My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 44 : Kota Bahagia



Namaku Leona, seperti yang kau lihat aku adalah orang yang bereinkarnasi ke dunia ini di mana sihir dan pedang berada.


Bersama anggota partyku terdiri dari Lena, Sofia dan juga Lifa kami menjelajahi luasnya dunia tanpa arah dan tujuan.


Dan ini sudah setahun semenjak aku datang kemari.


Merasakan hembusan angin yang menerpa wajahku, kereta kuda kami telah sampai di sebuah tempat yang disukai orang-orang.


Tempat ini dinamakan kota bahagia, di kota ini orang-orang akan merasa selalu bahagia hingga mereka melupakan apapun kesedihan yang mereka dapatkan. Namun, saat aku tiba itu sama sekali jauh dari kata bahagia.


Lena yang lebih dulu memprotes.


"Apa-apaan ini, bahagia apanya.. mereka terlihat kacau balau, aku bahkan melihat kegelapan di punggung mereka.. padahal sebelumnya aku berfikir akan menyewa beberapa gadis setelah sampai di sini."


Orang ini sesat jadi tidak usah dipikirkan. Lena berasal dari ras Siren yang terbilang jarang, alih-alih menyukai pemuda tampan ia lebih menyukai wanita lagi.


Sisanya kau bisa membayangkannya sendiri.


Di sisi lain Sofia dan Lifa menghela nafas panjang.


Keduanya pasti kecewa.


"Karena kita sudah datang kemari, mari gunakan kesempatan ini untuk beristirahat."


"Baik."


Kota memang tidak bahagia tapi itu bukan berarti kami juga harus seperti mereka. Aku memarkir kereta kuda di gudang sebelum kami pergi bersama-sama ke dalam penginapan.


Tak hanya tidak bahagia, mereka juga malas.


"Tolong satu kamar," kataku pada receptionis dan ia hanya menguap malas dengan pose lemas.


"Silahkan tulis saja sendiri, banyak kamar kosong juga jadi pilih yang kalian sukai haaah."


"Kau baik-baik saja?"


"Tidak masalah, aku tidak bahagia."


Bagiku dia bahagia karena mager.


Kami mengabaikan semuanya untuk bisa melompat ke atas ranjang.


"Aku tidur dengan Leona."


Aku mendorong wajah Lena yang terus mendekat ke arahku, di antara hal menakutkan selain laba-laba serta badut gila adalah ketika kau menyadari bahwa teman perempuanmu ternyata Yuri.


Di sisi lain Sofia dan Lifa saling merapihkan rambut.


Keduanya mengikat rambutnya ke atas.


"Kupikir aku harus menjaga rambutku agar tidak berantakan saat tidur," balas Lifa lalu dilanjutkan Sofia yang mengangguk mengiyakan.


"Aku ingin bisa secantik Leona."


Itu sebenarnya tidak ada sangkut pautnya tapi mari setuju dengannya.


Penginapan sudah didapatkan, kini yang harus kami lakukan adalah menjelajahi kota ini terlebih aku juga sedikit lapar.


Wajar saja ini sudah siang hari, karena kelelahan kami tidur sedikit lebih lama dari biasanya.


Dengan acak kami memilih kedai yang tidak jauh dari penginapan.


"Tolong berikan apapun yang terasa enak di sini."


"Haah, baik. Aku sangat malas."


Yah, jika dia malas harusnya tidak usah bukan kedai juga kali.


Aku mengambil daging panggang pesananku lalu memakannya dengan lahap. Rasanya aneh juga karena di sini hanya kami berempat yang terlihat menikmatinya.


Ada yang tampak terbaring di lantai dengan makanan hewan peliharaan, ada yang menempelkan tubuhnya di dinding dan ada juga yang berpantonim.


Yang terakhir itu menakutkan.


Mari jauhi.


Lena menggebrak meja kesal.


"Ada yang salah dengan kota ini, lihat itu masa dia masih memakai baju tidur?"


"Apa masalah buatmu?"


Lena menunjuk pria botak yang berjalan seperti zombie.


"Aku tidak mau bekerja, aku tidak mau kerja, aku tidak mau berkerja."


"Kalau tidak mau, jangan pergi," teriaknya demikian.


Jelas ini tidak masuk akal, kemana kota bahagia perginya.


Bukan hanya jadi kota suram, kota ini juga jadi kota malas.