My Adventure In Another World

My Adventure In Another World
Chapter 35 : Rutinitas Pagi Hari



Menghirup udara pagi aku membentangkan tanganku selagi menguap lebar, tidak kusangka tidur di dalam gua bisa senyenyak seperti ini atau mungkin karena kelelahan hingga seseorang bisa tidur dengan pulas.


Yang mana saja aku tidak peduli yang terpenting aku sudah kembali segar. Angin berhembus menerpa rerumputan yang terus bergoyang seiring dengan kelopak bunga yang terus berterbangan ke segala arah.


"Pagi Leona, hoam... tidurku cukup pulas, apa kita berangkat sekarang?"


Ini masih terlalu pagi untuk memulai petualangan jadi kuputuskan untuk menunggu sedikit lebih lama sampai Lifa dan Sofia membuka mata mereka.


"Aku ingin pergi ke hutan untuk mencari bahan makanan, bisakah kau memasak air dulu sampai aku kembali."


"Laksanakan."


Aku mengganti pakaian tidurku dengan pakaian biasanya yang seluruhnya berwarna merah muda sama seperti rambutku.


"Selamat jalan Leona, akan sangat menyenangkan jika kau juga bisa mendapatkan daging."


"Akan kuusahakan," jawabku singkat.


Aku membawa keranjang di tanganku lalu berlari dengan kecepatan tinggi, sesampainya di bagian terdalam hutan aku mulai mengumpulkan tumbuhan yang bisa dimakan serta beberapa jamur liar.


Aku bukannya sombong tapi aku ahli menilai makanan, apa itu beracun atau tidak, aku mengambil beberapa jamur berukuran kecil, sedang serta yang paling besar.


Aku berfikir akan membuat rebusan dengan bahan ini, yang harus kucari sekarang adalah daging. Ketika aku memikirkannya seekor ular raksasa muncul dari belakangku, aku bisa merasakannya sejak tadi.


Saat ia melompat ke arahku, kugunakan sihir petir hingga ia terpanggang dan rubuh ke samping.


Aku menyentuh bagian perutnya.


"Apa daging ular rasanya enak," aku sempat memikirkannya akan tetapi aku akhirnya pergi meninggalkan daging itu begitu saja.


Kurasa aku belum siap memakai makanan seekstrim ini, kataku dalam hati sampai kutemukan beberapa kawanan kadal besar.


Mungkin saja hutan ini adalah kawasan reptil, ular, kadal, apa ada bahan daging yang normal.


Tak lama kemudian aku menemukan seekor kelinci di balik semak-semak, kelinci itu dua kali lipat dari ukuran normalnya.


Itu baru sempurna.


Aku menciptakan busur dari sihir angin, dengan sekali tembakan aku bisa mendapatkan buruanku dengan baik.


Sudah saatnya pergi, setelah membersihkan daging kelinci di aliran sungai mengalir aku kembali ke gua, kulihat Sofia dan Lifa telah terbangun dan sedang bermain dengan kuda putih kami.


"Leona?" teriak Sofia mendekat disusul Lifa.


"Kalian sudah bangun, makanan pagi ini adalah rebusan daging kelinci."


"Tentu," balasku pada Lifa lalu berjalan masuk ke gua, di dalam sana Lena telah menyiapkan peralatan memasak.


Pagi ini aku menyerahkan urusan memasak pada Lena sementara aku hanya bersantai sambil menikmati secangkir teh herbal.


"Tehnya sangat enak."


"Tentu saja, aku membeli teh yang sangat mahal dari kota sebelumnya."


"Begitu, cemilannya?"


"Itu kue yang kubuat sendiri, aku meminjam dapur saat di penginapan."


"Begitu, Lena memang segala bisa."


"Sudah seharusnya, aku akan menjadi istri terbaikmu Leona, tolong cepat nikahi aku."


"Tidak, itu mustahil," balasku dingin.


Setelah lama menunggu makanan akhirnya bisa di hidangkan, aku memindahkan beberapa bahan ke mangkuk kecil yang lalu kuberikan pada Sofia dan Lifa.


"Kalian makan yang banyak."


"Baik."


Mereka berdua sangat imut, aku berfikir akan merawat mereka sebagai adikku, tentu tidak termasuk Lena.


Dia musuh semua wanita.


"Tambah."


Aku menerima mangkuk kosong darinya kemudian mengisinya kembali.


"Terima kasih."


Lena juga terkadang bisa sedikit imut walupun cukup mengesalkan.


"Perjalanan kita cukup jauh, jadi makan yang banyak."


"Tentu saja, aku bahkan bisa memakan Leona sekarang."


Orang ini tak pernah berubah.