My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 25 : Masakan



Di tanah lapang yang kosong itu aku meletakkan meja di sana, hari ini kami akan memasak makanan untuk mereka semua.


Lena, Sofia serta Lifa telah memakai apron yang cocok untuk ketiganya dengan motif bunga begitu juga denganku, di dunia sebelumnya aku sama sekali tidak berpengalaman soal memasak jadi semua hal akan kuserahkan pada Lena.


"Leona tolong potong wortel ini."


"Baik nyan."


"Sofia bersihkan daging dan kemudian potong-potong jadi kecil."


"Serahkan padaku Lena."


"Untuk Lifa akan mengurusi panggangannya."


"Laksanakan."


Kami bekerja sama untuk menghidangkan makanan yang enak, untuk Lena sendiri dia sedang memasak nasi, tanpa nasi semua makanan tidak akan pas.


Setelah wortel aku beralih pada ikan, kemudian rempah-rempah lainnya, aku menangis saat memotong bawang dan ketakutan saat memotong belut.


Aku tidak suka belut, mereka licin.


Orang-orang perlahan mengantri di depan stan kami dimana Sofia dan Lifa beralih untuk memberikan mereka hidangan yang telah kami buat.


"Jangan saling mendorong, makanannya cukup untuk semuanya, kami juga akan memasak pada sore hari."


Semua orang terlihat bersemangat, sampai mereka bisa berdiri sendiri kami akan melakukan ini. Kulihat beberapa orang terluka hingga tidak bisa mengantri dengan lainnya karena itu, aku sendiri yang membawa mereka makanan.


"Silahkan."


"Terima kasih."


Mereka seorang ibu dengan tiga anak yang masih kecil.


Aku mengarahkan tanganku lalu merapalkan sihir penyembuh.


"Bagaimana?"


"Aku sudah sembuh."


"Syukurlah."


Ketiga anak itu bergantian memakan makanan yang disuapi ibunya.


"Ibu dimana ayah?"


Wajah sedih tampak di wajahnya.


Apa dunia ini akan selalu seperti ini sebelum raja iblis dikalahkan, aku harap seseorang bisa mengalahkannya agar dunia ini kembali damai.


Aku kembali mengantarkan makanan ke yang lainnya sembari menyembuhkan mereka semua.


Setelah selesai aku duduk di kursi selagi mengipasi diriku dengan kertas koran. Lena pun duduk di sampingku.


"Kau tampak sedih Leona?"


"Aku hanya sedikit merasa kasihan pada mereka."


"Begitu, aku juga.. saat raja iblis mulai menginvasi benua ini, hal seperti ini selalu terjadi bahkan aku berharap ada pahlawan yang bisa melawannya namun mereka malah dihabisi dalam sekejap."


"Raja iblis menakutkan."


"Benar, dia menakutkan... ada rumor bahwa dia abadi, jika kau memenggal kepalanya, itu akan tumbuh menjadi dua."


"Memangnya dia Hydra," kataku demikian.


Lena berkata ke arahku.


"Kudengar tidak jauh dari sini ada komandan pasukan raja iblis yang sedang membuat markas besar-besaran, apa kau mau mengurus mereka? Jujur saja, walau kota ini berhasil dipulihkan mereka pasti akan menyerang tempat ini juga."


Aku mendesah pelan lalu berkata.


"Aku tidak ingin berurusan dengan raja iblis ataupun pasukannya aku hanya ingin berpetualang aman bersama kalian, hanya itu."


"Benarkah?"


"Benar."


Meskipun aku berkata itu, pada malam harinya aku diam-diam keluar penginapan, baru saja keluar, Lena malah berhasil memergokiku di sana.


"Siapa yang mengatakan tidak ingin berurusan dengan raja iblis?'


Glek.


"Apa kita saling mengenal?"


"Usaha bagus, meski kau mengenakan penutup wajah aku tahu itu kau Leona."


"Ketahuan kah."


"Aku sudah mengenalmu cukup lama, kau seseorang yang tidak bisa meninggalkan orang yang sedang membutuhkan bantuan. Pergilah, aku tidak akan menceritakan hal ini pada mereka berdua."


Aku mengangguk kecil lalu melompat ke atas rumah hingga menghilang dalam kegelapan.