MIIA

MIIA
Sisi Lain



Setelah pulang sekolah, Saga dan teman-temannya menuju ke TKP, mereka bertanya pada orang-orang sekitar yang melihat atau pun tahu tempat kejadiannya. Setelah beberapa menit mencaritahu, akhirnya kini mereka sampai di titik lokasinya.


"Masih ada bekasnya Ga." kata Dini dengan berjongkok dan memperhatikan dengan seksama.


Raja memperhatikan sekitarnya dan matanya menangkap sebuah cctv yang ada di pom bensin. merekapun menuju kesana dan memohon pada petugas keamanan agar mereka bisa melihat kejadian tersebut.


"Dia teman kami pak, dan baru kemarin malam kami berkumpul bersama di sekolah." kata Alin dengan menjelaskan dan meyakinkan petugas tersebut.


"Oh begitu, di perempatan itu memang kerap kali memakan korban nak, mungkin juga sudah di takdirkan begitu ya." timpal petugas keamanan tersebut.


Mereka melihat video dengan seksama. saat mereka tengah serius memperhatikannya, Saga merasa merinding di semua bagian tubuhnya. Ia menoleh ke belakang dan melihat sekilas bayangan Gadis yang selalu mengikutinya melesat dengan cepat, dan pada saat itu juga ia sudah tidak merasakan apapun.


"Jangan sekali-kali kamu mengganggunya." kata gadis itu dengan tatapan marahnya.


"Hihihi kau pikir kau siapa biasa memerintahku seperti itu hihihi. Anak itu sangat istimewa aku menginginkannya." timpal seorang remaja dengan wajah hancurnya.


"Jangan sekali-kali kamu menyentuhnya, jika tidak saya akan memberikan pelajaran padamu." kata Gadis itu dengan berlalu pergi.


Gadis itu melihat sekelilingnya dan ia melihat bayangan Luna yang tengah menunduk sambil berjalan lunglai.


"Sama seperti mereka." gumam gadis itu dengan tersenyum kecut.


Saga bersama teman-temannya keluar namun mereka masih belum mendapatkan jawaban yang pasti tentang kematian Luna.


"Saya barusan melihat Luna." kata gadis itu yang membuat Saga terkejut.


"Dimana?" tanya Saga yang membuat teman-temannya menoleh.


"Kenapa Ga?" tanya Alin.


"Ahh tidak ada hahaha." jawab Saga yang membuat raja menatapnya dengan penuh curiga.


"Ihh lihat itu matanya ingin sekali saya copotkan dari tempatnya." kata gadis itu dengan berdecak kesal.


Saga menoleh ke arah Raja yang membuat Raja memalingkan wajahnya secepat mungkin, namun ia tidak terlalu menghiraukannya.


"Wajahnya terlihat sangat sedih sekali." kata gadis itu.


Mereka berpisah karena memang beda jalan. Saga berjalan bersama gadis yang selalu mengikutinya namun ia akhirnya memperbolehkan gadis itu sedikit mendekat karena ia ingin mendengar cerita darinya.


"Kamu masih belum cukup untuk mengetahuinya. Ahh saya sangat lapar." kata gadis itu dengan mengelus perutnya.


"Tidak ada hantu yang lapar." kata Saga


"Ada lah ini buktinya saya lapar. Wah kamu kurang tahu tentang setan ya. Kamu tahu setan itu juga lapar, jika dia lapar dia akan memangsa darah manusia." kata gadis itu


"Hah kau pikir vampir. Ahh sudahlah." kata Saga.


Di perjalanan, Saga merasa aneh ketika tidak mendengar suara gadis yang selalu mengikutinya. Ia pun menoleh ke belakang namun tidak mendapati adanya gadis itu, tapi tatapannya langsung tertuju ke seberang jalan dimana gadis itu tengah melayang dengan kepala yang tertunduk.


Saga hanya mengangkat bahunya saja kemudian terus berjalan namun entah kenapa hatinya gusar dan perlahan-lahan ia berbalik arah dan akhirnya ia menghampiri gadis itu yang masih menunduk.


Dengan rasa penasarannya ia terus mencoba berbicara dengan gadis itu hingga saat ia menoleh ia merasakan ada sesuatu yang menetes di punggungnya. Dengan reflek ia meraba dan mencium apa itu.


"Hoekkk hoekkk... astaghfirullah apaan ini..." ucap Saga yang merasa seluruh isi perutnya benar-benar seperti ingin keluar.


Bau yang benar-benar menyengat dan sangat busuk menusuk sampai paru-parunya. Ia menutup hidungnya namun bau itu masih tercium olehnya. Ia Menatap ke atas dan terkejut melihat penampakan di atasnya.


"Astaghfirullah hal'adzim...." kata Saga dengan menjauh.


Kaki Saga gemetaran bukan main melihat penampakan yang ada di atasnya. Gadis yang selalu mengikutinya kini berubah wujud menjadi sangat mengerikan


Ketika gadis itu mendongak Saga benar-benar berkeringat dingin dan seluruh tubuhnya gemetaran. Bagaimana tidak, wajah gadis itu berlumuran darah dan sudah hancur tidak terbentuk, bahkan Danur sudah keluar dari dalam tubuhnya yang membuat siapapun yang melihat itu benar-benar tidak akan kuat.


Ya, sesuatu yang menetes di punggung Saga dengan mengeluarkan bau sangat busuk itu adalah Danur, cairan yang keluar setelah mayat membusuk.


"Pergi..." kata gadis itu dengan suara dan sorot mata yang berbeda.


"A a Ada apa de dengan mu..." ucap Saga dengan terbata-bata.


"Saya bilang pergi sekarang juga." kata gadis itu namun kaki Saga benar-benar lemas tak berdaya ia seakan tidak ada tenaga untuk berdiri.


"A aku tidak bisa pergi." jawab Saga seadanya.


Ia benar-benar masih syok melihat penampakan mengerikan yang baru ia lihat sekali seumur hidupnya. tapi entah kenapa ia malah menangis melihat penampakan gadis itu. Hatinya merasa sedih dan seakan ia bisa merasakan apa yang di alami gadis itu.


"Kenapa kamu menangis bukannya pergi seperti yang saya suruh." kata gadis itu dengan menatap Saga .


"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu? Kenapa aku melihat kesedihan mendalam di wajahmu?" tanya Saga dengan memberanikan diri menatap wajah gadis itu.


"Apa kamu tidak takut dengan saya?" tanya gadis itu.


Bohong jika dia mengatakan tidak buktinya ia masih belum bisa mengatur detak jantungnya saking syoknya.


"Banyak yang terjadi di dalam hidup saya. Saya menyuruh kamu pergi agar kamu tidak melihat saya saat seperti ini. Kenapa kamu tidak pergi?" tanya gadis itu lagi yang perlahan-lahan mulai berubah kembali menjadi normal layaknya manusia pada umumnya.


"Bukankah aku sudah bilang aku tidak bisa pergi." kata Saga dengan menundukkan kepalanya dan berusaha agar tidak mengeluarkan air matanya.


Ia juga tidak tahu apa yang terjadi dengannya tapi yang ia rasakan hanyalah kesedihan yang mendalam saat melihat wajah gadis itu.


"Tatap saya." kata gadis itu yang membuat Saga menggelengkan kepalanya.


"Saya bilang tatap saya kenapa kamu sangat keras kepala hah." kata gadis itu yang membuat Saga mulai mengangkat kepalanya perlahan.


Ia kembali terkejut melihat penampakan gadis itu yang sudah berubah normal. Ia bernafas lega dan baru bisa menetralkan jantung dan mengatur nafasnya. Ia mengelap keringatnya yang masih mengalir.


"Sudah."kata gadis itu dengan menatap Saga seksama.


"Ini sudah sore nanti gendis mencari kamu. Lebih baik ayo pulang saja." lanjutnya yang membuat Saga langsung tersadar dan melihat jam tangannya.


"Cepatlah kamu tidak tahu kalau gendis sudah marah." kata gadis itu yang membuat Saga beranjak.