
Di antara orang-orang yang sedang menawarkan barang dagangannya aku membeli apapun yang kusuka seperti daging, ikan dan bahan mahal lainnya.
"Le-Leona?"
Ibu Yuri tampak terkejut tapi bagiku kualitas makanan ditentukan dari bahan yang terbaik.
"Aku yang akan membeli semuanya."
"Itu..."
"Apa aku bilang bahwa seseorang bisa menolak keinginanku."
Ibu Yuri menjatuhkan bahunya lemas.
"Aku mengerti."
Mungkin seperti inilah rasanya pergi bersama seorang ibu berbelanja, ketika di dunia lamaku aku selalu sakit dan orang tuanku terlalu sibuk bekerja, mungkin itu salahku juga karena mereka terus-menerus membiayai perawatanku di rumah sakit.
"Leona, kau baik-baik saja?"
"Tidak masalah, mari pergi."
"Jika kau sakit kita bisa kembali sekarang."
"Aku tidak apa-apa."
Kami menghabiskan waktu sedikit lebih lama dari apa yang aku pikirkan, saat kembali ke rumah Yuri telah menunggu.
"Curang sekali aku tidak diajak," kata Yuri.
"Lain kali ibu akan mengajakmu, mari bantu ibu memasak ini."
"Baik."
Aku hanya memperhatikan keduanya berjalan masuk ke dalam, Lifa dan Sofia masih berada di pekarangan jadi aku mendekatinya untuk melihat keduanya.
Umur mereka tidak bisa dibilang masih muda akan tetapi kurasa pemikiran mereka berada di usia 10 tahunan.
"Kalian berdua," kataku lemas.
"Lihat ini Leona, mereka sangat kuat."
"Aku pasti akan menang dan mendapatkan gelar pemenang," kata Lifa.
"Aku tidak akan kalah."
Mereka berdua sedang mengadu kumbang tanduk.
"Aku tidak melihat Lena, kemana dia?"
"Katanya dia ingin pergi ke tengah kota untuk mencari gadis."
"Dia tidak pernah berubah, aku kira dia sudah tidak menyukai pria lagi," atas pernyataanku Sofia dan Lifa mengangguk mengiyakan sampai akhirnya Lena kembali dengan wajah kelelahan.
"Leona?"
"Ada apa? Apa kau digebukin masa?"
"Bukan itu, para serigala mulai muncul dan menyerang kota ini... aku tidak yakin, tapi yang memimpin serigala ini adalah binatang iblis, aku melihatnya sendiri."
"Kalau begitu kota dalam bahaya, Lifa dan Sofia tolong lindungi Yuri dan ibunya, aku dan Lena akan melihatnya."
"Ayo."
Aku menarik kerah baju Lena lalu berlari sambil membawanya dengan kecepatan tinggi.
"Uwaaaahhh."
Baru tiba di tengah kota para penduduk terlihat bekerja sama mengahalau serangan serigala, jika serigala ini dikendalikan oleh iblis jelas itu sangat berbahaya, aku terus mencari keberadaannya dan kutemukan seekor serigala yang jauh lebih besar dari semuanya serta berwarna hitam gelap.
"Jadi itu pemimpinnya."
"Leona bisa turunkan aku dulu."
"Ah benar," saat kulakukan dia langsung berlari untuk bersembunyi.
"Selamat berjuang Leona, aku mendukungmu dari sini."
"Oi, ikut bertarung ngapa."
Serigala besar itu melolong dan seketika kawanan lain berhenti menyerang manusia lalu berkerumun untuk menyerangku bersama-sama, tak kusangka iblis bisa melakukan hal sejauh ini.
Secara bergiliran mereka semua menyerangku, melompat selagi mencoba memberi gigitan permanen ke tubuhku, aku menghindar lalu meninju tubuh mereka.
Satu pukulan sudah cukup melumpuhkan mereka tanpa harus membunuhnya.
Gaung.
Prak.
Brak.
Seluruh kawanan dengan mudah kukalahkan dan hanya tinggal serigala pemimpinnya atau aku harus menyebutnya iblis berbentuk serigala.
Dia membuat bola hitam dari mulutnya untuk ditembakannya ke arahku, dengan tanganku aku menangkapnya lalu melemparkan kembali ke dalam mulutnya.
Selanjutnya.
Tubuh iblis itu hancur oleh senjatanya sendiri.
Para penduduk mulai bertepuk tangan padaku.
"Gadis manis kau telah menyelamatkan kami, terima kasih banyak."
"Ini bukan apa-apa."
Ketika semua orang terus memujiku kulihat Lena hendak pergi jadi aku segera menangkapnya.
"Leona?"
"Di kota ini tidak ada tempat hiburan yang kau inginkan karena itu mari kembali."
"Eh, tapi.."
"Sudahlah."
"Tiiidaakkk!"
Orang ini sangat berbahaya, sampai sekarang aku masih tidak percaya bahwa dia sebelumnya bekerja menjadi receptionis guild.