MIIA

MIIA
Kertas Kosong



"Kamu mau kemana?" tanya Mia ketika Saga mengendarai motornya berbeda arah.


"Aku akan pergi ke tempat Luna kecelakaan." jawab Saga.


"Kesana lagi?" tanya Mia yang membuat Saga menatapnya di spion


"Kenapa?" tanya Saga heran.


"Tidak ada. Kamu tidak takut jika pulangnya telat?" kata Mia


"Tidak. ini masih jam 3." kata Saga dengan melihat jam tangannya.


"Ehh sebentar." seru Mia yang membuat Saga langsung berhenti mendadak.


"Apaan sih." kata Saga dengan kesalnya.?


"Bukankah itu gadis yang tadi kerasukan mbak Jumi." kata Mia.


"Jumi siapa? Itu adik kelasku." kata Saga dengan memperhatikan ke arah sampingnya tepat dimana Dwi tengah berjalan.


"Iya itu maksud saya dia itu tadi kerasukan mbak Jumi." ujar Mi9aa membuat Saga memutar bola matanya dengan malas.


"Sepertinya dia sedang ada masalah." kata Saga dengan memperhatikannya.


"Saga cepat susul dia." kata Mia ketika melihat Dwi menuju ke rel kereta sementara palang pintu sudah tertutup


Tentu saja Saga terkejut. Ia segera memarkirkan motornya dan berlari mengejar Dwi untuk menghentikannya. Namun naasnya seperti sebuah kilat di langit, kereta itu berjalan dengan begitu lajunya dan menyerempet Dwi yang saat itu tengah melangkah ke rel.


Tubuh Dwi terlempar begitu jauh dengan luka yang cukup serius. Saga berlari menghampiri tubuh Dwi yang tergeletak tak jauh dari rel kereta. Mulutnya mengeluarkan darah segar dan wajah sebelah kanannya sudah tidak terbentuk lagi.


"Dia sudah mati." kata Mia yang membuat Saga menoleh dengan sorot mata yang masih terlihat begitu syok.


"Aku akan meminta bantuan." kata Saga namun hanya di tatap malas oleh Mia.


"Hahhh membuang-buang tenaga saja. Percuma, tuh lihat dia sudah disana." ucap Mia dengan melihat ke depannya dimana Dwi tengah berjalan dengan wajah pucat pasinya


Semua orang pun berduyun-duyun datang ke TKP namun tidak ada yang berani menyentuh atau membawanya ke rumah sakit sebelum polisi datang. Saga benar-benar di buat frustasi namun ia hanya bisa pasrah saja dan berdoa agar Dwi baik-baik saja namun pada kenyataannya tidak karena Dwi sudah meninggal tanpa di ketahui Saga.


"Sudahlah ayo pulang nanti gendis marah. Percuma kamu ingin menolongnya dia sudah mati." kata Mia.


"Diamlah tidak ada yang mati, dia masih hidup dan akan baik-baik saja." kata Saga dengan suara kesalnya.


"Ahh terserah kamu saja." kata Mia dengan malasnya.


Beberapa saat kemudian polisi datang dan jenazah Dwi pun langsung di bawa ke rumah sakit. karena saksi mata di situ hanyalah Saga, maka Saga pun terpaksa ikut ke kantor polisi untuk di mintai keterangan lebih lanjut.


Di tempat kerjanya, ibu Saga yang mendengar jika Saga tengah berada di kantor polisi langsung panik dan menuju kesana begitu juga dengan ayahnya yang di beritahu oleh istrinya.


"Aga...." kata Sari berlari dengan raut wajah khawatirnya


"Bund, aga baik-baik saja tidak perlu khawatir." kata Saga dengan memegang tangan ibunya.


"sebenarnya apa yang terjadi pak?" tanya Ilsan yang tak kalah khawatirnya.


"Begini pak, terjadi kecelakaan di rel kereta dan putra bapak ada disana. dia sudah bersedia memberikan kesaksiannya, dan kami juga sudah memeriksa rekaman cctv yang ada di sekitar sana, semuanya benar seperti yang di katakan putra bapak." kata Pak Irjan


"Syukurlah bunda benar-benar khawatir pas kamu bilang kalau ada di kantor polisi." kata Sari yang membuat Saga Tersenyum saja.


"Oh ya tentu saja boleh silahkan. Terimakasih atas waktu dan keterangannya ya nak." kata Pak Irjan dengan ramahnya.


"Kami permisi pak assalamualaikum." kata Ilsan


"Kenapa kamu ada di sana ga?" tanya Ilsan.


"Aku baru pulang sekolah yah, dan tidak sengaja melihatnya berjalan ke rel kereta." jawab Saga.


"Bukankah jalannya berbeda?" tanya Ilsan heran.


"Sudahlah yah yang penting kan anak kita baik-baik saja. Bunda hampir jantungan tau." kata Sari dengan menimpali keduanya.


"Bagaimana keadaan gadis itu?" tanya Sari.


"Entahlah bund semoga baik-baik saja." kata Saga


"Sudah saya bilang dia mati kok kamu tidak percaya." celetuk Mia yang membuat Saga menatapnya dengan dinginnya.


Malam harinya, Saga membuka lembaran kertas yang Pak Irjan temukan di saku Dwi yang tadinya ingin di buang karena beliau mengatakan jika itu hanyalah kertas kosong saja namun Saga tidaklah percaya dan memilih untuk meminta kertas tersebut dan membukanya di rumah.


"Kosong?" gumam Saga dengan bingungnya.


"Kamu buta kah jelas-jelas ada tulisannya." kata Mia.


"Bisa tidak jangan masuk ke kamarku, kita ini bukan muhrim." kata Saga dengan kesalnya.


"Memangnya kenapa? Saya kan setan, kamu manusia." kata Mia.


"Justru itu kita ini beda dunia." kata Saga namun tatapannya teralihkan oleh Mia yang tengah mencoret-coret di kertas.


"Ahhh jangan bermain kertas. Sini kembalikan." seru Saga dengan kesalnya.


"Nih." kata Mia dengan menyerahkan kertas yang sudah berisi coretannya.


"Rel kereta api..." gumam Saga dengan menatap Mia bingung.


"Ya itu tulisan yang ada di kertas itu." kata Mia


"Ck jangan bercanda, jelas-jelas ini kosong." kata Saga dengan tidak percaya.


"Tulisan yang ada di kertas itu adalah tulisan gaib yang tidak bisa di baca oleh mata manusia." kata Mia menjelaskan.


Saga benar-benar di buat bingung dengan perkataan Mia. Entah dia akan percaya atau tidak tapi yang jelas dia tidak akan mempercayai setan yang akan menyesatkan para manusia.


"Aku tidak akan mempercayai setan ataupun jin. Aku akan menganggap kertas ini memang kosong." kata Saga


"Ya saya tahu itu. Tapi saya tidak membual ataupun membohongi kamu. kertas ini bukanlah kertas kosong. Ini adalah sebuah kalian perintah yang di tuliskan seseorang." kata Mia namun Saga mencoba untuk tidak menghiraukan semua ucapannya.


Saat tengah tertidur dengan lelapnya, dia merasa ada sebuah bayangan hitam besar yang menghampirinya dan tiba-tiba saja menindih tubuhnya sehingga ia tidak bisa bergerak ataupun bernafas.


"Astaghfirullah hal'adzim la Ilahaillallah Muhammad Rasulullah...." gumam Saga karena benar-benar tidak bisa bergerak atapun bernafas sama sekali.


Saga terbangun setelah berusaha susah payah untuk bergerak. Keringatnya menetes dengan nafas yang tidak teratur. Seperti mimpi namun ia merasakan jika tubuhnya terasa sakit seakan benar-benar di timpa tubuh orang dewasa .


"Astaghfirullah hal'adzim...." ucap Saga kemudian langsung pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air wudhu.