My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 57 : Kota Terakhir



Di kota ketiga di luar dugaan rombongan kami semakin besar, itu hampir mencakup jumlah orang yang hidup di desa pada umumnya.


"Seperti yang diduga oleh nona Leona, kini semua orang berbondong-bondong mencoba meninggalkan kerajaan ini," suara itu berasal dari pria berkeluarga yang menggendong putrinya di bahu.


Sebelum aku menanggapi pernyataannya, Lena telah datang dari luar kota.


"Gawat Leona, sepertinya para penjaga mencegah semua orang lewat... kini kota ini juga melarang semua orang untuk keluar."


"Itu sangat buruk, jika mereka telah bergerak sejauh itu maka sudah jelas kerajaan ini dalam ambang kehancuran."


"Benar, syukurlah hanya kita saja yang memutuskan masuk ke dalam kota ini," balas Lena demikian.


Seperti saat kami mengunjungi dua kota sebelumnya, rombongan yang ikut dengan kami hanya menunggu di luar.


Tak lama kemudian sebuah suara terdengar jauh dari arah kami, aku melirik ke arah suara itu datang dan melihat bahwa seorang perwakilannya telah berdiri di podium untuk menyampaikan pengumuman bersama para penjaga yang bertugas mengawalnya, dia berkata.


"... Ini perintah raja bahwa semua orang di kerajaan ini dilarang untuk meninggalkan kerajaan, jika ada yang melanggar beliau akan menjatuhkan hukuman berat dan untuk masalah peraturan dimana seorang harus mengeluarkan uang untuk berpergian akan dihapuskan... sekian dan terima kasih."


Bagiku itu sudah sedikit terlambat.


Orang-orang mulai berbisik satu sama lain, hampir seluruh orang menolaknya bahkan dari mereka sudah kehilangan banyak uang karenanya, hingga semua hal konyol yang barusan terdengar menjadi sebuah guyonan bagi mereka.


"Dihapuskan, lucu sekali... aku ragu bahwa mereka akan melakukannya."


"Itu benar, aku pikir mereka akan membuat peraturan yang baru untuk menguras uang kita."


"Apapun yang terjadi kami harus pergi dari sini, aku yakin di luar sana ada kerajaan yang lebih baik untuk kita tinggali."


"Setuju."


Mendengar itu tanpa sadar aku tersenyum kecil, jika kerajaan menghalangi yang harus aku lakukan hanyalah menerobosnya.


Siang hari itu di dekat tembok yang mengelilingi kota, aku telah siap dengan pukulanku. Mengisi energi tepat di sana aku meninju permukaannya hingga.


BAM.


Suara memekakkan telinga terdengar saat puing-puing tembok berjatuhan hancur, orang-orang segera berkumpul untuk melihat lubang yang kuciptakan.


Angin berhembus mengibarkan rambutku tatkala aku mengutarakan perkataanku pada semua orang yang berkumpul.


"Aku ingin pergi, siapa yang mau ikut silahkan lakukan saja dan siapa yang akan tinggal kalian juga bisa melakukannya... mari pergi."


"Baik."


Hari itu juga kami bergegas melanjutkan perjalanan. Bersama rombongan yang mengikutiku kami menerobos setiap penjaga yang mengejar kami.


Lena datang dengan sihirnya, begitu juga Sofia dan Lifa membuat mereka berhamburan tanpa daya.


Saat sekumpulan para penjaga muncul di depan kami. Aku melompat untuk memberikan sihir angin tornado.


"Gyaaah... lari, kita tidak akan menang."


"Mereka monster."


Pada akhirnya kami berhasil keluar dari kerajaan dan di sinilah kami akan mengakhirinya dengan perpisahan, aku bertanya ke arah pria berkeluarga.


"Jadi apa yang akan kalian lakukan mulai sekarang?"


"Dengan jumlah sebanyak ini kami pasti akan kesulitan untuk tinggal di kerajaan yang lain."


Itu memang benar, mereka semua lebih tepat disebut berada dalam migrasi besar-besaran.


Dia melanjutkan.


"Karena itulah kami akan membuat negara demokrasi sendiri di mana kami hanya menerapkan pajak kecil untuk memajukan negara.. kami yakin, kami bisa membuat negara impian kami sendiri yang nyaman untuk ditinggali."


"Aku mengerti, apapun itu semoga beruntung."


"Kalian semua juga, sekali lagi kami sangat berterima kasih."


Semua orang membungkuk ke arah kami sebelum akhirnya mereka mengambil jalan berbeda. Jika ada kesempatan aku ingin mengunjungi negara yang mereka buat namun kurasa itu pasti mustahil.


Kami juga harus melanjutkan perjalanan kami sendiri.


"Mari pergi Leona."


"Iya."


Beberapa bulan setelahnya dalam perjalanan aku telah mendengar desas-desus soal negara baru dari banyak orang yang kulewati, mereka berkata bahwa itu adalah negara yang indah di mana semua orang selalu bahagia dan sebagian orang berbondong-bondong untuk melihatnya.


Pajak yang diterapkan di sana sangatlah minim dan hampir tidak ada orang yang berdebat satu sama lain, sebuah negara yang orang bilang nyaman untuk ditinggali.


Apakah tempat itu sama dengan apa yang kupikirkan?


Tepat saat aku bergumam demikian tiba-tiba saja seorang pria paruh baya menghentikan kereta kami. Dia berteriak dengan arogan.


"Berhentilah kalian semua, aku adalah raja di negara ini... kalian harus memberikan kesetiaan kalian dengan memberikanku banyak uang dan baru itu aku akan mengizinkan kalian untuk pergi."


Pria itu berpenampilan lusuh dengan jahitan tambalan di sana sini, sebelum kami tahu apa yang terjadi seorang gadis muda muncul lalu merangkulnya.


"Hentikan ayah, kamu sudah bukan raja lagi.."


"Apa maksudmu? Aku ini masih raja putriku, suruh seluruh bangsawan menghadapku."


"Mereka sudah tidak ada, mereka saling membunuh untuk memperebutkan uang yang tersisa... mari pergi," gadis itu menyeret ayahnya yang sepertinya telah kehilangan akalnya lalu beberapa kali meminta maaf pada kami.


Aku menghentikan mereka berdua.


"Maafkan aku nona, tapi aku punya sedikit uang... tolong diterima."


"Ini."


"Kami akan melanjutkan perjalanan kami, kuharap ini bisa sedikit membantu."


"Terima kasih banyak," katanya berlinang air mata.


Dengan uang itu, itu sudah cukup untuk membeli rumah, pakaian dan juga makanan.


"Kalau begitu selamat tinggal."


Aku melirik lagi ke arah putri yang pergi bersama ayahnya tersebut selagi sedikit memikirkannya.


"Mungkin cuma perasaanku saja."