
Semuanya di buat bingung namun ketika melihat pesan yang ada di grup sekolah mereka membuat mereka benar-benar terkejut bukan main. apa yang mereka khawatirkan benar-benar terjadi sangat cepat dan tidak terduga. semuanya terduduk lemas dengan pikiran kosong karena tidak tahu harus berbuat apa. tidak memungkinkan juga mereka akan menyusul kesana.
"tenanglah...pasti sudah ada bantuan dan semoga saja tidak ada korban." ucap Raja dengan menenangkan mereka semua walaupun sebenarnya dia tidak yakin dengan ucapannya sendiri mengingat jurang yang sangat dalam dan bus tersebut masuk ke dalam sana.
"kita berdoa saja." timpal Saga
Sementara di lain sisi, semua orang yang ada di TKP tengah memikirkan bagaimana cara untuk mengeluarkan bus tersebut. sudah ada sekitar 10 orang yang turun dan memeriksa kondisi di bawah dan laporannya pun sama semua jika semua penumpang di bus tersebut tidak ada yang selamat.
Beberapa mobil polisi, damkar dan mobil bego pun datang untuk membantu mengeluarkan bus tersebut. sudah sekitar 5 jam lamanya setelah para mobil itu datang dan membawa keluar para korban, kini sekitar 5 ambulan pun juga ikut datang dengan membawa para korban yang tidak bisa di selamatkan untuk di bawa ke rumah sakit untuk di periksa lebih lanjut.
Bangkai bus pun tidak semuanya berhasil di keluarkan mengingat tempat yang tidak memungkinkan, apalagi kondisi cuaca juga tengah hujan dan kemungkinan besar akan terjadi longsor lagi.
Pukul 9 malam Saga dan teman-temannya pun masih berada di rumah sakit. melihat para korban yang tidak bisa di selamatkan membuat mereka benar-benar merasa sedih dan kehilangan apalagi melihat wajah para orang tua korban.
"Ga ikut aku." kata Raja .
Raja menunjukkan daftar siswa yang menjadi korban kecelakaan tersebut dan yang membuat Saga terkejut ketika hampir semua yang ada di bus tersebut adalah para siswi. sebelumnya dia tidak tahu tapi ketika Dini juga ikut menimpali barulah dia sadar sesuatu, bukan hanya dia saja melainkan mereka bertiga
"Iblis itu benar-benar membuatku muak." gumam Saga dengan mengepalkan tangannya serta tatapan mata tajamnya.
Baru kali ini kedua temannya melihat Saga seperti itu karena memang Saga di kenal sebagai pria yang halus dan santun. tapi melihat Saga seperti itu membuat mereka mengerti jika laki-laki itu benar-benar marah.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Raja ketika Saga yang tiba-tiba pergi.
"tidak ada. aku hanya lelah dan ingin pulang. kalian pulang saja." jawab Saga dengan datarnya.
Sampai di rumah, Sari langsung melontarkan pertanyaan-pertanyaan pada Saga namun langsung di hentikan oleh suaminya mengingat dia tahu apa yang tengah terjadi apalagi melihat raut wajah anaknya yang tidak bersahabat.
"Sebenarnya ada apa yah?" tanya Sari penasaran.
"Tidak ada, kau tidurlah saja. aku akan menemuinya dulu." kata Ilsan.
Sesampainya di kamar Saga, Ilsan melihat jika putranya sedang bersiap-siap untuk sholat. ia hanya menatapnya saja sampai akhir Saga sadar jika ayahnya ada di belakangnya.
"Lakukan yang terbaik dan kau harus jadi pemenangnya. ayah percaya padamu nak." kata Ilsan yang membuat Saga mengangguk.
"baik yah. doakan Saga. katakan saja pada bunda jika Saga sedang mengerjakan tugas sekolah. jangan katakan apapun karena aga tidak mau bunda khawatir." kata Saga yang di angguki ayahnya kemudian keluar
Tak lupa ia mengunci pintu kamarnya dan mulai sholat. ia melakukan solat hajat kemudian solat tahajud. bukan hanya itu saja, seperti yang di ajarkan kakeknya ia juga mendoakan sebuah nama dengan dzikir.
"Ada apa? kenapa ayah kelihatannya gelisah sekali?" tanya Sari dengan herannya.
"apa kau lupa sebentar lagi anak kita naik kelas." kata Ilsan
Di sisi lain, seorang wanita yang tengah duduk bersila dengan mata terpejam tiba-tiba membuka matanya dengan tajamnya. ia merasakan seluruh tubuhnya panas bagai terbakar.
"Ada apa ini? apa yang terjadi?" ucapnya dengan bingungnya.
"Aaaaakkkhhh panas sekali...." teriaknya dengan berlari ke kamar mandi dan menyalakan shower.
Seluruh badannya memar dan memerah membuat wanita itu bingung. ia tidak tahu apa yang terjadi tapi hatinya mengatakan jika ia tidak akan bertahan lama lagi karena itu membuat dia semakin panik dan tetap melanjutkan ritualnya untuk membangkitkan iblis yang terkurung di liontin Saga walaupun merasakan tubuhnya benar-benar terbakar.
Pukul 2 malam Saga masih terjaga dengan sebuah boneka di tangannya. Mia duduk di samping Saga dengan menatap boneka itu berbinar.
"Ayolah tunggu apalagi, biarkan saya masuk." kata Mia yang terlihat begitu antusias.
Saga menatap boneka itu dan Mia secara bergantian, tentu itu menjadi hal yang berat untuk Saga. membiarkan Mia masuk kedalam boneka itu artinya dia tidak akan bisa melihat Mia lagi.
"Apa yang kamu pikirkan? Saga ingat dunia kita sudah berbeda. saya sangat menginginkannya karena memang itu sudah jalannya. jika kamu terus menahannya seperti ini maka kamu akan menyesal nantinya. biarkan saya masuk dan selesaikan semua masalah ini." kata Mia.
"Apakah mungkin kita bisa bertemu lagi dengan wujudmu yang seperti ini. bukan boneka atau yang lainnya?" kata Saga dengan suara pelannya.
"Ahahaha ternyata kamu begitu menyukai saya. jangan-jangan kamu jatuh cinta lagi aaaaa jangan jangan tidak boleh." kata Mia yang berusaha mencairkan suasana.
"CK omong kosong apa itu. mana mungkin. hanya saja kau sudah seperti saudara ku sendiri. aku tidak punya siapapun untuk di ajak bicara saat di rumah, hanya kau. walaupun kau sangat menyebalkan tapi tetap saja." kata Saga dengan menghela nafasnya.
"kamu mau di cap sebagai pembunuh? kalau kamu gila sih pasti sudah mau." kata Mia.
"tapi..."
"Saga.... biarkan aku masuk." kata Mia dengan memohon.
Tetap saja Saga belum bisa membiarkan dan sepenuhnya mengiyakan. walaupun ia berkata iya tapi nyatanya Mia selalu tidak bisa masuk yang akhirnya membuat gadis hantu itu menyerah pasrah dengan menatap Saga kesal.
"Kamu tidak asik." kata Mia dengan menghilang.
Saga memutuskan untuk tidak tidur mengingat sebentar lagi subuh dan juga entah perasaannya atau bagaimana tapi ia kerap kali mendengar suara minta tolong, suara yang nampak tidak asing di telinganya. beberapa kali juga ia membuka jendela tapi hanya suara binatang malam saja.
"Mungkin hanya perasaan ku saja." ucap Saga.