
Kami sampai di gerbang yang menghubungkan istana di dalamnya, seorang penjaga dengan ramah membawa Snow White dalam wujud hewannya ke tempat yang lebih sejuk.
Sementara aku, Sofia dan Lena diantar penjaga lain untuk menemui ratu dari kerajaan ini bernama Cleopatra.
Seperti namanya beliau sangat cocok menyandang ratu di kerajaan ini.
Kami dihadapkan dengannya yang duduk di kursi megah, jika dibilang kursi megah itu sebenarnya tidak jauh beda seperti sebuah sofa panjang yang ia bisa pakai tiduran.
Di kiri kanannya tampak pelayan yang mengibaskan kipasnya, sungguh kehidupan yang membuat semua orang iri.
"Mereka katanya telah mengalahkan naga pasir, yang mulia."
"Kau boleh pergi."
"Baik."
Penjaga itu meninggalkan kami bertiga, Cleopatra sendiri memiliki rambut putih dengan kulit kecoklatan yang eksotis jika aku bilang begitu.
"Apa kalian benar-benar mengalahkannya, aku akan senang jika kalian mampu menunjukkan buktinya."
Bagiku itu mudah.
"Tentu saja bisa yang mulia nyan."
Lena berkata ke arahku.
"Leona kau baru menyebutkan yang mulia nyan, kupikir dia bukan kucing."
"Bisakah kau diam dulu."
"Aku diam."
Lena melakukan hal yang tidak perlu. Tahukah dia kalau ketidaksopanan pada ratu bisa berakhir dengan hilangnya kepala kita, kurasa ratu tidak terlalu memikirkannya.
Seakan tahu apa yang kupikirkan, Lena menelan ludahnya lalu menunjukan sisi sopannya.
Dia akhirnya mengerti.
Aku mengeluarkan kepala naga itu dari sihir penyimpananku tentu saja, aku keluarkan seluruh tubuhnya hingga semua orang di ruangan ini terkejut.
"Ka-kau membawanya?"
"Penduduk kota menawarkan diri untuk menulis pernyataan tapi bagiku ini sudah cukup nyan."
"Aku tidak masalah, akan kah kau mau memberikannya ke istana? Jika demikian aku akan membayarmu lebih untuk ini juga... sisiknya adalah bahan terbaik untuk membuat senjata."
"Tentu saja, silahkan."
Salah satu suruhan ratu memasukan tubuh naga itu ke dalam sihir penyimpanannya kemudian berjalan pergi, bersamaan itu satu orang lagi meletakan sebuah peti besar di hadapan kami.
Hanya Sofia yang tidak berpengaruh dengan situasi ini dan selalu memegangi tanganku.
"Tahan sebentar lagi."
Ketika kami melihat ke dalamnya sebuah koin emas menjadi satu-satunya pemandangan kami.
"Ini terlalu banyak," kataku.
"Jangan khawatir, bawa saja.. sebenarnya hampir 50 tahun naga barusan berkeliaran di tanah ini, aku senang naga tersebut berakhir di generasiku."
Aku baru menyadarinya, apa aku telah melakukan hal besar? Untuk sekarang aku memasukannya ke dalam sihir penyimpananku saja.
Seperti yang kulihat kerajaan ini lebih memberi kekuasaan pada wanita.
"Jika ada permintaan lain aku tidak keberatan untuk mengabulkannya."
Aku melirik sekeliling orang-orang di sekitar ratu, beberapa terlihat tidak senang dengan apa yang kuterima, terlebih pria tua yang menjabat sebagai perdana menteri itu membuatku sedikit kesal.
Jika ada sesuatu yang kuminta adalah segera pergi dari sini.
Ratu mengizinkannya dan kami secepat mungkin keluar dari sana.
"Snow kita kembali."
"Baik Leona."
Lena terlihat sedikit heran.
"Awalnya kukira Leona akan meminta jamuan atau sebagainya?"
"Aku sempat berfikir itu tapi rasanya ada yang aneh dengan perdana menteri itu."
"Ah, pria kumis itu."
"Aku bisa merasakan bahaya darinya."
Tanpa mengatakan apapun lagi, kereta kami sudah meninggalkan jauh dari istana. Sebelum kami memasuki kota beberapa orang mengenakan pakaian serba hitam menghadang kami.
Lena bertepuk tangan sekali dengan wajah senang.
"Seperti yang dikatakan Leona, kau benar."
Padahal di situasi seperti ini dia lebih khawatir bukannya bahagia.
"Sefon bisa kau mengurus mereka?" tanyaku padanya.
"Tentu saja Leona, aku hanya akan menyisakan satu orang agar kalian bisa mengintrogasinya."
Mata perak Sofia berubah menjadi merah.