadis harusnya aku bisa sedikit menahan diri, maafkan aku untuk kekacauannya. Sofia hanya tertawa kecil lalu menuntun tanganku ke tempat lain tepatnya berada di ruangan sebelah yang mana ruangan ini jauh lebih luas dari sebelumnya.


Lukisan yang jauh lebih besar pula dipanjang di sini dan juga terdapat tempat untuk kami bisa melukis sendiri.


Aku mengambil kuas untuk menggambar sesuatu yang kuinginkan, aku melirik ke arah teman-temanku.


Lifa menggambar lukisan sebuah desa di dalam hutan, dimana di atasnya terdapat kabut yang menutupi bagian langitnya.


"Apa itu desa kelahiranmu Lifa?"


"Benar Leona, ini pemandangan kota yang pernah kuingat kurasa sekarang pasti banyak berubah."


"Begitukah, itu pasti desa yang indah," balasku ringan.


Selanjutnya Sofia yang menggambar dirinya sendiri dalam mode wanita dewasa.


"Kurasa aku pernah melakukan ini di masa lalu."


"Sepertinya begitu."


Aku mengangguk mengiyakan, untuk Lena dia hanya menggambar pemandangan laut biru dengan cuaca badai.


Walau biasa yang terpenting gambarnya bukan hal aneh-aneh.


"Oh yah, kalau Leona melukis apa?" tanya Lena dan kedua lainnya berusaha mengintipku.


"Jangan lihat, lukisanku jelek."


"Eh.. curang, kami juga ingin melihatnya."


Aku mengambil lukisanku dan langsung berlari keluar, tentu saja mereka mengejarku.


"Sofia kau ke sana, Lifa ke sana, kita akan menyudutkannya bersama-sama."


"Baik."


"Tunggu, kenapa kalian sangat bersemangat?"


Sebelum aku bisa keluar dari museum, Sofia sudah berada di depanku selagi membentangkan tangannya, aku bisa saja menabraknya hanya saja aku tidak ingin membuatnya terluka.


Aku akhirnya memutuskan berlari ke samping, ada Lifa yang sudah siap menangkapku sayangnya aku bisa lolos dengan keluar melewati jendela kaca.


Ketika aku berpikir telah lolos sosok Lena sudah menangkapku.


"Menyerahlah Leona, biarkan kami melihat lukisanmu."


"Tidak."


"Memangnya sejelek apa?"


Aku berhasil menyeret Lena bersamaku, tak lama kemudian entah Lifa atau Sofia juga turut memegangi tubuhku.


Aku mendesah pelan.


"Apa boleh buat akan kutunjukan."


Lalu.


Ketiganya malah tertawa sementara aku hanya berusaha menutupi rasa maluku.


"Berhentilah tertawa," teriakku demikian.


Awalnya yang kubuat adalah lukisan kami berempat, karena lukisanku seperti itu, malah terlihat seperti Alien yang tak karuan. Bisa dibilang ini seperti lukisan anak TK, walau begitu mereka menatapku dengan senyuman ramah.


"Mari taruh ini di depan kereta kita," kata Lena bersemangat.


"Aku setuju."


"Aku juga."


"Kalian tidak bisa melakukan itu," teriakku demikian.