
"Ah kalian sudah datang... bagaimana keadaan mu?" tanya pak Ghani pada Dini.
"Alhamdulillah pak sudah baik-baik saja." jawab Dini dengan tersenyum.
"Duduk dulu." kata pak Ghani.
Mereka pun berbicara dengan seriusnya tentang masalah yang tengah keempat remaja itu hadapi. walaupun ada rasa sedikit takut ketika dia mengungkapkan sesuatu yang selama ini dia tahu tapi ia mengubah pola pikirnya dan akhirnya menceritakan apa saja yang sudah ia temukan dulu pada keempat remaja itu.
"Apa sih yang mereka bicarakan kok saya tidak tahu. Kamu memakai mantra ya agar saya tidak bisa mendengarnya?" kata Mia yang terus menerus kesana kemarin berharap dia akan mendengar sesuatu namun nyatanya tidak sama sekali.
"Ya walaupun bapak tidak bisa membantu lebih dan semua itu tergantung pada kalian. Tapi bapak ingatkan sekali lagi, apa yang tengah kalian lakukan benar-benar sangat berbahaya." kata Pak Ghani.
"Kami akan mengusut tuntas kasus itu pak." kata Raja yang di angguki oleh semua sehingga membuat pak Ghani hanya tersenyum kecil saja melihat keyakinan mereka.
Siang itu mereka kembali dan singgah sebentar di warung lesehan yang mereka temui di jalan. untuk pertamakali Raja makan di tempat seperti itu tapi karena ia juga ingin mencoba hal baru, jadi ia berusaha untuk tidak mempermasalahkannya.
"Raja tidak masalah kan jika makan di tempat seperti ini?" tanya Alin.
"Ck kau pikir aku sangat pemilih makanan." kata Raja dengan duduknya dan langsung memesan makanan.
Melihat bagaimana tingkah raja membuat semuanya hanya menggelengkan kepalanya saja sambil terkekeh. Mereka memesan ayam penyet dan lele goreng serta es teh manis. begitu makanan datang raja langsung saja menyantap tanpa menghiraukan yang lainnya tapi setelah dua suapan laki-laki tersedak makanan sehingga mengundang gelak tawa temannya.
"Makannya bismillah dulu hahaha." kata Alin dengan menepuk punggung Raja .
Malam harinya saat akan tidur, Saga merasa ada seseorang yang terus mengawasinya. Ia nampak heran dan bingung dengan perasaannya mengingat dirinya tengah berada di dalam kamar. Tapi karena rasa penasarannya akhirnya ia pun membuka jendela kamarnya dan tiba-tiba saja sebuah angin masuk seakan mendorong Saga hingga ia terlentang di atas tempat tidurnya tanpa bisa bergerak ataupun berbicara.
Jendelanya juga menutup sendiri serta sesuatu yang menimpa tubuhnya persis seperti yang sering ia alami di mimpi tapi bedanya saat itu Saga masih dalam keadaan sadar.
Bayangan hitam yang sangat besar mencekiknya dengan sangat keras hingga dia kesulitan bernafas. kalung yang dia pakai juga terus bergetar dengan hebatnya.
"Kau menantang ku, itu artinya kau mengundang kematianmu sendiri." sebuah suara yang Saga dengar membuatnya sebisa mungkin melepaskan cengkraman di lehernya tapi tetap tidak bisa.
Sosok tersebut mengangkat tubuh Saga dan membantingnya ke lantai dengan kerasnya. Saga merasakan jika seluruh tulangnya remuk tak terbentuk. Tapi tentu ia tidak akan menyerah begitu saja.
"Allahuakbar...." teriak Saga dengan menendang sosok hitam itu sehingga langsung terlempar keluar melalui jendela.
Ia terus mengucapkan istighfar dengan mengelus dadanya. Keringatnya sebesar biji jagung. Ia juga merasakan seluruh tubuhnya benar-benar remuk tak terbentuk. Mia muncul dengan raut wajah khawatirnya.
"Kamu tidak papa kan? Saga teman-teman mu..." ucap Mia yang membuat Saga langsung beranjak mengambil ponselnya dan menghubungi semua teman-temannya.
Di lain sisi di tempat Raja tepatnya di kamar laki-laki itu juga mengalami hal yang sama seperti Saga. Ia mengatur nafasnya dan menenangkan dirinya. walaupun ia sudah tahu resiko saat memutuskan untuk membantu Saga dalam menyelesaikan kasus 2005 tapi ia benar-benar tidak membayangkan akan mengalami hal ini.
"Ga, gue...." ucap Raja dengan melihat wajah Saga yang terlihat kacau sama persis dengan dirinya.
Wajah Dini dan Alin pun muncul secara bersamaan dan mereka mengalami hal yang sama. Sungguh dalam hal seperti ini Saga merasa sakit melihat bagaimana teman-temannya ikut merasakan imbasnya karena terlibat dalam masalah itu.
"Ya aku juga." timpal Alin yang di angguki oleh Raja.
"Syukurlah...apakah dia mengatakan sesuatu pada kalian?" tanya Saga.
"Entahlah aku tidak terlalu mendengarkan apa yang dia bicarakan." jawab Raja
.
.
.
Seperti biasanya di hari senin semuanya akan berbaris rapi mengikuti upacara tapi yang membuat Saga aneh dan heran karena kalungnya terus saja bergetar entah apa yang terjadi, tapi Saga hanya tahu satu hal jika kalung itu bergetar.
"Apakah dia ada disini." gumam Saga dengan memperhatikan sekitarnya
Mia memperhatikan gerak gerik Saga dengan seksama dan pandangnya langsung tertuju pada seorang wanita tapi dia tidak memberitahu Saga dan hanya menyuruh Saga berhati-hati begitupun juga dengan semua teman-temannya.
"Dia..." gumam Dini ketika melihat barisan para guru dan salah satunya ada wajah yang tidak asing di matanya.
Tiba-tiba ia merasakan perutnya sakit dan kepalanya pusing setelah secara tak sengaja tatapan matanya bertemu dengan guru tersebut.
Dini pingsan di susul dengan beberapa siswa yang ada di barisannya. Suasana upacara bendera yang tadinya berjalan dengan lancarnya sekarang justru sebaliknya. Hampir ada 15 orang siswa yang pingsan dan akhirnya Saga sebagai pemimpin upacara membubarkan barisan dan langsung ikut membantu siswa yang pingsan untuk di bawa ke UKS dan kelas terdekat.
Mereka terbangun dan kemudian langsung berteriak tidak jelas seperti orang gila. Lagi-lagi kesurupan masal terjadi lagi di sekolah tersebut. dengan langkah panjangnya Dini menghampiri Saga dan langsung mendorong Saga sehingga membuat laki-laki itu tersungkur.
Dini berusaha mencekik Saga dan melontarkan ucapan kasar yang seharusnya tidak di ucapkan siswa sekolah. Raja membantu menjauhkan Dini tapi ia juga ikut di cekik oleh Dini. Semuanya panik karena kondisi tidak terkendali hingga pak San datang yang membuat semuanya bernafas lega karena pada akhirnya bisa di atasi satu persatu.
Dari kejadian itu Saga menyimpulkan jika kejadian yang dia dan teman-temannya alami juga berhubungan dengan kesurupan masal di sekolahnya. mereka berbicara dengan seriusnya ruang lab sekolah dan memutuskan akan ke sekolah pada malam harinya mengingat nanti malam adalah malam Selasa Kliwon.
"Gaes aku rasa aku menemukan sesuatu." ucap Saga dengan menunjukkan monitornya pada teman-temannya.
"Aku menyimpulkan sesuatu dan mendapatkan hasil seperti ini. " lanjutnya.
"Apa maksudnya?" tanya Alin tidak paham.
"Apakah yang kau maksud korban selanjutnya kemungkinan yang kau garis merahi ini?" tanya Raja yang membuat kedua gadis itu terkejut.
"Yapps benar sekali. coba kau buka data siswa yang pernah aku kirim padamu ja." kata Saga.
"Kau lihat lagi jika semua korban lahir pada tanggal berurutan bukan. Dan beberapa siswa yang meninggal kemarin...." ucap Saga yang membuat Raja menatapnya.
Bohong jika Raja tidak mengakui Saga anak yang cerdas. Ia memang sering mengagumi kecerdasan Saga tapi karena Raja memiliki gengsi yang sangat besar, ia pun hanya bisa berpura-pura seperti ia sangat membenci Saga walaupun sebenarnya tidak sama sekali, apalagi mengingat kejadian Dini hilang di hutan dan mendengar suara adzan nya membuat ia tidak bisa mengelak lagi jika ia memang sangat mengagumi sosok Saga.