MIIA

MIIA
Miia



"Assalamualaikum bund." kata Saga saat melihat ibunya di ruang tamu.


"Wa'alaikumsalam nak, kok pulangnya terlambat?" tanya Sari dengan khawatirnya.


"Oh iya bund maaf ya tadi aga ke rumah duka dulu, teman aga meninggal." jawab Saga dengan tersenyum.


"Ahh begitu ya ibu juga sudah dengar kabarnya. Kamu mandi dulu saja. Oh ya nnti malam ayah sama bunda mau pergi ke acara nikahan teman papa." kata Sari yang di angguki oleh Saga.


"Memang ayah sudah pulang bund?" tanya Saga


"Sudah. Ayah sedang mandi." jawab Sari.


Pukul setengah tujuh malam Orangtua Saga berangkat. Saga di rumah sendirian dan ia ingin mencari tahu jawaban dari semua rasa penasarannya.


"Mau apa kamu?" tanya gadis itu ketika melihat Saga yang ingin masuk ke ruangan kerja ayahnya


"Ada sesuatu yang ingin aku cari." jawab Saga yang langsung masuk dan menutup pintunya dengan keras.


"Aduhhhhh!!!" teriak gadis itu ketika dahinya terbentur pintu.


"Kenapa kamu menutup pintunya, lihat jidatku yang indah ini hihihi sakit." kata gadis itu yang membuat Saga menatapnya dengan sinis


"Jika ingin ikut diamlah." kata Saga yang membuat gadis itu menutup mulutnya.


Saga membuka satu rak dan brankas serta membacanya dengan seksama. tak lupa ia juga menata ulang seperti semula agar ayahnya tidak curiga jika dia sudah masuk kedalam kantornya.


"Apa yang sedang kamu cari?" tanya gadis itu namun tidak mendapatkan jawaban dari Saga.


Saga menemukan sebuah map bewarna kuning dan membukanya. Setelah dia membacanya ia langsung membuka lembaran demi lembaran kertas yang berisi siswa alunmi SMA Adiwangsa, dimana itu dulu adalah sekolah ayah dan ibunya yang juga sekolah yang ia tempati sekarang.


"Ayah terlihat sangat culun dan kutu buku." ucap Saga dengan tersenyum kecil.


"Apa itu...." kata gadis yang tiba-tiba ikut berbicara dan sudah berada di samping Saga.


"Astaghfirullah....apa yang kau lakukan hah." seru Saga dengan terkejutnya.


"Kenapa dengan kamu? Saya hanya penasaran saja. Siapa itu?" tanya gadis itu dengan merebut map dari tangan Saga.


Saga hanya berdecak kesal saja kemudian merebut kembali map kuning itu dan sedikit menjauh dari gadis menyebalkan yang selalu mengikutinya. Lembar demi lembar pun ia buka dan membacanya hingga pada lembar ke 27 ia melihat seorang siswi dengan rambut panjangnya yang nampak tidak asing di matanya.


"Aku merasa tidak asing dengan wajah ini...." kata Saga dengan menoleh ke belakang namun ia tidak mendapati gadis itu.


"Hah kenapa kau ada disana?" tanya Saga ketika melihat gadis itu sedang memojok di sudut dinding dengan membelakangi Saga.


"Tidak ada. Ayo keluar saja." kata gadis itu.


"Emmm bukankah ini....." gumam Saga yang mengingat sesuatu dan langsung menghampiri gadis itu.


"Ahh tidak mau saya mau seperti ini saja." kata Gadis itu ketika Saga menyuruhnya untuk berbalik.


"Bismillahirrahmanirrahim allahumma..."


"Aaaaaa baiklah baiklah...." teriak gadis itu dengan menutup telinganya dan berbalik menatap Saga.


"Benar ini mirip denganmu. Apa ini kau?" tanya Saga .


"Ya itu saya." jawab gadis itu dengan memalingkan wajahnya.


"Kenapa? Kamu ingin meledek saya?" kata Mia dengan menatap Saga nyalang.


"Kau lulusan tahun 2005..." kata Saga.


"Saya mati sebelum lulus." celetuk Mia yang membuat Saga menatap gadis itu.


"Kenapa?" tanya Saga dengan penasarannya.


"Ayo keluar saja. sebentar lagi gendis pasti pulang." kata Mia.


"Sebentar, apakah yang kau panggil gendis itu ibuku?kenapa kau memanggil bunda gendis? apa dulunya kau adalah teman atau saudara bunda?" tanya Saga.


"Saya tidak bisa menceritakannya pada kamu karena saya tidak di beri hak lebih untuk mencampuri kehidupan manusia, jadi jangan bertanya lagi." kata Mia dengan berlalu keluar menembus pintu.


Pukul 12 malam Saga terbangun dari tidurnya. Telinganya menangkap sebuah suara seperti anak ayam yang terjepit di luar kamarnya tepatnya di depan jendela kamarnya. Suaranya terdengar sangat dekat dan semakin jelas saat dia mendekati jendela kamarnya


"Apakah mungkin ada anak ayam di tengah malam seperti ini." gumam Saga dengan mendengarkan dengan seksama.


Ia sebenarnya agak ragu-ragu untuk membuka jendelanya namun lagi-lagi rasa penasarannya mengalahkan ketakutannya.


Ceklekkk...


Saga melihat ke depan namun tidak ada apapun, hanya kegelapan malam saja yang ia lihat. Ia menutup jendelanya lagi dan lagi-lagi suara anak ayam itu kembali terdengar namun kali ini suaranya hanya samar-samar saja.


Ia membuka jendelanya lagi untuk memastikannya. Namun kali ini ia mempunyai firasat aneh mengenai suara itu. ketika dia membuka betapa terkejutnya ia ketika tepat di depannya ada sesosok wanita berbaju putih dengan rambut menjuntai ke tanah dengan wajah pucat pasi tertawa.


Hihihihihihi....


"Astaghfirullah hal'adzim...." seru Saga yang langsung menutup jendelanya dengan kerasnya.


Ia bersender di jendala sambil membaca doa berharap sosok tersebut menghilang. keringat sebesar biji jagung pun sudah keluar. Ia terkejut bukan main dan jantungnya benar-benar berdetak sangat kencang.


Setelah ia selesai membaca doa, ia terdiam beberapa saat dan mencoba memasang pendengaran dalam-dalam. Ia pun memberanikan diri untuk memeriksanya lagi. Ketika membuka jendela, ia sudah tidak melihat penampakan itu lagi, ia pun bernafas lega sambil menetralkan detak jantungnya.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Mia yang tiba-tiba muncul di belakang Saga sambil menepuk pundak laki-laki itu.


"Allahuakbar..." seru Saga dengan terlonjak kaget begitupun Mia


"Apa sih membuat saya terkejut saja!" seru Mia dengan kesalnya.


"Kenapa kau tiba-tiba disini hah!!" seru Saga yang juga merasa kesal.


"Saya melihat kamu ketakutan. apakah wanita itu mengganggu kamu?" tanya Mia.


"Apakah itu temanmu?" tanya Saga menatapnya curiga.


"Tidak. Mana ada saya berteman dengan dia. Dia itu penunggu pohon mangga di sana, dia memang sering jahil pada manusia tapi nanti saya akan bicara dengannya agar tidak menggangu kamu lagi." jawab Mia.


Akhir-akhir ini Saga benar-benar selalu merasa peka terhadap sesuatu yang tidak bisa di lihat oleh manusia pada umumnya. Sebelumnya ia tidak pernah mengalami hal seperti itu, ia merasa semuanya terjadi setelah kedatangan gadis misterius bernama Mia.


"Sudah mendingan kamu tidur saja dulu saya akan menemui wanita itu." kata Mia.


"Yaallah apa yang sebenarnya terjadi padaku." gumam Saga dengan mengusap wajahnya kasar.