
Keduanya terbangun dengan bingungnya karena pemandangan yang asing. Mereka saling menoleh dan mencoba mengingat tapi seingat mereka masih berada di kelas mereka.
"Dimana kita?" tanya Raja.
"Entahlah tapi sepertinya aku tidak asing dengan rumah ini." jawab Saga
"Bukankah sudah saya bilang segera pergi jika kamu mencium bau itu . kenapa kamu sangat keras kepala hah!!" kata Mia yang ternyata sudah berada di atas lemari .
"Kamu pingsan semalam dan di bawa kesini. Untung saja ada mang Jaya. Saya mencari kamu tahu tidak. Lain kali bilang sama saya dulu jangan membahayakan diri kamu." lanjutnya
"Kalian sudah bangun." sebuah suara pria membuat mereka menoleh ke arah pintu.
"Pak San..." ucap mereka serentak.
"Kenapa kalian keluar tengah malam?" tanya Pak San dengan tatapan datarnya.
"Apa yang terjadi pak? kenapa kita tiba-tiba ada disini? Seingat saya tadi malam aku dengannya masih berada di dalam kelas dan melihat...ahhh apa ya ...." ucap raja dengan mencoba mengingatnya.
"Kalian pingsan untung bapak melihat kalian, jadi bapak bawa kesini. Ada yang ingin kalian ceritakan?" tanya pak San dengan menatap Saga.
"Saya juga tidak mengingat apapun ." ucap Saga dengan berbohong karena ingatannya tiba-tiba muncul ketika Tangan Mia menepuk pundaknya.
Karena waktu masih menunjukkan pukul 2 malam, mereka pun akhirnya memutuskan untuk tidur di rumah pak San karena tidak mungkin jika mereka kembali saat itu juga apalagi ketika Mia bersikeras agar Saga tidak keluar dari rumah pak San.
Pagi harinya semua orang di buat geger karena 3 orang siswa yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak. pagi hari yang sebelumnya akan melakukan upacara penutupan justru berubah. Semua orang mencari keberadaan 3 siswa tersebut.
Saga dan Raja juga sudah kembali ke sekolah bersama pak San. Namun ketika mengetahui hal tersebut tentu mereka terkejut. Saga sendiri hanya bisa diam mematung karena salah satu siswa tersebut adalah gadis yang tadi malam dia ikuti.
"Pak Dinda pak...." teriak beberapa siswa dengan raut wajah pucatnya yang membuat semuanya langsung mengikutinya.
"innalilahi wa Innailaihi raji'un...."
Ternyata Dinda di temukan meninggal bunuh diri. Walaupun Saga dan Raja terkejut namun mereka tetap bingung bagaimana bisa Dinda ada di sana sementara tadi malam mereka mengikuti ke arah yang lain.
Beberapa kakak pembina pun juga masih mencari 2 siswi yang entah hilang kemana. kejanggalan pun mulai di rasakan semua orang namun mereka tetap mencarinya. yang seharusnya pukul 10 pagi mereka sudah pulang tetapi karena adanya hal tersebut semua siswa terkecuali anggota OSIS dan semua guru masih di sana.
Sampai pukul 2 siang mereka masih belum menemukan kedua siswi tersebut. Tapi saat beberapa anggota OSIS tengah berkumpul karena kebingungan mencari solusinya, seorang gadis dengan penampilan berantakan dan mulut yang sudah berdarah melangkah dengan lunglainya.
Brukkk...
Indah tiba-tiba terjatuh yang membuat semua orang menoleh dan terkejut. mereka pun membantu indah untuk bangun, namun gadis itu seolah sudah di ujung tanduk dan akhirnya menutup matanya, tapi sebelum itu dia seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi suaranya benar-benar tidak terdengar sama sekali.
"Apa yang terjadi?" kata Bima dengan paniknya.
"Kak...." ucap Indira dengan wajah pucat pasinya saat ia tidak merasakan hembusan nafas indah dan detak jantungnya.
"Kenapa?" tanya Raja yang akhirnya memastikannya sendiri.
"Kak dia sudah meninggal." kata Raja yang membuat semuanya terkejut dan histeris. Kemudian Indah di larikan ke rumah sakit dulu untuk memastikan apa yang tengah di alami gadis malang itu.
"Dia bilang satu temannya lagi ada di stasiun." kata Saga yang membuat semuanya menoleh.
"Stasiun mana?" tanya Bima
"Terdekat dengan sekolah kita." jawab Saga walaupun sebenarnya dia juga tidak yakin tapi saat mendengar Mia mengatakan stasiun kereta ingatannya pun langsung mengarah ke sana.
"Yang benar Ga, jangan bercanda." kata Renaldi.
"Sudah ayo 5 orang ke stasiun bersamaku." kata Bima
5 orang itu termasuk Saga dan Raja sudah sampai di stasiun kereta, namun mereka bingung harus mulai mencari darimana.
"Ga, kau yakin disini?" tanya Raja.
"Aku yakin." jawab Saga dengan mantapnya karena hatinya benar-benar merasa tidak tenang saat sampai di stasiun kereta tersebut.
"Baiklah kita berpencar saja." kata Bima yang di setujui oleh yang lainnya.
Saat memasuki sebuah lorong, Bima dan kedua temannya di kejutkan oleh seorang gadis yang tergeletak di tengah-tengah jalan. mereka berlari dan benar saja ternyata gadis itu adalah gadis yang tengah mereka cari, namun sayangnya dia sudah tidak bernyawa. Wajahnya pucat dan tubuhnya sedingin es, tidak ada bekas luka apapun di tubuhnya.
"Raja, Saga, kesini...." teriak Bima yang membuat mereka segera berlari.
"Innalilahi wa Innailaihi raji'un...kak...." kata Saga dengan meminta penjelasan.
"Dia sudah seperti ini. Aku akan panggil Beberapa guru kalian tunggulah disini. Ayo Re." kata Bima dengan mengajak Renaldi.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi, kenapa beberapa Minggu ini sekolah kita terus mengalami hal seperti ini. Aku benar-benar tidak paham." ucap Raja dengan menghela nafasnya kasar.
Mata Saga pun langsung langsung menangkap sesuatu yang membuatnya tanpa basa basi langsung mengambilnya. Ia sudah mengira itu akan terjadi lagi dan sekarang terbukti. Dugaannya pun benar adanya.
"Apa itu?" tanya Raja penasaran dan mengambil kertas yang tengah Saga pegang.
"Kosong?" gumam Raja kemudian menoleh ke arah Saga dimana raut wajah laki-laki itu berubah 180° dari sebelumnya.
"Ga, kenapa?" tanya Raja.
"Apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Saga yang membuat Raja bingung.
"Ada apa?" tanya Raja.
"Apa kau tidak merasa aneh dengan semua ini? Ini bukan suatu kebetulan." kata Saga.
"Kau pikir?" kata Raja dengan wajah tengilnya dan bisa di pastikan jika Raja pun merasakan hal yang sama seperti yang di alami Saga.
"Datanglah ke rumahku besok." kata Saga yang membuat Raja menatapnya saja namun dalam hatinya ia langsung mengiyakan karena banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Saga.